You cannot copy content of this page

Mengintip Hitung-hitungan Royalti Penulis Buku

Berapa sih besaran uang yang akan diterima seorang penulis dari buku-buku karyanya yang telah diterbitkan oleh penerbit? Pertanyaan ini sering membuat penasaran. Menulis, seperti yang sering saya singgung, memang memiliki dampak ekonomi. Sehingga tak sedikit penulis yang memiliki motif menulis untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

Kunci dari meraup penghasilan dengan menulis buku adalah pada semakin larisnya buku yang kita tulis. Atau dalam bahasa yang lain “buku kian laris, rezeki kian manis” atau “kian laris buku, kian tebal saku”. Artinya, semakin terjual banyak buku yang kita tulis, maka rezeki yang akan kita dapatkan juga akan semakin banyak.

Lalu, bagaimana sebuah penerbit menghargai karya seorang penulis? Sejauh pengalaman saya berhubungan dengan berbagai penerbit, ada tiga sistem yang biasa diterapkan: Pertama; royalti. Kedua; jual putus. Dan ketiga; sistem kontrak.

Umumnya, penerbit menggunakan sistem royalti dalam menghargai karya seorang penulis buku. Besaran royalti itu bervariasi antara penerbit satu dengan penerbit yang lainnya. Masing-masing penerbit memiliki policy masing-masing. Namun, besaran standar royalti penerbit di Indonesia adalah 10 % dari harga jual eceran (bruto) per bukunya. Ada juga yang hanya mematok kisaran 5 % sampai 8%.

Dari pengalaman saya, selain 10% dari harga bruto, ada pula beberapa penerbit yang mematok royalti 15 %, namun dihitung dari harga bersih (netto) per bukunya. Harga bersih itu sendiri adalah harga jual buku dikurangi biaya marketing atau rabat maksimal distributor sebesar 55%. Royalti itu sendiri diberikan secara berkala, umumnya setiap enam bulan sekali.

Sistem Jual Putus dan Kontrak

Selain memakai sistem royalti, penerbit juga menerapkan sistem jual putus (flat). Besaran angka yang dipatok untuk sistem jual putus ini umumnya berkisar antara Rp 1 juta sampai tak terhingga, tergantung ketebalan buku, tingkat kesulitan, proyeksi pasar, dan kredibilitas penulis, serta negosiasi penulis.

Sistem jual putus ini menguntungkan penulis yang membutuhkan dana segera karena terdesak kebutuhan. Kelemahannya, jika buku itu meledak (baca: laris manis) di pasaran, sang penulis buku itu tidak dapat menikmati kesuksesan itu. Penerbitnyalah yang meraup untung besar.

Adapun sistem kontrak, menurut pengalaman saya, adalah kombinasi dari kedua sistem royalti dan jual putus. Besaran angka biasanya dipatok dari oplag. Misalnya ada penerbit yang menghargai cetakan pertama sebesar Rp 2 juta dengan oplag 3000 eksemplar. Begitu seterusnya untuk cetakan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

Nah, dari gambaran singkat sistem “penghargaan” terhadap sebuah karya buku di atas, maka kita akan bisa memperkirakan peluang meraih penghasilan yang dapat kita tangkap dari kerja menulis buku.

Taruhlah sekedar contoh, kita menulis buku standar dengan harga jual Rp 30 ribu dan dicetak pertama 5.000 eksemplar. Bila menggunakan royalti standar penerbitan di Indonesia sebesar 10 %, berarti royalti global yang akan kita terima bila buku terjual semua adalah Rp 30 ribu x 10 % (besaran royalti) = Rp 3.000,- per eksemplar, kemudian dikalikan 5000 eksemplar (jumlah cetak) sehingga hasilnya adalah: Rp 15 juta (lima belas juta rupiah). Jumlah ini masih dikurangi pajak sebesar 15%, sehingga royalti bersih yang diterima penulis adalah Rp 12.750.000,- (Dua belas juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).

Saya punya pengalaman menulis buku dengan harga jual Rp 50 ribu. Buku itu dalam jangka setahun terjual lebih dari 7000 eksemplar. Sehingga besaran royalti yang saya terima adalah Rp 50 ribu dikalikan 10% besaran royalti = Rp 5 ribu, sehingga hasilnya adalah Rp 5 ribu dikalikan 7000 eksemplar = Rp 35 juta. Jumlah ini dikurangi pajak 15%, sehingga royalti bersih yang saya terima adalah Rp 29.750.000,- (Dua puluh sembilan juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).

Dengan menggunakan sistem royalti, maka semakin laris buku kita, apalagi bila sampai dicetak ulang berkali-kali karena saking larisnya, akan semakin besar jumlah royalti yang kita terima. Dan semakin produktif kita, dalam arti semakin banyak buku yang kita tulis dan diterbitkan, akan semakin memiliki peluang lebih besar lagi jumlah penghasilan yang akan kita peroleh.

Saat ini, peluang membuka pintu rezeki dengan menulis buku memang bukan hal yang aneh atau mustahil. Artinya, meraih penghasilan yang melimpah dari menulis buku bukanlah sebuah provokasi tak berdasar, tetapi merupakan peluang yang benar-benar bisa direalisasikan. Anda tertarik mencobanya? * (Kang Asti)

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *