Plagiarisme dan Etika Mengutip Sumber

Tahun 2009, saya menulis buku berjudul Jejak 101 Tokoh Islam Indonesia, bersama adik saya Badiatul Roziqin, dan rekan saya Junaidi Abdul Munif. Di dalam buku itu berisi riwayat hidup 101 tokoh Islam Indonesia yang memiliki kontribusi bagi perkembangan Islam di tanah air dan juga bagi kemajuan bangsa Indonesia secara umum. Buku itu diterbitkan oleh penerbit E-Nusantara Yogyakarta.

Salah satu tulisan di buku itu, yakni profil KH. Zainul Arifin, kebetulan yang saya tulis, sempat menuai protes dari Bapak Ario Helmy, salah seorang ahli waris (cucu) dari KH. Zainul Arifin. Intisari protes itu meliputi dua hal: Pertama; di dalam tulisan itu, ada narasi (sekitar satu atau dua alinea) yang saya kutip dari sebuah sumber, yang kebetulan sumber itu adalah karyanya, namun saya tidak mencantumkan asal sumbernya.

Kedua; di bagian lain tulisan itu, saya mengutip sebuah sumber, dari sumber lainnya lagi, namun menurutnya, sumber itu datanya tidak valid, sehingga kemudian saya ‘dituduh’ telah membuat fitnah dan pelecehan terhadap KH. Zainul Arifin.

Menanggapi protes itu, sebagai penulis saya harus bersikap ksatria, mau berlapang dada meminta maaf, bila memang saya bersalah; dan memberikan penjelasan seperlunya bila diperlukan, tentu dengan penjelasan yang logis, argumentatif, dan realistis, dalam arti tidak dibuat-buat. Ketika itu, saya menulis surat tanggapan yang saya kirim via e-mail ke Pak Ario Helmy.

Alhamdulillah, dengan surat tanggapan yang kami kirimkan itu, Bapak Ario Helmy dapat menerima penjelasan kami. Bahkan tak lama setelah itu, secara pribadi saya diundang untuk menghadiri Perayaan 1 Abad KH. Zainul Arifin di Hotel Borobudur, Jakarta. Namun sayang, saya tidak bisa hadir karena saya sudah ada acara lain yang tidak bisa saya tinggalkan.

* * *

Cover buku 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia

Dari kisah di atas, saya mendapatkan pelajaran berharga, salah satunya tentang etika mengutip sumber. Dalam penulisan karya ilmiah, termasuk karya ilmiah populer, mengutip sumber merupakan keniscayaan. Namun untuk menghindari plagiarisme dan kemungkinan pelanggaran hak cipa penulis lain, seorang penulis harus cermat dan teliti dalam pengutipannya, termasuk memperhatikan etika pengutipan sumber. Dalam arti kata lain, mengutip sumber luar dalam penulisan karya ilmiah, termasuk karya ilmiah populer, sangat boleh dilakukan, bahkan dianjurkan. Namun, penulis harus jujur dalam pengutipan.

Ada setidaknya tiga etika pengutipan sumber yang harus diindahkan oleh penulis, sebagaimana yang disebutkan oleh Wishnubroto Widarso dalam bukunya Pengalaman Menulis Buku Nonfiksi (Kanisius, 2001), yakni:

Pertama; cocok atau pas dengan persoalan/hal yang sedang dibahas/diterangkan.

Kedua; jujur, artinya apa pun yang dikatakan pengarang/penulis yang kita kutip harus kita katakan seperti apa adanya.

Ketiga; terbuka, artinya kita katakan kepada pembaca siapa yang mengatakan kata-kata-kata bijak atau ungkapan penuh makna Itu.

Mengutip sumber, tanpa menyebutkan dengan jujur dan terbuka sumbernya, dapat membuat seorang penulis berhadapan dengan hukum, dengan dakwaan pelanggaran terhadap Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

Bila sumber itu disebutkan dengan jujur dan terbuka, seorang penulis bisa terlepas dari dakwaan itu, pabila memang kutipan itu memang sewajarnya atau seperlunya. Pasal 15 butir a Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002, menyatakan, “Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan, tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta. Penggunaan ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta.

* * *

Karena itu, menarik sekali apa disampaikan oleh R. Masri Sareb Putra dalam bukunya How Write Your Own Textbook yang menyatakan bahwa mengolah sumber menjadi tulisan itu mirip dengan koki memasak capcay. Capcay berarti: sepuluh sayur. Katakanlah, bahan capcay adalah jamur, daging ayam, tepung, kubis, wortel, sawi, udang telor, vetsin, dan garam. Semuanya ada sepuluh bahan dan bahan-bahan itu kita beli di pedagang sayur yang berbeda.

Nah, ketika dihidangkan, si pedagang sayur tidak bisa mengatakan, “Itu jamur dan sawi saya!” Mengapa? Sebab hidangan itu bukan seperti bahan asli, namanya sudah bukan jamur dan sawi lagi. Ketika sudah dihidangkan, namanya cap cay, sehingga pedagang sayur tidak bisa mengklaim bahan itu miliknya.

Lebih lanjut R. Masri Sareb Putra menyatakan, sejauh materi telah diolah, sedemikian rupa, menjadi rupa dan citarasa penulis, suatu sumber tulisan sudah tidak lagi berdiri sendiri. Ia hadir dalam konteks sebuah tulisan. Bahan itu menjadi bagian utuh bangunan yang bersistem. Itulah tulisan yang baik dan cara mengolah sumber yang benar.

Semoga bermanfaat. Selamat berkarya! * (Kangasti.com)

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Bilik Literasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *