You cannot copy content of this page

Menjadi Narasumber Pertemuan Akuntabilitas Publik Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus

Berpose bersama usai acara Pertemuan Akuntabilitas Publik Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus

Isu kesehatan ibu dan anak begitu ‘seksi’ di tengah masih tingginya angka kematian ibu melahirkan (AKI) dan angka kematian bayi baru lahir (AKB). Perlu upaya-upaya serius dan berkelanjutan untuk menekan AKI dan AKB.

Pemerintah, melalui dinas terkait, harus merespons dan pro-aktif untuk mendesain program-progam penyelamatan dalam rangka menekan laju AKI dan AKB. Namun, peran serta masyarakat penting dan harus dilibatkan. Dari masyarakatlah berbagai problem sosial, termasuk problem kesehatan, muncul. Maka logisnya, mereka pula yang akan secara efektif dapat memecahkan dan keluar dari seabreg problem sosial yang melilit mereka..

Tugas pemerintah hanya mendorong, mengarahkan, dan memfasilitasi. Harus ada komunikasi, interaksi, dan ayunan langkah yang padu nan harmonis antara pemerintah dan masyarakat, sehingga problem-problem apapun dapat teratasi dengan jitu.

Nah, dalam rangka penyelamatan ibu dan bayi baru lahir di Kabupaten Kudus sekaligus guna meningkatkan pemberdayaan masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus menggelar pertemuan akuntabilitas publik pada Senin (27/2/2017) di Graha IBI, Perum Bali Residence, Jl. Ekapraya Gg. 1, Rendeng, Kudus.

Pertemuan itu dihadiri perwakilan organisasi masyarakat sipil di Kudus seperti Muslimat NU, Aisyiyah, Fatayat, PKK, GOW, IPPNU, dan lainnya; perwakilan organisasi profesi seperti IDI dan IBI; serta perwakilan perguruan tinggi se-Kudus.

Saya, dalam kapasitas sebagai sekretaris Forum Masyarakat Madani Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (FMM KIA), diundang sebagai narasumber dalam acara tersebut, bersama rekan saya Eko Pujiyono dari Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan.

Dalam acara tersebut, saya banyak berbicara tentang peran-peran yang dapat dimainkan oleh civil society maupun civic forum (forum masyarakat sipil) dalam ikut serta menyukseskan program penyelamatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir.

Sepintas apa yang saya sampaikan, di antara saya menyampaikan dua peran yang bisa dimainkan oleh civic forum. Pertama; unit respons emergency.

Masyarakat melalui basis-basis komunitas bisa melakukan peran ini, misalnya dengan melakukan invenntarisasi, identifikasi, edukasi, perencanaan, dan pendampingan ibu hamil; penggalangan mobil siaga, donor darah, infaq bersalin, rumah tunggu, dan lain sebagainya.

Kedua; advokator. Masyarakat, baik dalam level individu maupun level wadah yang terorganisir dalam civic forum,  bisa melakukan advokasi kepada pemerintah di berbagai jenjang untuk peduli dan pro terhadap kesehatan ibu dan anak.

Kepedulian itu bisa diwujudkan dalam bentuk kebijakan, seperti perdes, perda, alokasi dana, dan sebagainya.

Intinya, masyarakat perlu dimobilisasi dan dibuka nuraninya untuk peduli terhadap isu-isu kesehatan ibu dan anak, dan bergerak bersama untuk penyelamatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir sekaligus meningkatkan derajat kesehatan mereka.

Semoga bermanfaat.* (kangasti.com)

 

 

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Comments

November 14, 2018 at 12:07 am

Excellent post. І was checking ϲonstantly this blog ɑnd I am impressed!

Extremely useful info рarticularly the lаst
part 🙂 Ӏ care foг suⅽh info mᥙch. I was ⅼooking fⲟr this particuⅼɑr іnformation fоr a lߋng tіme.

Τhank yօu and best of luck.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *