You cannot copy content of this page

Berbagi ‘Ilmu Menulis’ Kepada Para Pegiat Literasi di Grobogan

Hari ini, Sabtu (9/9/2017) saya berkesempatan untuk berbagi ilmu di acara “Pelatihan Menulis dan Bedah Buku” yang dihelat oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Trunoyudho yang berada di Desa Karangwader, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan. Acara yang bertempat di gedung PAUD Ceria Plus desa setempat itu diikuti 20 pegiat literasi perwakilan dari pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang ada di Kabupaten Grobogan.

Saya senang dan appreciate bahwa  di sebuah desa yang cukup pelosok, dengan akses jalan yang masih banyak ditemukan gronjal-gronjal karena berbatu, ada nadi kegiatan literasi yang berdenyut. Bahkan, dari sini berusaha berpijar untuk menebarkan cahayanya ke sesama pegiat literasi di kabupaten yang dikenal dengan kuliner becek itu.

Adalah Bambang Budiman, M.Pd, sosok bertangan dingin di balik denyut nadi PKBM  Trunoyudho yang telah memijarkan cahaya literasi itu. Dan beliaulah yang mengundang saya untuk membakar semangat literasi bagi para pegiat literasi di Kabupaten Grobogan yang diundangnya dalam kegiatannya tersebut.

Acara dibuka oleh Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Penawangan, Marmo, S.Pd, MM

Acara pelatihan menulis dan bedah buku dibuka oleh Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Penawangan, Marmo, SPd, MM. Begitu beliau selesai memberi sambutan dan membuka acara, acara dilanjutkan coffee break sebentar, selanjutnya sepenuhnya diserahkan kepada saya untuk menghujani ‘ilmu menulis’ kepada para pegiat literasi yang hadir.

Sebagai Narasumber Tunggal

Di kegiatan ini saya memang didaulat sebagai narasumber tunggal untuk mengisi dua sesi acara sekaligus, yakni sesi pelatihan menulis dan sesi bedah buku. Di sesi pertama, saya diminta untuk melatih para peserta agar memiliki skill menulis, setidaknya di level dasar. Tapi di pelatihan itu, saya tidak tertarik untuk ‘mengajari’ mereka ilmu menulis yang bersifat teknis. Saya lebih tertarik untuk berbicara soal motivasi menulis.

Kenapa? Karena bagi saya, motivasi menulis itu jauh lebih penting karena ia berbanding lurus terhadap keistiqamahan seseorang menekuni dunia kepenulisan. Semakin kuat motivasinya, maka akan semakin istiqamah menekuni dunia kepenulisan, meski dihadapkan oleh banyak sekali tantangan dan hambatan.

Satu hal yang saya tekankan bagi mereka yang serius dan memiliki komitmen untuk menjadi seorang penulis adalah kesabaran menikmati proses menjadi seorang penulis. Karena kepiawaian menulis tidak begitu saja jatuh dari langit, tapi ia harus melalui proses berlatih dengan sepenuh ketekunan dan kesabaran, yang itu kadang harus melewati proses yang tidak sebentar.

Menulislah terus dan terus menulis meski tulisan-tulisan tersebut berkali-kali ditolak redaksi dan penerbit, misalnya. Kelak pada satu titik, tulisan kita akan menembus meja-meja redaksi dan memukau para editor karena kematangan tulisan kita. Dan kematangan itu harus melalui proses yang membutuhkan masa tempuh, yang di dalamnya boleh jadi ada cibiran dan penolakan-penolakan.

Bercerita Tentang Proses Kreatif   

Sesi pelatihan menulis selesai, setelah saya memberikan kesempatan untuk bertanya kepada beberapa peserta dan kemudian saya menjawabnya secara tuntas. Berlanjutlah pada sesi selanjutnya, yakni bedah buku.

Berinteraksi dengan peserta pelatihan

Saya membedah dua buku saya sekaligus, yakni ‘Membumikan’ Takwa dan Menempuh Jalan ke Surga. Bedah buku kali ini berbeda karena yang dibedah bukan dari sisi konten atau isi buku, melainkan dari sisi proses kreatif menulis, yakni proses kreatif saya dalam menghasilkan dua buah buku tersebut.

Buku pertama, yakni ‘Membumikan’ Takwa diterbitkan oleh penerbit Hanum Publisher yang saya kelola. Isinya kumpulan artikel-artikel saya yang pernah dimuat di koran dan majalah, antara lain Suara Merdeka, Koran Muria, dan Suara Hidayatullah.

Adapun buku kedua, yakni Menempuh Jalan ke Surga, diterbitkan oleh penerbit Quanta, imprint dari penerbit Elex Media Komputindo (Kompas-Gramedia Group). Buku tersebut berisi catatan-catatan (notes) saya di facebook.

Baca juga: Siasat Menulis Buku Secara Nyicil

Maka, di sela saya menceritakan proses kreatif di balik kedua buku tersebut, saya pun menyatakan bahwa tantangan bagi pegiat literasi adalah bagaimana menjadikan media sosial seperti facebook sebagai media latihan menulis sebelum berkarya yang sesungguhnya. Tulislah status-status yang cerdas, bernas, berisi ide-ide atau informasi yang positif dan kontruktif.

Saya pun mengajak, mulai sekarang,  berhentilah menjadikan media sosial sekedar sebagai tempat berkeluh kesah, curhat, atau hal-hal negatif dan remeh temeh lainnya. Semoga bermanfaat.* (Kangasti.com)

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *