You cannot copy content of this page

Cerita Lebaranku, Tiga Hari yang Memberdayakan (2-Habis)

Selamat Lebaran. Sumber foto dari bintang.com

Dalam perspektif Islam, mudik sesungguhnya merupakan perjalanan merentas silaturahmi atau silaturahim. Setelah sekian waktu tak bersua dengan sanak keluarga dan handai tolan, karena berjibaku dengan aktivitas yang penuh dinamik di pangggung kehidupan yang makin keras, mereka melakukan mudik untuk merajut kembali ikatan yang sempat terputus itu. Merasakan kembali keguyuban dan keramahan suasana desa.

Karena itu, begitu usai sungkeman dengan bapak dan ibu, juga dengan sanak saudara, agenda selanjutnya adalah sungkeman atau berkunjung ke tetangga dan sanak famili, terutama ke rumah pakdhe-budhe dan paklik-bulik yang masih sugeng.

Jadilah, sejumlah lebih 20-an orang (dewasa dan krucil) gabungan beberapa keluarga menjadi rombongan sungkeman yang asyik. Berkunjung bareng rame-rame keliling kampung jalan kaki keluar masuk rumah tetangga dan handai tolan. Seru pastinya.

Suasana sungkeman yang ramai di salah satu tetangga. Foto dokumen pribadi.

Setidaknya lebih dari 20-an lebih rumah yang kami masuki. Di setiap rumah, diwakili ketua rombongan yang kami tunjuk, yakni mas Farhan Munirus Su’aidi, S.Ag, kami menghaturkan selamat hari raya Idul Fitri, memohon maaf lahir dan batin, serta memohon doa agar kami semua terkabul segala cita-cita kami masing-masing, di dunia dan akhirat.

Setelah itu, seperti biasa, kami dipersilakan icip-icip menu yang terhidang di meja, yang dalam pantauan saya ya begitu-begitu saja, terdiri dari kue-kue kering aneka rupa khas lebaran. Saya sendiri memutuskan tetap ‘puasa’, dalam arti gak banyak icip-icip biar perut tidak kaget dan bergolak karena sudah terbiasa kosong sebulan kemarin.

Saya lebih memilih icip-icip yang alami saja, seperti buah (biasanya pisang), itu pun sekadarnya. Atau pilih air putih, meski di sana banyak terhidang minuman instan atau es sirup atau es buah yang cukup menggoda.

Begitulah, hampir seharian kami melakukannya. Sekira jam 2 siang kami baru usai. Setelah itu, pulang, dan istirahat. Tidur pules karena capek hehe….

Menjajal (Kembali) Bermain Egrang

Ada satu yang asyik, yakni saat sungkeman kami sampai di rumah salah seorang sepupu saya (anaknya budhe) yang sudah lumayan sepuh. Kami di sini bertahan agak lama saat sungkem. Itu karena, kami semua tahu bahwa di rumahnya beliau selalu menyediakan untuk kami hidangan lontong dengan sayur opor ayam kampung atau mentok. Sehingga, rumah beliau menjadi semacam terminal, yaitu tempat rehat sejenak setelah perjalanan keliling kami untuk sungkeman hampir usai, tinggal beberapa rumah lagi. Begitu itu setiap tahun.

Sembari rehat, kami menikmati sajian menu lontong opor ayam kampung, yang kali ini ada menu tambahan berupa bistik daging mentok. Dapat dibayangkan betapa serunya kami menyantap lontong opor berdua puluh lebih orang. Amat riuh tentunya, dan aduhai sedapnya haha…

Ternyata saya masih piawai main egrang hehe. Foto dokumen pribadi.
Para keponakan pun mencoba menjajal, tapi masih gagal. Foto dokumen pribadi.

Apalagi, sebelum makan, kami terlibat dalam permainan yang seru. Kebetulan, di rumah beliau—saya biasa memanggil kakak sepupu saya itu dengan  Yu Mi—ada sebuah egrang milik cucunya. Jadilah, kami terlibat permainan seru menjajal kembali kemampuan bermain egrang itu di halaman rumah Yu Mi.

Egrang adalah permainan yang biasa saya dan teman-teman kampung lakukan semasa kecil. Setelah menjajal, ternyata saya masih bisa. Meski badan saya lumayan ndut, saya tetap masih piawai berjalan dengan egrang hehe…aduhai, asyiknya permainan masa kecil.

Sayangnya, permainan egrang kini sudah langka. Anak-anak dan keponakan saya hampir tidak ada yang bisa memainkannya. Mereka berusaha mencobanya, tetapi banyak yang menyerah. Kayaknya, permainan-permainan tradisional seperti egrang ini perlu digelorakan lagi, karena memiliki banyak aspek positif, baik fisik, ketangkasan, kesimbangan, dan sebagainya.

Setuju? Hehe..

Halal Bihalal Keluarga

Hari kedua dan ketiga lebaran, jadwal saya, istri dan anak-anak, adalah mengikuti acara halal bihalal keluarga. Hari kedua lebaran mengikuti acara halal bihalal keluarga besar dari ibu saya, yakni keluarga besar simbah Marto Dipuro Sirin; sedang hari ketiga lebaran mengikuti halal bihalal keluarga besar dari bapak saya, yakni keluarga besar simbah Tarmuji bin Sutodrono.

Suasana pengajian halal bihalal keluarga besar simbah Tarmuji. Foto dokumen pribadi.

Kedua acara halal bihalal keluarga itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu, sejak sekira awal tahun 1990-an, saat saya masih SMP, dan rutin dilakukan setiap tahunnya hingga sekarang.

Ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari halal bihalal keluarga seperti itu. Meski sering terjebak pada formalitas, namun karena ketika hari itu tiba semua saudara yang jauh menyempatkan hadir, menjadikan acara tersebut tetap menjadi media yang sangat efektif untuk memperkokoh silaturahim antar semua anggota keluarga.

Sedang kita tahu, silaturahim adalah aktualisasi keimanan seorang muslim, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari).

Begitulah, sekelumit cerita lebaran saya. Meski hanya tiga hari, namun tiga hari yang begitu memberdayakan, yang selalu saya dirindukan dan selalu menjadi energi untuk menempuh perjalanan hidup selanjutnya.* (kangasti.com, habis)

Baca juga: Cerita Lebaranku, Tiga Hari yang Memberdayakan (1)

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *