Saat Berdakwah Tak Harus Melulu dengan Berceramah

Dakwah atau “mengajak orang ke jalan Tuhan” (ud’u ila sabili rabbika) sering diidentikkan dengan kegiatan khutbah dan ceramah. Padahal, perkembangan teknologi yang super pesat, menghajatkan dakwah musti merambah ke ‘jalan lain’ agar efektif menjangkau sasaran dakwah.

Dunia jurnalistik saat ini bisa menjadi lahan dakwah yang amat potensial. Dakwah pena (bil qolam) melalui media massa (offline maupun online) menjadi alternatif dakwah yang cukup efektif. Tulisan yang dimuat di koran dan majalah, atau diposting di blog dan website, akan berpotensi dibaca tidak hanya ratusan, tapi ribuan, bahkan jutaan orang, di berbagai tempat dan waktu. Jadi, alangkah efektifnya dakwah bil qolam ini.

Berawal dari Minat Menulis di Koran

Alhamdulillah, saya sudah menerjuni dunia jurnalistik atau dunia tulis-menulis di koran sejak tahun 1994. Saat itu belum populer atau malah belum ada internet atau media sosial. Sehingga situs berita atau portal, blog, dan media sosial seperti facebook dan youtube belum ada.

Menulis di koran dan majalah adalah satu-satunya saluran untuk menyalurkan skill jurnalistik ketika itu. Tulisan saya berupa berita, esai lepas, artikel opini, feature, cerpen, dan sebagainya, banyak dimuat di berbagai media cetak, baik lokal maupun nasional, seperti koran Suara Merdeka (Semarang), tabloid Jumat (Jakarta), majalah Annida (Jakarta, sudah tidak terbit), majalah remaja TREN (Jakarta, sudah tidak terbit), dan majalah Ummi (Jakarta), dan sebagainya.

Bahkan tahun 1999, saya sempat direkrut menjadi salah satu trainer/mentor jurnalistik di Lembaga Pendidikan Wartawan Islam (LPWI) Ummul Qurro Purwodadi yang didirikan oleh H. Ahmad Sulasi. Sembari ikut mengelola majalah bulanan yang diterbitkan, yakni majalah Dinamika Reformasi.

Seterusnya saya sempat ikut terlibat sebagai redaktur hingga pemimpin redaksi majalah Cakrawala yang berkantor redaksi juga di Purwodadi, yang didirikan oleh Muhammad Ngafuan.  Dan saya pun masih menulis lepas di banyak media cetak saat itu, bahkan sampai sekarang.

Itu berlangsung hingga tahun 2003, hingga saat menjelang pernikahan saya, saya mulai berpikir untuk ‘naik tangga’, dari menulis di koran ke menulis buku. Sekira dua bulan menjelang pernikahan saya pada Agustus 2003, saya menyusun sebuah naskah buku yang kemudian saya kirim ke sebuah penerbit di Bandung.

Naskah itu ternyata merupakan rezeki pernikahan saya. Sekira usia pernikahan saya baru menginjak usia 5 bulan, datang kabar bahwa naskah yang saya kirim sebelum menikah itu di-acc dan segera diterbitkan.

Akhirnya pada bulan Februari 2004, naskah itu terbit dan membukukan catatan penjualan yang cukup cemerlang. Cetak pertama sejumlah 3 ribu eksemplar, langsung ludes ditelan pasar dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan. Cetak lagi, ludes lagi. Cetak lagi ludes lagi….Alhamdulillah!

Buku itu yang kemudian menjadi tonggak produktivitas saya menulis buku, hingga mencapai lebih dari 60-an buku hingga sekarang, dengan menjelajah ke berbagai penerbit di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Sembari masih menulis lepas di koran dan majalah.

Menulis Buku Panduan Menulis

Pengalaman menerjuni dunia jurnalistik dan menulis buku itulah yang kemudian membuat saya  berpikir untuk mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk bisa mengikuti jejak saya menulis. Baik sebagai profesi maupun sekadar sebagai sarana menyampaikan ide dan pesan-pesan dakwah.

Saya memang lahir dari keluarga religius dan menempuh pendidikan di sekolah agama sejak kecil, sehingga dakwah menjadi urat nadi hidup saya. Ketika di pesantren, bahkan sejak sebelum memasuki pesantren, saya memiliki minat di bidang retorika (ceramah). Muballigh idola saya adalah da’i sejuta umat KH. Zainuddin MZ. Bahkan saya pernah meniru gaya ceramahnya dan sempat menjuarai lomba berceramah tingkat internal di pesantren.

Seiring dengan minat saya di bidang retorika, saya juga memiliki minat di bidang jurnalistik. Seiring waktu, keduanya berkembang. Meski saat ini yang lebih menonjol adalah saya sebagai penulis, namun minat dan kemampuan retorika menjadi bekal penting saat kini ketika saya musti mengisi pengajian, berkhutbah, dan atau mengisi seminar, workshop, dan pelatihan. Namun sekarang, tentu saya sudah tidak lagi meniru gaya KH Zainudin MZ saat berceramah. Seiring kedewasaan, saya lebih enjoy menjadi diri sendiri daripada menjadi seperti orang lain.

Da’ Bersenjata Pena

Berdakwah dengan Menulis Buku

Pengalaman jurnalistik dan menulis buku, menjadi trigger saya untuk berbagi pengalaman. Akhirnya saya pun menyusun buku yang kemudian terbit dengan judul Da’i Bersenjata Pena (Diterbitkan oleh penerbit Pustaka Ulumuddin, Bandung), dan disusul buku lainnya berjudul Berdakwah dengan Menulis Buku (Diterbitkan penerbit Media Qalbu, Bandung).

Bila yang pertama adalah panduan menulis di surat kabar (koran dan majalah), maka buku yang kedua, sesuai judulnya, adalah panduan menulis buku. Sematan kata da’i yang berarti pendakwah; dan kata dakwah itu sendiri, karena memang saya melakoni diri sebagai penulis juga dalam kerangka dakwah. Menulis apapun, adalah dalam rangka seruan untuk menuju kebaikan dan menjauh dari kemunkaran.

Bagi saya, dakwah tidak hanya mengajak orang untuk shalat, berzikir, bersedekah, dan sebagainya. Namun mengajak orang untuk meningkatkan taraf hidup, produktif berkarya, meningkatkan gizi keluarga, dan sebagainya, juga merupakan bagian dari dakwah.

Dakwah musti dielaborasi dan sarananya juga musti diperkaya, disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dakwah tak melulu harus lewat ceramah dan khutbah, namun juga harus merambah ke sarana lain, seperti media massa, baik cetak maupun elektronik, baik offline maupun online. Begitu seterusnya. Agar kebaikan dan pesan-pesan dakwah terus menggema melintasi ruang dan waktu.* (@Kang Asti)

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Bilik Literasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *