You cannot copy content of this page

Mengukur Kelayakan Sebuah Ide untuk Dibukukan

Sebelum semua dimulai, menulis buku diawali dengan menggali ide. Ide adalah tema besar yang akan dijadikan sebagai bahan atau materi tulisan. Ada banyak ide yang bisa dijadikan bahan untuk tulisan yang akan dibukukan.

Hampir semua bidang kehidupan bisa dibukukan. Tapi letikan ide yang akan dijadikan bahan tulisan perlu diseleksi secermat mungkin menyangkut kelayakan ide itu untuk dikembangkan menjadi karya tulisan yang akan dibukukan.

Karena pada kenyatannya, buku bagus tidak melulu soal kualitas konten di dalamnya, tapi juga soal punya daya serap pasar atau tidak. Kata mudahnya, buku itu nanti marketable atau tidak. Laku dijual atau tidak.

Kecuali buku itu diterbitkan sendiri, dibiayai sendiri, yang lazim dengan istilah self publishing, maka bahasan ini menjadi tidak penting dan bisa diabaikan.

4 Unsur Penting

Lalu, apa saja unsur-unsur yang bisa mengukur tingkat kelayakan sebuah ide untuk dikembangkan menjadi karya tulisan yang akan dibukukan?

Pada dasarnya, sesuai dengan pengalaman saya, unsur-unsur yang menjadi ukuran kelayakan ide untuk bahan materi penulisan naskah buku itu, bisa disamakan dengan unsur-unsur yang menjadikan sebuah tulisan atau berita mempunyai nilai untuk dimuat di media massa. Unsur-unsur itu antara lain:

Pertama; significance (penting). Bisa dianggap penting jika tulisan itu nanti akan punya dampak yang besar terhadap kepentingan pembaca. Ketika saya menulis buku berjudul Seks Indah Penuh Berkah, saya percaya dan yakin buku itu penting dan banyak pembaca yang butuh alias ceruk pasarnya luas. Dan benar, buku itu cetak ulang dalam jangka waktu tak lama setelah cetakan pertamanya.

Buku “Seks Indah Penuh Berkah” cukup bagus diserap pasar.

Kedua, magnitude (besar). Jumlah angka-angka yang ekstrim besar jauh lebih menarik dari angka-angka yang dianggap biasa. Maka ketika saya menulis buku tentang kumpulan profil penemu dunia sebanyak 80 tokoh, penerbit meminta saya melengkapinya menjadi 100 tokoh. Akhirnya terbitlah buku saya, yang tidak hanya 100, tapi 105 Tokoh Penemu dan Perintis Dunia yang membukukan penjualan cukup signifikan.

Ketiga, timelines (aspek waktu). Ada banyak buku yang ditulis sebagai respons dari peristiwa atau fenomena tertentu. Ketika bulan Ramadan akan tiba, penerbit biasanya berlomba-lomba menerbitkan buku-buku tentang Ramadan seperti fiqh puasa, quantum Ramadan, panduan kultum Ramadan, dan sebagainya. Begitu seterusnya.

Keempat, prominence (tenar). Menulis segala hal tentang tokoh nasional yang lagi nge-hits, akan lebih berpotensi dibukukan dan best seller, dari pada tokoh kampung yang hanya dikenal di tingkat lokal. Ini biasanya untuk buku-buku biografi tokoh dan pemikiran.

Itulah paling tidak unsur-unsur yang bisa dijadikan tolak ukur dalam menguji kelayakan ide/bahan untuk ditulis untuk karya tulisan (naskah buku). karena, apa pun alasannya, penerbit tidak hanya mempertimbangkan aspek penting penerbitan buku itu semata, juga ada aspek bisnis yang menjadi bahan pertimbangan.

Dalam arti kata yang lain, dalam menilai sebuah naskah buku, penerbit tidak hanya menilai dari segi bobot isi naskah buku itu, tapi juga menilai pangsa pasar. Sebuah penerbitan akan rugi besar jika buku yang diterbitkan ternyata tidak laku di pasaran.

Beberapa Pertanyaan Penting

Sofia Mansoor dan Niksolim sebagaimana dikutip Abu Al-Ghifari (2002: 57) menyebutkan beberapa pertanyaan yang harus bisa dijawab oleh sebuah penerbitan untuk menerbitkan sebuah buku, yaitu:

  • Keperluan

Apakah buku ini memang diperlukan masyarakat ? Mengapa?

  • Sasaran pembaca

Siapakah pembaca buku ini: umum, dewasa, anak-anak, kaum ibu, orangtua, mahasiswa (jurusan apa, tingkat berapa) ?

  • Jumlah pembaca

Berapa kira-kira ukuran pasar ? Besarkah ?

  • Isi naskah

Apakah isi naskah tidak menyinggung SARA atau ideologi negara? Apakah isi naskah berbobot dan seusia dengan tingkat pembaca yang dibidik ?

  • Saingan

Apakah ada buku lain yang menjadi saingan buku tersebut? Apa kelemahan dan kelebihan naskah buku ini disbanding saingannya ?

  • Penyajian

Apakah buku ini ditulis dengan susunan tertib ? Apakah bahasa penulis mudah dipahami ? Apakah ilustrasi yang dibuat mendukung uraian?

  • Kemutakhiran

Apakah isi buku ini tidak ketinggalan zaman ?

  • Hak cipta

Apakah buku ini karya asli atau jiplakan ?

  • Kelayakan terbit

Apakah buku ini layak diterbitkan oleh penerbit yang bersangkutan ? Karena sejumlah penerbit ada yang hanya menerbitkan buku-buku tertentu, buku agama, sekolah, universitas, misalnya.

Saya sepakat dengan Abu Al-Ghifari bahwa pertanyaan-pertanyaan di atas juga layak menjadi pegangan penulis. Seorang penulis yang mampu menyelami nurani massa, akan mampu menulis buku yang bukan hanya berkualitas, tapi juga disukai khalayak pembaca. Sehingga ketika dicetak dan dilempar ke pasar akan laris manis penjualannya.

Buku yang laku akan menguntungkan dari segi apapun. Dari segi dakwah, berbagi informasi, pengetahuan, dan lain-lain. Semakin banyak pembaca berarti pesan-pesan dakwah dan informasi serta pengetahuan semakin tersebar luas. Dari sudut ekonomi, baik penerbit maupun penulis, jelas akan diuntungkan dengan buku best seller (laris di pasaran). Semoga bermanfaat.* (Kang Asti)

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *