You cannot copy content of this page

Memungut Serpihan Kenangan di Reuni Akbar 2017 Alumni Futuhiyyah Mranggen (2)

Sebenarnya Reuni Akbar 2017 Alumni Futuhiyyah Mranggen digelar dua hari, yakni Sabtu dan Ahad, 29-30 Juli 2017. Pada hari Sabtunya, sejak pagi hingga sore dihelat rangkaian acara, meliputi pameran foto dan buku karya masyayikh dan alumni Futuhiyyah; bakti kesehatan berupa pengobatan gratis, penyuluhan narkoba; dan donor darah yang melibatkan para alumni yang berprofesi dokter; bakti sosial alumni SMK Futuhiyyah berupa servis mobil, motor, konsultasi otomotif dan elektronika; serta pisowanan masyayikh Futuhiyyah Mranggen.

Lalu malam harinya digelar pemutaran film karya alumni, yakni film karya Habiburrahman El-Shirazy (Kang Abik) dan film karya Norman Muhtarom.

Meski hari Sabtu sudah dihelat serangkaian acara, namun puncak acara yang sekaligus menjadi puncak kedatangan alumni dari berbagai penjuru daerah adalah pada hari Ahad.

Ahmad Farhan Abadi, seorang teman berpose dengan spot latar belakang foto-foto para masyayikh Futuhiyyah

Saya sendiri, karena Sabtu masih berkutat dengan kegiatan yayasan yang saya kelola, akhirnya datang pada hari Ahadnya. Di manual acara yang saya terima, pada puncak acara reuni akbar alumni Futuhiyyah di hari Ahad, dihelat acara halaqah kebangsaan bertema “Menolak Radikalisme dan Merawat Kebhinekaan”, yang semua narasumber dan moderatornya adalah alumni Futuhiyyah.

Tema yang diusung, yakni tentang radikalisme dan kebhinekaan, memang lagi nge-hits dan kontekstual dengan situasi dan kondisi di Indonesia. Sehingga tema itu dipilih, agaknya memang dalam rangka positioning alumni Futuhiyyah dalam menyikapi fenomena radikalisme yang mengancam kebhinekaan di Indonesia.

Jangan salah, narasumber yang alumni Futuhiyyah itu—ada tiga orang—adalah orang-orang yang memiliki kompetensi dan kapasitas intelektual untuk berbicara di bidangnya. Mereka adalah:

  • Narasumber pertama adalah Dr. KH. Agus Maftuh Abegebriel (Duber RI untuk Saudi Arabia) yang berbicara tentang “Kebhinekaan Bangsa Indonesia Merupakan Kiblat Pluralisme Global”;
  • Narasumber kedua adalah Prof. Dr. KH. Masykuri Abdullah, MA (Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah) yang berbicara tentang “Islam Indonesia Rahmat bagi Islam Seluruh Dunia”;
  • Dan sedianya narasumber ketiga adalah KH. Mahfudz Syaubari (Pengasuh Pondok Pesantren Riyadhul Jannah Pacet, Mojokerto) untuk berbicara tentang “Pesantren sebagai Basis Islam Nusantara yang Menjunjung Tinggi Kebhinekaan”, namun karena beliau tidak rawuh, maka Prof. Dr. Muhibbin, MA (Rektor UIN Walisongo Semarang) selaku moderator, menunjuk secara dadakan H. Muhammad Arwani Thomafi (anggota DPR RI dari PPP) untuk naik panggung untuk menjadi narasumber.

Paparan-paparan ketiga narasumber memang sangat gayeng dan berbobot. Ribuan hadirin pun menyimak dengan seksama. Namun, acara halaqah kebangsaan sempat di-skors sebentar karena kehadiran Menkopolhukam RI Wiranto.

Begitu memasuki lokasi reuni, Bapak Wiranto langsung naik ke panggung untuk memberikan sambutan dan arahan mewakili Presiden RI Jokowi yang berhalangan hadir.

Deklarasi Alumni Futuhiyyah

Acara halaqah kebangsaan yang merupakan puncak acara Reuni Akbar Alumni Futuhiyyah dirangkai dengan deklarasi alumni yang pembacaannya dipandu oleh oleh Prof. Dr. Muhibbin, MAg. Berikut ini isi dari Deklarasi Alumni Futuhiyyah:

DEKLARASI ALUMNI FUTUHIYYAH
Kami, Alumni Futuhiyyah Mranggen, Demak, menyatakan dengan sesungguhnya:
  • Menyerukan kepada seluruh elemen bangsa untuk senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan demi keutuhan bangsa dan negara.
  • Menolak keras segala bentuk terorismedan kekerasan atas nama agama yang justeru merusak citra Islam sebaga agama yang rahmatan li al-‘alamin.
  • Mendukung sepenuhnya langkah dan tindakan pemerintah RI dalam upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam koridor hukum yang berlaku.
  • Menyerukan kepada Pemerintah RI untuk mengoptimalkan pembangunan karakter bangsa dengan membuat kebijakan pendidikan karakter yang berlandaskan pada kearifan lokal (local wisdom) guna menyiapkan generasi muda yang tangguh, mandidi, dan cinta tanah air.
Mranggen, 30 Juli 2017
Atas Nama Alumni Futuhiyyah

 

Memungut Serpihan Kenangan

Di luar acara halaqah yang nuansanya akademik dan ilmiah itu, kedatangan para alumni ke acara reuni tentu punya motif, di antaranya selain ingin bertemu dengan para kiai yang telah mengucurkan ilmunya, juga dalam rangka mengenang kembali masa-masa saat nyantri di Futuhiyyah dulu.

Berpose bersama teman-teman Kamar 11B di depan kantor Pondok Pesantren Futuhiyyah
Kamar 11B, lantai dua tengah, penuh memori…

Setiap santri pasti punya kenangan dan nostalgia sendiri. Saya sendiri punya banyak kenangan dengan Futuhiyyah. Maka, tak bisa dipungkiri, salah satu motif saya untuk datang di reuni adalah bertemu kembali dengan teman-teman, terutama yang dulu bersama-sama menghuni kamar 11B di Pesantren Futuhiyyah yang penuh memorabilia hehe…

Apalagi sebelum reuni, kami sudah punya group khusus di Whatsapp, sehingga kami sudah berkomunikasi dan berinteraksi sebelumnya. Sayangnya, hanya beberapa gelintir yang bisa hadir. Praktis hanya 5 orang penghuni kamar 11B yang bisa hadir, yakni saya sendiri; lalu mas Ahmad Farkhan Abadi dari Blora yang kini sudah bekerja di SKK Migas; lalu mas Yusroni asal Purwodadi yang kini bekerja menjadi perangkat desa di kampungnya; mas Arifin Subki dari Blora yang kini jadi pengusaha konfeksi di Pati; dan mas Rustam dari Purwodadi yang kini menjadi anggota Polri dan dinas di Semarang.

Tapi tidak mengurangi makna reuni ini, karena di reuni tersebut kami juga bertemu dengan banyak teman lainnya serta para guru dan ustadz yang dulu menghujani kami dengan ilmu. Terutama rasa gembira saya bisa mencium tangan Romo Kyai Haji Hanif Muslih, Lc—satu-satunya pengasuh pesantren di masa saya dulu nyantri yang masih sugeng kini.

Dulu, di masa saya nyantri di Futuhiyyah di tahun 1990-an, saya masih menjumpai KH. Lutfil Hakim Muslih, BcHK, yang mengajari saya ilmu mantik. Saya pernah dihukum Kiai Hakim karena saya disangka ikut ramai saat jam pelajaran kosong. Meski saya merasa tidak bersalah, tapi saya ikhlas menjalani hukuman dijemur di terik matahari bersama beberapa teman.

KH. Ahmad Muthohar bin Abdurrahman bin Qoshidil Haq

Saya juga masih berjumpa dengan KH. Achmad Muthohar. Adinda Kiai Muslih ini tipe penyayang dan lembut. Saat saya baru saja beranjak dari kamar pesantren hendak pulang ke Purwodadi,  lalu berjumpa dengan beliau, beliau menyuruh saya balik ke kamar untuk mengambil peci, karena saat itu saya memang tidak berpeci. Saya pun balik ke kamar untuk mengambil peci, mematuhi dawuh beliau.

Saat saya sowan ke beliau, dan beliau akan memberikan ijazah, beliau menyuruh saya mencatat amalan tersebut, tapi saya bilang tidak membawa pena. Lalu beliau pun berkata, “Lha wong meh macul kok ra nggowo pacul.” (Orang mau mencangkul kok tidak bawa cangkul).

Belakangan saya tahu, bahwa selain seorang mursyid thariqah, KH. Ahmad Muthohar bin Abdurrahman bin Qoshidil Haq adalah seorang penulis produktif. Tak kurang dari 30 judul kitab kuning karyanya membahas berbagai disiplin ilmu, di antaranya kitab nahwu, shorof (tata bahasa), aqidah (ketahuidan), akhlak (budi pekerti), fiqih (hukum Islam), tafsir, hingga mawaris (tentang pembagian warisan).

Di kalangan nahdliyyin, karya-karya KH. Ahmad Muthohar cukup dikenal dan masih dipakai untuk pembelajaran agama hingga sekarang. Sebut saja kitab Imrithi dan Al Wafiyyah fi Al Fiyyah (Nahwu), Akhlaqul Mardliyyah (akhlak), Tafsir Faidurrahman (tafsir), Al Maufud (Shorof), Syifaul Janan dan Tuhfatul Athfal (tajwid). Buah karyanya yang lain, kitab Rahabiyyah (warisan) serta Tsamrotul Qulub (bacaan wirid sesudah shalat).

Sebagian besar karya KH Ahmad Muthohar diterbitkan oleh penerbit Thoha Putra Semarang, yang memang dikenal sebagai penerbit kitab-kitab klasik. Selain itu, ada pula sejumlah karyanya yang dirilis oleh penerbit Malaysia. Beliau wafat pada tahun 2005.

Apa yang terjadi di masa lalu, ia kini menjadi kenangan. Kadang indah untuk dikenang; kadang pahit karena di situ ada noktah penyesalan. Tapi Futuhiyyah telah menyumbang serpihan-serpihan kenangan yang membentuk mozaik bagi saya untuk terus menempa diri menjadi pribadi yang berguna, bagi seluas-luasnya makhluk dan alam semesta.* (Kang Asti, selesai).

Baca sebelumnya: Memungut Serpihan Kenangan di Reuni Akbar 2017 Alumni Futuhiyyah Mranggen (1)

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Comments

September 23, 2017 at 12:26 pm

I have been exploring for a little bit for any high-quality articles or weblog posts in this sort
of house . Exploring in Yahoo I at last stumbled upon this website.
Studying this info So i am satisfied to exhibit that
I have an incredibly excellent uncanny feeling I found out
just what I needed. I such a lot no doubt will make sure to do not fail to
remember this site and provides it a look regularly.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *