You cannot copy content of this page

Berkunjung ke Desa Wisata Banjarejo: Menyusuri Jejak Empat Peradaban Dunia

Pagi mulai beranjak siang, matahari mendekap bumi dengan sinarnya yang hangat, saat sepeda motor yang saya naiki menyusuri jalan menuju Desa Banjarejo. Sejauh mata memandang, panorama kanan kiri adalah areal persawahan yang hijau bak hamparan permadani yang indah.

Suasana  pedesaan kental terasa saat saya telah memasuki perkampungan warga. Desa Banjarejo layaknya desa pelosok lainnya dengan suasana sunyi, namun membuncahkan suasana tenang penuh kedamaian. Tak ada hiruk pikuk atau kebisingan lalu lalang mobil seperti halnya di kota.

Semuanya seperti biasa-biasa. Serasa tak ada yang istimewa dari desa ini. Namun sekira satu tahun terakhir, desa ini telah menyedot banyak perhatian. Desa ini meroket namanya dan betul-betul nge-hits. Di media sosial, desa ini ramai diperbincangkan. Awak media cetak maupun elektronik pun berbondong-bondong datang untuk meliput dan merilis pesona desa ini.



Berawal dari Sebuah Kepedulian

Sambil mengendarai motor, pikiran saya pun kemudian melayang ke sekira dua tahun lalu, di bulan Agustus 2015. Saat itu saya datang bersama rombongan komunitas Grobogan Corner yang saya nahkodai ke desa ini dalam rangka susur wisata. Ketika itu, tentu, Desa Banjarejo belum apa-apa. Belum nge-hits seperti sekarang.

Saat itu, tujuan susur wisata kami ke desa ini adalah mengunjungi situs Batu Pasujudan yang berada di Medang, salah satu dusun di Desa Banjarejo. Di dusun ini memang terdapat sebuah situs berupa sebongkah batu yang diyakini sebagai peninggalan tokoh legendaris nusantara: Aji Saka.

Grobogan Corner Kupas Legenda Aji Saka. Suara Merdeka, edisi Selasa, 11 Agustus 2015

Desa Banjarejo memang telah puluhan tahun lekat dengan legenda Aji Saka dan Prabu Dewata Cengkar dengan sebuah kerajaan bernama Medang Kamolan. Cerita legenda itu tertutur secara turun-temurun dan menjadi cerita legenda yang sangat populer di Indonesia, terutama terkait dengan kisah penemuan huruf Jawa.

Meski masih perlu didiskusikan lagi sebagai sebuah fakta sejarah, namun setidaknya di Desa Banjarejo sejauh ini telah sering ditemukan berbagai benda-benda kuno seperti guci, perhiasan, dan koin beraksara Cina.

Sayangnya serentetan penemuan itu selama ini sama sekali tidak mendapatkan perhatian. Warga yang menemukan benda-benda kuno yang sebenarnya bernilai sejarah tinggi itu kemudian menjualnya. Bahkan miris ketika saya mendengar cerita bahwa koin-koin itu dijual kiloan dengan harga amat murah, kecuali perhiasan emas seperti cincin dan anting yang dijual relatif lebih mahal.

Legenda besar yang lekat dengan Desa Banjarejo di satu sisi, sedang di sisi lain tidak ada kepedulian terhadap penemuan benda-benda kuno itu, menjadikan kami di komunitas Grobogan Corner tergerak dan berinisiasi untuk mendorong diangkat dan dibangkitkannya kembali legenda besar itu sebagai sebuah sumber edukasi dan pengetahuan yang amat penting untuk masyarakat, terlebih-lebih untuk generasi muda.

Perlu Dibangun Museum Lokal Banjarejo. Suara Merdeka, edisi Selasa, 15 September 2015

Apalagi, setelah susur wisata kami itu, sekira sebulan kemudian saya mendapatkan informasi penemuan tanduk kepala kerbau raksasa di Desa Banjarejo. Saat itulah, kemudian saya bersama teman-teman komunitas dan beberapa teman wartawan lokal Grobogan terlibat dalam serangkaian advokasi agar pihak-pihak terkait peduli terhadap penemuan-penemuan itu.

Serangkaian penemuan benda-beda purbakala kembali terjadi di Desa Banjarejo. Yang terheboh ketika itu adalah penemuan benda mirip pondasi bangunan di tengah areal persawahan warga. Banyak yang menduga pondasi itu merupakan bekas Kerajaan Medang Kamolan yang selama ini memang diyakini berada di Desa Banjarejo .

Banyaknya penemuan benda-benda purbakala di Banjarejo, membuat saya dan teman-teman mengusulkan agar seluruh benda-benda kuno atau purbakala itu tetap dipertahankan untuk kemudian disimpan di Desa Banjarejo, karena ke depan sangat potensial untuk diinisiasi berdirinya sebuah museum di Desa Banjarejo.

Pemkab Diminta Tanggap. Temuan Bagian Bangunan Kuno di Banjarejo. Suara Merdeka, edisi Sabtu, 17 Oktober 2015
Benda Bersejarah Dititipkan. Jawa Pos Radar Kudus, edisi Senin, 19 Oktober 2015

Alhamdulillah, serangkaian advokasi dan support dari banyak pihak, terutama berkat respons hebat, kegesitan, dan jiwa kepeloporan Kepala Desa Banjarejo Achmad Taufik, Desa Banjarejo kini telah menjelma menjadi magnet baru wisata di Kabupaten Grobogan.

Bahkan desa ini secara resmi telah menyandang predikat sebagai “Desa Wisata” yang dilaunching secara resmi oleh Bupati Grobogan Hj. Sri Sumarni, SH, MM pada Kamis, 27 Oktober 2016 lalu di balai desa setempat.

Bupati Grobogan Hj. Sri Sumarni, SH, MM saat melaunching Desa Wisata Banjarejo. Foto dari Radar Pekalongan

Sebelum resmi ditetapkan sebagai Desa Wisata, Kepala Desa Achmad Taufiq dengan dukungan dari banyak pihak antara lain Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMP), telah menjadikan ruangan depan rumahnya yang cukup luas sebagai tempat penyimpanan sementara aneka penemuan fosil dan benda-benda purbakala lainnya dengan sebutan “Rumah Fosil Banjarejo”.

Pendirian Rumah Fosil Banjarejo, kemudian pengukuhan sebagai Desa Wisata, menjadikan Desa Banjarejo sebagai desa wisata edukasi purbakala dan budaya semakin terlihat geliatnya dan benderang sinarnya di kancah pariwisata lokal.

Aneka pemberitaan media, baik cetak maupun elektronik, serta posting di berbagai media sosial, yang cukup gencar dan bertubi-tubi, telah membuat Desa Wisata Banjarejo makin cetar membahana dan memantik minat wisatawan, baik lokal maupun manca, untuk berkunjung ke Desa Wisata Banjarejo.

Sekilas Desa Banjarejo

Desa Banjarejo merupakan salah satu desa di Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah. Desa kecil ini memiliki luas 1.320 Ha, terbagi ke dalam 7 dusun, yaitu Barak, Kuwojo, Peting, Ngrunut, Nganggil, Medang, dan Kedungjati, dengan jumlah penduduk sekira 6.255 jiwa.

Kantor Desa Banjarejo. Foto dari Achmad Taufik

Menurut saya, desa ini terkategori pelosok karena cukup jauh dari jalan raya, yakni sekira 10 kilometer dari jalan raya Purwodadi-Gabus. Jadi suasana pedesaan benar-benar masih terasa ketika berada di desa ini. Hamparan sawah luas nan hijau membentang mengelilingi desa ini, menghadirkan panorama yang sedap di jiwa, yang sekali-kali tak akan pernah dijumpai di kota.

Jalan menuju Desa Banjarejo. Foto oleh Kang Asti

Rumah-rumah warga dengan arsitektur tradisional berderet rapi mengikuti alur jalan dengan orientasi utara dan selatan. Sebuah tradisi leluhur yang masih dilestarikan hingga kini.

Satu hal lagi yang selalu saya perhatikan setiap kali berkunjung ke desa ini adalah adanya gundukan jerami yang menyerupai gunungan kecil di halaman rumah beberapa warga Desa Banjarejo. Sekilas mirip iglo, rumah orang eskimo, atau rumah-rumah adat di pedalaman Irian Jaya. Melihatnya terasa begitu artistik mencirikan nuansa pedesaan yang kental.

Gundukan jerami itu ternyata adalah tandon (persediaan) pangan untuk binatang ternak yang memang banyak dipelihara oleh warga Desa Banjarejo.

Gundukan jerami sebagai tandon pakan ternak. Foto oleh Kang Asti

Di atas semua itu, Desa Banjarejo adalah sebuah wilayah yang menyimpan potensi kekayaan cagar budaya yang menakjubkan. Potensi kekayaan masa lalu itu telah terbukti dengan serentetan penemuan benda-benda purbakala di Desa Banjarejo.

Potensi cagar budaya dari masa pra sejarah dapat diketahui dari temuan fosil-fosil fauna, seperti tanduk kepala kerbau purba, gading gajah purba, cangkang kerang raksasa, dan lain sebagainya.

Sementara tinggalan dari masa Hindu-Buddha sampai masa Islam dapat dilihat dari temuan lesung, pipisan, gandik, yoni, peti mati kayu, uang kepeng Cina, perhiasan-perhiasan dari emas, dan fragmen guci, keramik, tembikar, dan struktur batu bata di Dusun Medang.

Melimpahnya temuan-temuan arkeologis di desa ini, baik secara kuantitas maupun kualitas, menurut para peneliti yang datang ke desa ini, menunjukkan kehidupan yang dinamis dan hunian dengan masa tempuh yang sangat panjang. Di balik suasana pedesaan yang kental layaknya pedesaan yang lainnya, Desa Banjarejo ternyata telah gempita dengan kehidupan sejak berabad-abad yang silam.

Legenda Aji Saka dan Prabu Dewata Cengkar

Sebagai putra asli daerah Grobogan, sejak kecil saya telah akrab dengan dongeng legenda tentang sebuah kerajaan bernama Medang Kamolan, yang diyakini pernah eksis di Dusun Medang, Desa Banjarejo. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang kejam bernama Prabu Dewata Cengkar.

Raja lalim itu konon penyuka masakan berbahan daging yang tidak hanya ekstrim, tapi mbah’e ekstrim, yakni daging manusia.

Diceritakan, Prabu Dewata Cengkar sebenarnya adalah salah seorang putra mahkota dari Prabu Sindulaya Sang Hyang Prabu Watu Gunung, pemimpin Kerajaan Galuh yang berpusat di Jawa Barat. Ketika itu, konon tanah Jawa dikuasai oleh Kerajaan Galuh yang saat itu begitu masyhur.

Namun sosok Dewata Cengkar sangat tidak disukai oleh rakyat Kerajaan Galuh karena perilakunya yang suka pesta pora, sering bertindak kasar dan berbuat aniaya terhadap rakyat kecil. Perilaku Dewata Cengkar yang tidak terpuji itu diketahui Prabu Sindulaya yang menjadikannya amat murka.

Prabu Sindulaya pun segara memanggil Dewata Cengkar dan mengultimatum keras agar Dewata Cengkar mengubah sikapnya. Atau kalau tidak mau mengubah sikapnya, maka ia harus pergi meninggalkan istana.



Ternyata, pilihan terakhir yang dipilih Dewata Cengkar. Bersama beberapa pengikut setianya, ia pergi meninggalkan istana. Dewata Cengkar dan pengikutnya pergi ke arah timur, hingga kemudian mereka tiba di suatu tempat di pegunungan Kendeng, yang berhadapan dengan teluk Lusi.

Melihat tempat yang bagus dan strategis itu, Dewata Cengkar membangun sebuah bangunan sebagai istananya, lalu mengangkat dirinya menjadi raja dengan sebutan Prabu Dewata Cengkar. Kerajaan itu mereka namakan Medang Kamolan.

Bertahun-tahun kemudian, masyhurlah Kerajaan Medang Kamolan pimpinan Prabu Dewata Cengkar itu. Sayangnya, Prabu Dewata Cengkar, selain dikenal lalim dan bengis, juga memiliki kesukaan yang aneh, yakni gemar makan daging manusia.

Satu per satu rakyat Medang Kamolan menjadi santapan sang raja. Sehingga membuat rakyat menjadi resah dengan kebiasaan rajanya itu. Hingga datanglah seorang ksatria muda yang tak diketahui dari mana datangnya. Ksatria muda yang kemudian dikenal sebagai penyiar agama itu bernama Aji Saka.

Aji Saka menyediakan dirinya sebagai santapan raja, dengan satu syarat, sebelum Prabu Dewata Cengkar menyantapnya, ia meminta sepetak tanah di alun-alun Medang Kamolan seluas sorban di kepalanya.

Permintaan itu spontan disanggupi oleh Prabu Dewata Cengkar karena dianggapnya sepele. Dengan disaksikan para petinggi kerajaan dan seluruh rakyat Medang Kamolan, Aji Saka pun membuka sorbannya, memegang ujung utara, dan sang prabu memegang ujung selatan.

Mereka mulai mengukur, namun ternyata sorban tersebut sangat panjang, bahkan tidak habis-habisnya saat ditarik. Sang prabu pun menyerah kalah dan akhirnya menyerahkan Kerajaan kepada Aji Saka asalkan dirinya dibiarkan hidup.  Namun rakyat menghendaki lain. Mereka menghendaki agar Prabu Dewata Cengkar dibunuh sebagai penebus perbuatannya selama ini yang telah membuat rakyat resah dan menderita.

Dikisahkan, Aji Saka pun kemudian mengibaskan sorbannya dan tubuh Dewata Cengkar pun terpelanting jauh hingga ke tengah samudra, lalu hilang ditelan ombak. Konon, Prabu Dewata Cengkar kemudian menjelma menjadi bajul putih, yang kelak akan bertarung dengan anak Aji Saka yang berbentuk ular raksana bernama Jaka Linglung.

Setelah itu, rakyat Medang Kamolan bersorak gembira dan mengangkat Aji Saka sebagai raja di Medang Kamolan. (Sumber: Ensiklopedi Toponimi Kabupaten Grobogan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, 2015).

Sehari di  Desa Wisata Banjarejo

Ada apa saja di Desa Wisata Banjarejo? Foto dari Achmad Taufik

Tak terasa, akhirnya motor yang saya naiki sampai di rumah Kepala Desa Banjarejo, yang di rumah inilah Rumah Fosil Banjarejo berada. Saya segera memarkir sepeda motor dan bergegas menuju pintu masuk. Seseorang menyambut saya dengan ramah dan mempersilahkan masuk.

Begitu saya masuk ke rumah itu, sejauh mata memandang, saya langsung melihat koleksi fosil dan benda-benda kuno yang ditata rapi di atas meja dan di dalam etalase. Inilah pesona pertama Desa Wisata Banjarejo yang ingin saya bagikan kepada Anda, simak baik-baik ya!

  1. Rumah Fosil Banjarejo

Bayangkanlah kehidupan di masa lalu, beribu-ribu, atau bahkan beratus-ratus ribu tahun yang lalu. Bagaimana keadaannya ya? Terkadang tanya itu membuncah dan memantik rasa penasaran.

Maka, saya katakan, Rumah Fosil Banjarejo sedikit banyak akan menjadi penawar dahaga penasaran kita akan kisi-kisi kehidupan di masa silam. Karena potensi kekayaan masa silam yang dimiliki Desa Banjarejo begitu kaya dan luar biasa.

Bahkan tidak tanggung-tanggung. Menurut peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto, setidaknya ada empat era peradaban yang pernah ada di wilayah Banjarejo berdasarkan dari benda-benda yang sudah ditemukan warga.

Pertama; era purba yang dibuktikan dengan adanya penemuan fosil hewan purba. Salah satunya, kepala kerbau berukuran besar yang diperkirakan berusia 5.000 tahun.

Kedua; peradaban kuno era Megalitikum. Hal ini ditandai dengan penemuan peralatan dari batu, seperti lesung, pipisan, gandik, dan yoni.

Ketiga; peradaban pada era Hindu-Budha. Indikasinya, adanya penemuan peti mati dari kayu, uang kepeng Cina, aneka perhiasan emas, dan guci dari keramik.

Keempat; akhir era Hindu-Budha dan awal masuknya Islam. Salah satu indikasinya adalah penemuan bangunan kuno yang tertata dari batu bata. Di mana ada penggunaan spesi dari tanah liat sebagai bahan perekat batu bata merupakan salah satu ciri bangunan pada era awal masuknya Islam.

Menurut Sugeng, peradaban yang ada di Desa Banjarejo memang komplit. Di daerah situs lain, biasanya hanya terdapat satu atau dua era saja yang ditemukan.

Nah, bila Anda berkunjung ke Rumah Fosil Banjarejo, maka Anda akan dapat melihat jejak-jejak masing-masing peradaban itu melalui fosil atau benda-benda purbakala yang kini telah tertata rapi. Antara lain sebagai berikut:

  • Fosil Tanduk Kepala Kerbau Purba
Tanduk Kepala Kerbau Purba. Foto oleh Kang Asti

Ada fosil tanduk kepala kerbau purba yang ukuran panjang tanduk dari ujung sisi satu ke sisi lain mencapai 115 cm dengan lebar 17 cm. Panjang kepala 65 cm dengan lebar 35 cm.

  • Fosil Tanduk Banteng Purba
Tanduk Banteng Purba. Foto oleh Kang Asti

Fosil langka ini ukurannya lumayan besar. Panjang antarujung tanduk mencapai 80 cm. Kemudian tinggi tulang bagian kepala mencapai 25 cm dengan lebar 20 cm. Sedangkan panjang tiap tanduk sekitar 45 cm.

  • Fosil Kerang Raksasa Purba
Kerang Purba. Foto oleh Kang Asti
  • Gading Gajah Stegodon Purba
Gading Gajah Stegodon Purba. Foto oleh Kang Asti
  • Keris Pusaka dan Uang Kepeng Cina
Keris Pusaka dan Uang Kepeng Cina. Foto oleh Kang Asti
  • Aneka Perhiasan Emas

Penemuan perhiasan emas menjadi fenomena menakjubkan di Desa Banjarejo. Salah satu koleksi perhiasan emas di Rumah Fosil Banjarejo adalah perhiasan emas berbentuk replika bunga padma.

Perhiasan emas berbentuk replika bunga padma. Foto oleh Kang Asti

Kepala Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Tri Hartono menuturkan, bunga padma lazim digunakan pada masa Hindu. Bunga Padma dalam sudut pandang Hindu melambangkan kesucian. Diperkirakan, perhiasan yang ditemukan itu umurnya sudah ratusan tahun.

Dan lain-lain, masih banyak lagi koleksi yang dapat kita saksikan di Rumah Fosil Banjarejo.

Aneka cincin yang diduga milik bangsawan kerajaan. Foto oleh Kang Asti
Ratusan fosil tertata di atas meja. Foto oleh Kang Asti
Beberapa peralatan dari batu. Foto oleh Kang Asti
Guci. Foto oleh Kang Asti
Aneka guci dan mangkuk dari keramik. Foto oleh Kang Asti
  1. Situs Medang

Situs ini sudah lama ada, jauh sebelum Rumah Fosil Banjarejo didirikan. Terletak di Dusun Medang, Situs Medang berupa sebongkah batu yang masyarakat menyebutnya sebagai Batu Pasujudan Aji Saka.

Di Batu Pasujudan Aji Saka bersama juru kunci Bapak Busroni. Foto oleh Kang Asti
  1. Buran Londo

Objek ini menjadi komplemen dari rangkaian wisata di Desa Wisata Banjarejo. Buran Londo, begitu objek ini disebut, adalah bekas pengeboran minyak peninggalan Belanda di masa kolonial.

Berpose di Buran Londo di siang yang terik bersama Kepala Desa Banjarejo Achmad Taufik (kanan). Foto oleh Kang Asti





Oleh Kepala Desa Banjarejo Achmad Taufik bersama warga setempat, Buran Londo yang berada di tengah-tengah areal persawahan dan perkebunan tebu milik warga, ‘disulap’ menjadi objek wisata, melengkapi wisata edukasi purbakala dan budaya yang telah terepresentasi pada Rumah Fosil dan Situs Medang.

Launching objek wisata Buran Londo telah dilakukan pada 1 Januari 2017 lalu alias bersamaan dengan malam tahun baru. Hanya saja, peresmian Buran Londo sebagai objek wisata masih menyisakan tantangan terkait akses masuk menuju lokasi.

Buran Londo berlokasi di tengah areal persawahan dan perkebunan tebu, berjarak sekitar 2 kilometer dari perkampungan warga. Jalan dua tapak menjadi akses masuk satu-satunya.

Hari itu, saya menuju Buran Londo ditemani sahabat saya, Mas Dian, dan Kepala Desa Banjarejo Pak Achmad Taufik.

Karena malamnya habis hujan, maka jalan menuju Buran Londo begitu licin, becek, dan berlumpur. Kami tidak bisa meneruskan perjalanan dengan menggunakan sepeda motor ketika perjalanan kami ke Buran Londo tinggal sekira 500 meter lagi. Kami terpaksa berjalan kaki dan nyeker alias melepas sandal.

Namun begitu, sesampai lokasi Buran Londo, semuanya terbayar lunas. Saya puas menyaksikan Buran Londo dengan suara semprotan air berkadar minyak 0,3 persen itu. Meski saat sampai di lokasi, matahari sedang garang-garangnya menantang bumi dengan panasnya yang menyengat, saya tetap menikmati Buran Londo yang untuk pertama kalinya saya saksikan.

Pengunjung Buran Londo kebanyakan anak muda. Karena pengelola begitu kreatif mendesain Buron Londo dengan aneka spot yang kaya daya pikat untuk berfoto selfie. Berikut ini di antara penampakan jepretan para pengunjung yang berselfie ria di Buran Londo:

Foto dari Achmad Taufik
Foto dari Achmad Taufik
Foto dari Achmad Taufik

Sungguh menarik bukan? Yuk ke Desa Wisata Banjarejo!

  1. Patung Balung

Saya pamit pulang kepada Pak Kepala Desa Achmad Taufik ketika saya merasa telah seharian menikmati pesona Desa Wisata Banjarejo. Namun sebelum pulang, ada spot menarik untuk berfoto yang bisa menjadi kenangan, yang rugi bila dilewatkan. Yakni berfoto dengan latar belakang Patung Balung.

Patung Balung di halaman kantor Balai Desa Banjarejo. Foto oleh Kang Asti
Suatu ketika berpose di depan Patung Balung. Foto oleh Kang Asti

Balung adalah kepanjangan dari Bajul Putih (Bajul = buaya) dan Jaka Linglung. Jadi, Patung Balung merupakan simbolisasi yang menggambarkan perkelahian dahsyat antara Bajul Putih, yang dalam legenda merupakan penjelmaan dari Prabu Dewata Cengkar, dengan Jaka Linglung, yang dalam legenda diceritakan sebagai anak dari Aji Saka yang berwujud ular raksasa.

Patung ini berada di halaman Balai Desa Banjarejo. Sebuah kreativitas yang layak diapresiasi dan diacungi jempol. Top deh!

Mencicipi Kelezatan Kuliner Khas Grobogan

Tak lengkap rasanya datang ke sebuah daerah tanpa mencicipi kuliner khasnya. Maka, begitulah, seusai seharian berjibaku menikmati pesona wisata Desa Wisata Banjarejo, saat kembali pulang, saya mampir ke warung yang menyediakan berbagai kuliner khas Grobogan.

Banyak kuliner khas Grobogan yang bisa dicicipi, antara lain Becek, Garang Asem, Nasi Jagung, dan Ayam Pencok. Yang saya sebut terakhir ini merupakan kuliner khas Kuwu, Kradenan, yang tak jauh dari Desa Banjarejo.

Ayam Pencok khas Kuwu, Kradenan, Grobogan. Foto oleh Kang Asti.

Kuliner khas Grobogan ini sering juga disebut dengan Ayam Panggang Bledug, karena dulunya dibuat dengan tujuan untuk sesaji Mbah Bledug yang berada di kawasan objek wisata Bledug Kuwu. Disebut Ayam Pencok karena ayam panggang ini dimakan bersama Sambal Pencok. Sambal Pencok terbuat dari paduan kelapa muda yang diparut, cabai, terasi, bawang, dan kencur.

Ayam Pencok khas Kuwu ini bisa dijumpai di Warung Mbak Sri jago Muda, yang beralamat di Jl. Honggokusuman No. 45 Kuwu atau timur kantor UPTD Pendidikan Kecamatan Kradenan. Setahu saya, warung ini satu-satunya yang masih menyediakan menu Ayam Pencok.

Becek Khas Grobogan. Foto oleh Kang Asti




Di warung ini juga Anda bisa menikmati kuliner khas Grobogan lainnya, yakni Becek, yang lagi nge-hits dan dijamin bikin lidah mendesis keenakan saat menikmatinya. Meminjam istilah Pak Bondan Winarno, pokok’e mak nyuss.

***

Desa Wisata Banjarejo sebagai sebuah rintisan destinasi wisata edukasi memang masih banyak yang perlu dibenahi dan poles lagi. Akses jalan, penambahan atraction agar menambah daya pikat, insfrastruktur, dan lain-lain, masih perluk sentuhan lebih lanjut.

Butuh waktu, dan tentu, butuh biaya besar. Namun Desa Wisata Banjarejo telah berproses dan memulai dengan baik. Ke depan, semoga Desa Wisata Banjarejo semakin sukses dan benar-benar bisa menjadi jujugan wisata edukasi purbakala dan budaya di Jawa Tengah yang membanggakan.

Yuk, berkunjung ke Banjarejo!* (Kang Asti)

 

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *