You cannot copy content of this page
Expo Grobogan Ekonomi Kreatif 2017

Melihat Kreativitas Wong Grobogan di Expo Grobogan Ekonomi Kreatif 2017

Bertempat di Alun-alun Purwodadi, selama 4 hari, Kamis-Minggu, 30 November-3 Desember  2017 dihelat acara Expo Grobogan Ekonomi Kreatif 2017. Dalam kegiatan yang dimeriahkan dengan sejumlah kontes, seperti desain motif batik Grobogan, film pendek, fashion show, dll itu, dipamerkan sejumlah produk kreatif dari sejumlah binaan instansi pemerintahan Kabupaten Grobogan, lembaga sekolah, swasta, komunitas, dan sebagainya.

Sabtu malam (2/12/2017), saya pun menyempatkan untuk berkunjung ke even tersebut. Menurut saya, banyak produk-produk yang bagus meski biasa-biasa aja yang disuguhkan, namun harus diakui, di antaranya ada beragam produk inovatif yang menarik. Sebagai penghasil jagung dan kedelai skala nasional misalnya, saya jumpai kreasi–kreasi yang diolah dari dua bahan pangan unggulan tersebut, yang patut untuk dikembangkan dan dipromosikan secara lebih gencar, agar produk tersebut lebih dikenal secara luas dan ikonik.

Di stan Rumah Kedelai Grobogan (RKG) saya jumpai ada beragam olahan tempe sehat non-GMO alias tanpa rekayasa genetika. Tempe tersebut diolah dari kedelai varietas unggul milik Kabupaten Grobogan yang sudah menasional. Bahkan di even ini pula, Kabupaten Grobogan menorehkan keberhasilan membuat tempe raksasa atau berukuran besar, yang kemudian dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai rekor tempe terbesar sekaligus membukukan rekor dunia.

Expo Grobogan Ekonomi Kreatif 2017
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo didampingi Bupati Grobogan Sri Sumarni saat meninjau tempe raksasa. (Foto: @SumarniGrobogan)
Bupati Grobogan Sri Sumarni (kanan) menerima penghargaan MURI dari Eksekutif Manajer Muda MURI, Sri Widayati. (Foto: @SumarniGrobogan)

Tempe raksasa tersebut berukuran 7 x 10 meter dengan ketebalan 4 centi meter. Kebayang kan betapa gedenya. Rekor itu menyisihkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh PT Republik Telo Kota Malang yang pada 16 Januari 2014 memecahkan rekor serupa dengan membuat tempe dengan ukuran 6 x 9 meter.  Sehingga catatan rekor tersebut hanya mampu bertahan 3 tahun, 10 bulan, 14 hari, setelah Kabupaten Grobogan berhasil membuat tempe yang lebih besar.

Untuk membuat tempe sebesar itu, Pemkab Grobogan menyiapkan 2 ton kedelai lokal varietas unggul Grobogan non-GMO dan pengerjaannya melibatkan 85 orang. Ke-85 orang itu sejak tiga hari sebelum pemecahan rekor tersebut telah melakukan serangkaian proses pembuatan tempe, sejak penyortiran, pembersihan 2 ton kedelai, dan pemasakan.

Kedelai yang telah dimasak, diletakkan di atas triplek dengan ukuran 7,5 x 11 meter yang telah dilapisi plastik. Lalu ditaburi ragi secara merata untuk proses fermentasi, baru kemudian ditutup rapat. Serangkaian proses itu dilakukan di Ruang Paripurna II DPRD Grobogan.

Wedang Rambut Jagung

Saat berkeliling dari stan ke stan, saya tertarik dengan stan Rumah Kreatif Grobogan (RKG). Di stan ini, ada beberapa produk kreatif yang dipamerkan, di antaranya adalah dalam bentuk minuman. Setelah saya telisik, minuman tersebut adalah wedang klobot dan wedang rambut jagung. Sebuah kreasi yang keren, batin saya.

Di stan Rumah Kreatif Grobogan (RKG). Mencicipi wedang rambut jagung. (Foto: Abdul Rozak)

Sebelum ada dua jenis wedang itu, sebelumnya saya juga tertarik dengan minuman berupa sirup yang diolah dari bahan pangan jagung. Sirup Jagung Grobogan alias SiJaGro, begitu lebelnya. Tapi sayang, produk itu kini menghilang, entah kenapa.

Karenanya, saya berharap, kreasi minuman seperti  wedang klobot dan wedang rambut jagung ini mendapat perhatian extra, agar minuman ini tidak hanya hadir saat ada even saja, namun terus berkelanjutan, yang ke depan bisa menjadi salah satu produk minuman sehat kebanggaan wong Grobogan.

Saya diberi kesempatan oleh Pak Indro—yang menjaga stan tersebut—mencicipi minuman wedang tersebut. Rasanya manis. Ada aroma jagungnya yang khas. Ke depan bisa di-create lagi untuk terus diperbaiki kualitas rasa, aroma, dan pengemasannya.  Sehingga menjadi semakin baik dan bisa bertanding dengan minuman khas serupa dari daerah lainnya, seperti wedang uwuh, wedang secang, bandrex, dan sebagainya.

Pengembangan Wisata

Bersama para pelaku wisata Grobogan di depan stan Tuntang Rafting. (Foto: Parjiyo)

Selain produk olahan, acara expo tersebut juga melibatkan para pegiat dan pelaku wisata untuk membuka stan dan mempromosikan paket wisata mereka. Selain dari komunitas Wisata Grobogan (WG) yang dikomandani oleh mas Iyant Re, ada juga anak-anak muda dari Dharma Raja Adventure yang membuka stan dan memperkenalkan salah satu destinasi wisata baru yang cukup menarik dan menantang, yakni rafting atau arung jeram di Sungai Tuntang, di Kecamatan Kedungjati.

Wisata rafting itu tergolong baru, tepatnya dimulai sejak bulan September 2016. Awalnya hanya melayani river tubing mengingat peralatannya yang sederhana. Baru pada Juli 2017, pengelola dapat membuka rafting dan saat ini memiliki tiga perahu karet, serta memiliki 6 orang pemandu.

Potensi wisata yang coba dikembangkan oleh anak-anak muda itu perlu diapresiasi dan didukung agar ke depan bisa menjadi destinasi wisata favorit berbasis petualangan air. Dukungan terutama dari para pemangku kebijakan, sehingga bisa terjadi percepatan dalam proses pengembangannya.

Kabupaten Grobogan sesungguhnya kaya potensi, baik potensi alam, wisata, sejarah, dan sebagainya. Begitu juga Kabupaten Grobogan kaya akan sumber daya manusia berkualitas. Ini dibuktikan banyaknya wong Grobogan yang menjadi sukses, baik sebagai pengusaha, dosen, sastrawan, kiai,  dan sebagainya. Bila semuanya guyub dan solid, didukung oleh para pemangku kebijakan, maka impian menjadi Grobogan Hebat saya kira bukan utopia. Begitu.* (Kang Asti)

 

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Comments

Desember 5, 2017 at 7:19 pm

Appreciate this post. Will try it out.





Desember 6, 2017 at 2:00 pm

Hal yang paling anti mainstream yg itu wedang rambut jagungnya manis manis gimana gitu hehehe



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *