You cannot copy content of this page

Sekilas Desa Kalirejo, Tempat Asal Leluhur Bung Karno

Balai Desa Kalirejo

Desaku yang kucinta, pujaan hatiku

Tempat ayah dan bunda, dan handai tolanku

Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai

Selalu kurindukan, desaku yang permai

Syair di atas adalah lirik sebuah lagu berjudul “Desaku”. Sebuah lagu yang memorable, sangat saya hafal sejak masih duduk di bangku sekolah dasar dulu. Sering saya nyanyikan lirih dalam hati secara melo saat-saat merantau dulu atau saat kini yang sudah tidak lagi tinggal di dalamnya.

Ya, desa tempat kelahiran, tempat menghabiskan masa kecil, dengan segala suka citanya, selalu membuncahkan kenangan dan kerinduan tersendiri di sudut hati. Yang tak pernah terlupakan, selama-lamanya.

Saya lahir dan menghabiskan masa kecil dan remaja di sebuah desa bernama Desa Kalirejo. Sebuah desa yang permai. Di desa kecil inilah saya pernah merajut kenangan masa kecil bersama teman-teman sekampung. Berenang di sungai, meski sungai sedang meluap karena banjir, bekejaran di dalam airnya yang jernih; main bola; gobag sodor; betengan; petak umpet; dan sebagainya.

Meski setelah menikah tak lagi tinggal di kampung ini, tapi Kalirejo selalu di hati. Ke mana pun pergi, saya selalu rindu untuk kembali ke sini.


Sekilas Desa Kalirejo  

Desa Kalirejo merupakan sebuah desa di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Desa ini memiliki 4 dusun, yakni Dusun Kalirejo, Dusun Pojok, Dusun Beru, dan Dusun Kudon.

Sebuah sumber menyebutkan, dahulu kala sekitar tahun 1915, dudun- dusun itu masih berdiri-sendiri, yakni Desa Pojok dengan kepala desa bernama Sodipuro; kemudian Desa Kalirejo berdiri sendiri dengan kepala desa bernama Sosrodihardjo; dan Desa Berukudon juga berdiri sendiri dengan kepala desa bernama Mangundipuro.

Pada tahun 1925, ketiga desa itu digabungkan menjadi satu desa dengan nama Desa Kalirejo yang terdiri 3 dusun yaitu:  Dusun Pojok, Dusun Kalirejo, dan Dusun Berukudon, dengan kepala desa bernama Mangundipuro.

Lalu, pada masa pemerintahan Desa Kalirejo di bawah Kepala Desa Yadji Danoeatmodjo (menjabat sejak tahun 1986 sampai dengan 1994), dilakukanlah pengembangan wilayah Berukudon dari 1 dusun menjadi 2 dusun yaitu: Dusun Beru dan Dusun Kudon.



Asal-usul Nama Kalirejo

Terkait dengan asal usul nama Desa Kalirejo, almarhum Soedjiman (94), sesepuh desa yang juga mantan Sekretaris Desa Kalirejo, pernah menuturkan kepada saya (Kang Asti) bahwa Desa Kalirejo berasal dari dua suka kata, yakni “Kali” yang berarti sungai dan “Rejo” yang berarti ramai atau makmur.

Sebagian wilayah Desa Kalirejo memang dikelilingi sungai yang dulunya berair jernih dan ramai dijadikan aktivitas warga, seperti mencuci baju, mandi, dan sebagainya.

Namun, menurut Soedjiman lebih lanjut, dulunya Desa Kalirejo bernama kampung Krajan Taka. Kampung Krajan Taka ini terpisahkan oleh sungai dengan Wirosari yang menjadi pusat kota kawedanan. Suatu ketika (lupa tepatnya tahun berapa), oleh Wedana Wirosari ketika itu, dibuatlah jembatan yang menghubungkan antara keduanya.

“Hal itu membuat kampung Krajan Taka menjadi semakin ramai, sehingga kemudian oleh wedana tersebut, digantilah nama Krajan Taka menjadi Kalirejo hingga sekarang,” tutur Soejiman yang menjabat Sekretaris Desa Kalirejo selama kurang lebih 29 tahun  sejak tahun 1967 hingga akhir tahun 1995.

Desa Kalirejo saat ini semakin ramai dengan adanya berbagai lembaga pendidikan yang berdiri di desa tersebut, sejak TK, SD, SMP dan MTs, hingga SMA dan SMK. Namun lebih dari itu, ternyata Desa Kalirejo juga menyimpan  history yang kini perlahan dilupakan. Yakni Desa Kalirejo diyakini merupakan tempat leluhur Presiden Pertama Republik Indonenesia Soekarno—atau yang akrap dipanggil Bung Karno—berasal.

Tempat Asal Leluhur Bung Karno

Ceritanya bermula ketika Raden Mangoendiwirjo menjadi Wedana Pamajekan di Wirosari. Di Wirosari itu, Raden Mangoendiwirjo kawin dengan putri setempat. Mereka menurunkan 8 putra dan seorang putri, di antaranya adalah Raden Danoewikromo (diperkirakan lahir tahun 1804). Jadi, saat perang Diponegoro meletus, Danoewikromo sudah merupakan pemuda yang berumur 20 tahun. Ia pun dikabarkan turut berperang memimpin pemuda sebayanya di Desa Kalirejo.

Ketika perang usai, ia kembali ke daerahnya dan menyunting seorang putri di Wirosari. Hasil perkawinan itu menghasilkan empat putra dan seorang putri, yakni: Raden Kromoatmojo, Raden Soemodiwirjo, Raden Mangoendiwirjo, Raden Nganten Kartodiwirjo dan si bungsu, RADEN HARDJODIKROMO yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakek Bung Karno.

Setelah menginjak dewasa, Raden Hardjodikromo (lahir kurang lebih tahun 1840) menjadi carik (juru tulis/sekretaris desa) di Desa Kalirejo, Wirosari, sementara kakaknya Raden Mangoendiwirjo menjadi lurahnya. Mereka berdua menggantikan para pamong desa sebelumnya yang telah lanjut usia. Tentu saja, jabatan pamong desa itu bukan hal yang sulit diperoleh, karena kakek mereka adalah tokoh di Kawedanan Wirosari dan ayah mereka prajurit pengikut setia Pangeran Diponegoro yang dihormati.

Dalam perjalanannya, di masa tanam paksa pemerintah kolonial di tanah Jawa akibat kekalahan Diponegoro, Raden Hardjodikromo berniat melepas jabatannya sebagai carik Kalirejo. Kira-kira setahun setelah kelahiran putra ketiganya, yakni RADEN SOEKENI SOSRODIHARJO yang tak lain adalah ayah Bung Karno (sekitar tahun 1873), Raden Hardjodikromo memantapkan hati melepas jabatannya sebagai carik dan berniat pindah ke kota lain.




Tulungagung akhirnya menjadi tujuan kepindahannya. Di kota itu tinggal kakaknya yang diperistri seorang mantri guru. Di Tulungagung, kehidupan Raden Hardjodikromo membaik. Ia menjadi pedagang batik, selanjutnya membuka industri kerajinan batik di rumahnya.

Kondisi ekonomi yang cukup baik, membuka jalan bagi RADEN SOEKENI SOSRODIHARDJO untuk menggapai cita-cita sebagai seorang guru. Saat itu guru merupakan profesi yang dihormati, baik oleh masyarakat maupun pemerintah kolonial.

Oleh karena itu, selepas masa sekolah rendah tahun 1885, Raden Soekeni memasuki Kweekschool (sekolah guru) di Probolinggo. Pada tahun 1889, Raden Soekeni lulus dari Kweekschool dengan memuaskan. Kemudian ia diangkat menjadi guru di kota Kraksaan, Kabupaten Lumajang, Karesidenan Besuki, Jawa Timur.

Tahun 1891, Raden Soekeni menerima tawaran untuk mengajar pada sekolah rakyat di Singaraja, Bali. Di Pulau Dewata itulah, Raden Soekeni menyemai cinta dan menemukan pendamping hidup seorang gadis Bali bernama Idayu atau Ni Nyoman Rai Sarimben, yang kelak kita mengenalnya sebagai ibunda tercinta dari Proklamator Republik Indonesia, Bung Karno. * (Kang Asti, www.kangasti.com)

 

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Comments

Ubarito
Juli 20, 2017 at 3:58 am

Mbah saya asli kudon, cerita turun temurun dari Mbah juga mengatakan hal yang sama kalau keturunan Pak Karno berasal dari kalirejo



Agus Windarto
April 9, 2018 at 8:39 am

Terimakasih Kang Asti (Badiatul Muchlisin Asti) atas artikelnya. Sangat bermanfaat, dan smg tetap semangat dlm menggali lagi banyak info ttg keluarga Bung Karno yg msh ada di Desa Kalirejo maupun tempat lain. Smg dpt mengumpulkan balung pisah, sebelum pati obor. Maturnuwun.





Hanif Dwi Meyanta
Februari 27, 2019 at 8:51 am

Ijin untuk mengutip pak 🙏



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *