You cannot copy content of this page

Cerita Lebaranku, Tiga Hari yang Memberdayakan (1)

Mudik. Sumber foto dari bontang.prokal.co

Pakar psikologi komunikasi, Dr. Jalaluddin Rakhmat atau yang akrab disapa Kang Jalal, dalam bukunya Islam Aktual (1999) menyebutkan bahwa perjalanan mudik sebagai sebuah perjalanan melintas waktu. Mereka tengah membawa masa kini mereka ke masa lalu, supaya memperoleh kekuatan buat menempuh masa depan.

Dengan mudik, kata Kang Jalal lebih lanjut, orang-orang yang sudah kehilangan dirinya dalam hiruk pikuk kota, ingin menemukan kembali masa lalunya di kampung. Mereka yang dihitung sebagai angka dan skrup kecil dalam mesin raksasa kota, ingin kembali diperlakukan sebagai manusia.

Mereka ingin meninggalkan—walaupun sejenak—wajah-wajah kota yang garang untuk menikmati kembali wajah-wajah kampung yang ramah. Mereka ingin mengungkapkan kembali perasaan kekeluargaan yang menyejukkan.

Perspektif Kang Jalal itulah yang benar-benar saya rasakan pada mudik lebaran 2017 tahun ini. Ya baru-baru saja, beberapa hari berselang.

Tiga Hari yang Memberdayakan

Sejak menikah tahun 2003 dan meninggalkan kampung halaman, saya selalu lebaran hari pertama di rumah sendiri. Karena selain biasanya ada jadwal khutbah Id di masjid dekat rumah, juga hari pertama lebaran adalah momentum berhalal bihalal dengan keluarga besar istri.

Baru hari berikutnya saya beserta istri dan anak-anak mudik ke kampung halaman saya, di rumah orangtua saya di Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan. Masih satu kabupaten sih dengan tempat tinggal saya, hanya perjalanan sekira satu setengah jam-an.

Namun sudah dua lebaran ini, yakni lebaran tahun lalu dan lebaran tahun ini, saya ‘memutuskan’ berlebaran di kampung halaman sejak hari pertama. Itu semua (di antaranya) adalah atas permintaan ibu. “Kamu sudah lama gak berlebaran di kampung, cobalah sesekali berlebaran di kampung halaman,” pinta ibu via telepon.

Jadilah, lebaran tahun lalu, dan lebaran tahun ini saya mudik plus benar-benar menikmati suasana lebaran di kampung halaman. Hanya tiga hari sih, tapi jangan ditanya soal kesan, karena semuanya begitu mengesankan. Sungguh cerita lebaran yang memberdayakan jiwa dan raga.

Saya betul-betul seperti dibawa kepada masa lalu. Saat-saat yang sangat menyenangkan dan membahagiakan. Suasana desa yang teduh, begitu ramah dan penuh keguyuban.

Serunya Makan Lontong Opor dan Menonton Takbiran

Kami tiba di rumah orangtua tepat beberapa saat sebelum dul maghrib hari terakhir Ramadan 1438 H. Ketika tiba, bapak, ibu dan keluarga dua adik saya yang sudah terlebih dulu sampai di rumah orangtua, sudah nampak duduk melingkar lesehan di ruang makan, menanti waktu buka tiba.

Meski sederhana, makan lontong opor bersama begitu menyenangkan. Foto dokumen pribadi.

Kami pun segera merapat. Seperti biasa, menu spesial racikan ibu di hari lebaran adalah lontong dengan sayur opor ayam kampung plus sambal krecek. Kerupuknya adalah kerupuk udang yang super gurih.

Begitu adzan maghrib berkumandang, kami segera menyerbu menu yang telah terhidang di hadapan kami. Suasana seperti ini adalah momentum langka yang sangat kami syukuri. Kami tiga bersaudara tinggal berjauhan. Saya anak pertama, meski tinggal satu kabupaten dengan orangtua, tapi terbentang jarak yang cukup jauh.

Kedua adik saya, malah lebih jauh lagi. Adik  laki-laki saya tinggal di Yogyakarta, sedang adik saya yang perempuan tinggal di Palangkaraya, Kalimatan Tengah. Bisa dibayangkan betapa langkanya momentum makan lontong opor bersama-sama seperti ini.

Pawai takbir keliling yang meriah. Foto dokumen pribadi.

Seusai jamaah salat maghrib, kami menunggu pengumuman sidang isbat Kementerian Agama Republik Indonesia tentang penetapan 1 Syawal. Sempat deg-degan juga sih, jangan-jangan besok gak jadi lebaran karena hilal gak terlihat oleh sebab cuaca mendung dan kami harus puasa lagi esok hari hehe.

Secara psikologis, kami sudah siap berlebaran, apalagi kami juga telah pesta lontong opor bersama waktu buka bersama tadi. Kalau harus puasa lagi, kayaknya puasa yang berat. Walau bagaimana pun, bila itu terjadi, harus tetap dilakukan secara ikhlasss…

Alhamdulillah, akhirnya Pak Lukman Hakim Syaifudin sebagai Menteri Agama mengumumkan bahwa 1 Syawal jatuh pada esok hari karena hilal sudah terlihat. Ekspresi gembira pun membuncah. Di langit kampung halaman kami yang tenang, sontak pecah oleh kumandang takbir bersaut-sautan, juga letupan beruntun suara mercon…

Seusai isya’, kami bareng-bareng nonton pawai takbir keliling di depan rumah..duh serunya! Swear..

Klumpukan dan Foto Bersama

Klumpukan atau bancaan seusai salat Id, sebuah tradisi yang baik. Foto dokumentasi pribadi.
Keluarga besar KH. Ahmad Syahudi berpose bersama di lebaran pertama, formasi yang lengkap tanpa terkecuali. Foto dokumentasi pribadi.

Hari pertama lebaran, sesuai salat Id di masjid, saya dan anak pertama saya, Fathan Mubina, ikut acara klumpukan atau bancakan di serambi masjid. Ini adalah tradisi muslim di Jawa. Setiap orang datang dengan membawa makanan, lengkap nasi dengan lauknya. Lalu, diadakan doa bersama dilanjut makan bersama.

Saya hampir tidak melewatkan momen seperti ini setiap kali lebaran. Meski sebagian ada yang bilang bid’ah, namun bagi saya ini adalah tradisi yang baik (sunnah hasanah) yang boleh dipertahankan. Banyak sisi positif yang bisa dipetik.

Mungkin karena secara kultural, sejak kecil saya terdidik di lingkungan nahdhiyyin, maka sampai kini pun saya relatif akomodatif dengan tradisi-tradisi seperti ini dan menikmatinya sebagai sebuah tradisi leluhur yang baik dan positif.

Seusai acara di masjid, kami pun sungkeman dengan bapak dan ibu kami, KH. Ahmad Syahudi dan Hj. Sunarti, yang telah mengasuh, mendidik, dan mengantar kami semua menjadi seperti sekarang. Lalu berfoto bersama, karena bagaimana pun, sekali lagi, ini (berkumpul bersama) merupakan momentum langka. Maka, rugi bila tak diabadikan.* (Kang Asti, bersambung)

Baca selanjutnya: Cerita Lebaranku, Tiga Hari yang Memberdayakan (2-habis)

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *