Menjadi Ummahat Kreatif, Sepenggal Kisah Buku Pertama Saya

Kaver buku “Menjadi Ummahat Kreatif”

Awal tahun 2003, setelah malang-melintang menulis lepas di berbagai media massa cetak—baik lokal maupun nasional—sejak tahun 1994, terbersitlah keinginan untuk merambah ke dunia buku. Kebetulan, awal tahun 2003 itu, saya menemukan penerbit buku baru di Bandung yang tengah melejit dan buku-bukunya laris manis di pasaran. Saya tertarik untuk ikut menulis buku di penerbit itu.

Singkat cerita, sebuah naskah saya susun dan kemudian saya kirimkan ke penerbit itu. We O We, Wow!!! Sungguh surprise, naskah pertama saya itu di-acc. Dan tak berapa lama kemudian diterbitkan dan beredar di pasaran.

Buku itu, yang merupakan buku pertama saya, berjudul Menjadi Ummahat Kreatif, Buku Pintar Muslimah. Asal tahu, buku itu hanyalah berisi tips-tips ringan untuk ibu rumah tangga, menyangkut info dan tips seputar dapur, belanja, pengobatan tradisional, kecantikan, dan resep masakan. He hehe…perempuan banget ya…

Buku itu sendiri ”lahir” secara tak sengaja. Buku itu tergagas berawal dari kesukaan saya membuat kliping. Dari kliping artikel politik, pendidikan, psikologi, profil tokoh, sampai kliping-kliping tentang pernik-pernik rumah-tangga, termasuk resep-resep masak-memasak dan resep-resep obat tradisional.

Untuk kliping yang terakhir, saya makin intensif mengumpulkannya menjelang detik-detik keinginan saya untuk menikah. Saya yakin, kliping-kliping itu berguna nantinya ketika saya memasuki dunia rumah tangga.

Kliping-kliping itu makin menumpuk, sehingga saya agak kuwalahan untuk menyimpannya. Maka, secara iseng, kumpulan kliping rumah tangga, terutama yang berisi tips-tips praktis, saya reka-reka untuk saya pikirkan kemungkinannya bisa menjadi sebuah buku. Selain lebih praktis untuk disimpan nantinya, pikir saya, dalam bentuk buku, kliping saya itu nantinya akan bisa berguna bagi para ibu rumah tangga yang saben hari bergelut dengan bejibun persoalan teknis rumah tangga, tetapi sejauh ini belum menemukan cara yang praktis dan hemat.

Akhirnya, setelah melalui proses yang agak lama, karena saya musti melengkapi tips-tips itu dengan berburu dari berbagai literatur dan pengalaman, jadilah buku ini. Maka, tentu saja saya sangat tidak keberatan jika buku pertama saya itu disebut sebagai “buah dari kerajinan tangan”.

Ada 300-an lebih informasi dan tips praktis yang termuat di buku itu. Mulai dari cara mengatasi ritsliuting macet sampai menambal talang bocor; dari cara memilih sayuran sampai tips memilih daging sapi muda; dari cara mengobati sakit gigi sampai menurunkan tekanan darah tinggi; dari cara perawatan wajah sampai cara mendeteksi kanker payudara; dan dari resep memasak teri sampai daging sapi, dari sate sampai soto. Hahaha…

Mengemas Buku

Dan ketika menyusun buku itu, sepenuhnya saya menyadari, bahwa isi atau tema buku itu kuno dan buku serupa di pasaran begitu melimpah sejak lama. Menyadari tema yang kuno itu,  insting saya mengatakan, saya perlu mengemas beda buku itu. Awalnya, saya terpaku pada judul. Judul harus saya rumuskan sedemikian rupa agar beda dengan buku-buku dengan tema serupa yang melimpah ruah di pasaran.

Iklan buku “Menjadi Ummahat Kreatif” di majalah Ummi edisi 9/XV/2014

Karena sejak awal segmentasi yang saya bidik adalah ibu-ibu rumah tangga yang beragama Islam (muslimah), maka saya pun kemudian memberi judul buku itu Menjadi Ummahat Kreatif dengan sub judul Buku Pintar Muslimah. Ummahat berasal dari Bahasa Arab yang berarti ibu rumah tangga.

Saya pilih kata ummahat karena unsur Islaminya kental sesuai pasar yang saya bidik. Pilihan itu meski terkesan “membatasi pasar”, tapi pada dasarnya tidak. Pilihan itu justru untuk memunculkan perbedaan, different, dengan buku-buku lain yang serupa.

Selain pertimbangan pasar berupa kuantitas ibu-ibu muslimah yang besar, juga buku bertema itu yang dibalut nuansa Islami belum pernah ada. Jadi, secara ide (baca: kemasan), buku itu tergolong baru meski bertema lama. Lalu, sub judul Buku Pintar Muslimah dimunculkan untuk menimbulkan kesan wah dan penting.

Selain judul, isi buku juga saya beri kutipan ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits yang relevan pada setiap pembahasan. Sehingga nuansa Islaminya terasa banget. Karena itu, buku itu jelas beda.

Dus, pilihan saya ternyata tidak salah. Dengan dukungan desain yang simpel dan feminin dari penerbit, buku ini cukup laris manis. Dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan, cetakan pertama buku itu sejumlah 3000 eksemplar ludes ditelan pasar. Bahkan buku itu menembus cetakan berulang kali dengan kisaran cetak sekira 3000 eksemplar.

Itulah kisah buku pertama saya, yang menjadi tonggak penting karier saya di dunia penulisan buku. Sejak saat itu, mengalirlah buku-buku saya lainnya—yang meski ringan, tapi lebih serius dari buku pertama saya itu.

Buku pertama saya itu jugalah yang menghembuskan spirit menulis buku dalam diri saya dan meyakinkan diri saya bahwa menulis buku itu gampang. Hingga akhirnya saya terlecut untuk produktif menulis buku sampai sekarang, bahkan sekarang telah menerbitkan buku sendiri.* (@Kang Asti)

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Bilik Literasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *