You cannot copy content of this page

Jabat Tangan NU-Muhammadiyah

Kaver buku “Muhammadiyah Itu NU”

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) adalah dua ormas Islam terbesar di Indonesia. Sebuah potensi besar memajukan negeri ini bila keduanya bersatu dan bersinergi. Sayangnya, selama ini keduanya mengalami kerenggangan hubungan yang bersimpul dari perbedaan pemahaman di bidang furu’ (cabang) yang sesungguhnya tidak prinsipil. Perbedaan fiqih, terutama dalam soal kaifiyat (tata cara) ibadah, mengkristal selama bertahun-tahun, lalu menjadi semacam ‘identitas’ yang membedakan keduanya.

NU shalat Subuh pakai qunut, Muhammadiyah tidak. NU adzan shalat Jum’at dua kali, Muhammadiyah satu kali. NU shalat pakai ushali yang dilafadzkan, Muhammadiyah tidak. NU Tarawih 20 rekaat, Muhammadiyah 8 rekaat. NU shalat ‘Id di masjid, Muhammadiyah di lapangan. Itulah di antara sederet perbedaan dalam amaliah ibadah yang selama ini menjadi alasan untuk seolah absah tidak berpadu secara kukuh dalam ukhuwah.

Buku berjudul Muhammadiyah itu NU, Dokumen Fiqih yang Terlupakan ini mengangkat sebuah dokumen yang nyaris terlupakan dan terkubur dalam sejarah. Dokumen itu bernama Fiqih Muhammadiyah 1924 yang dikarang dan diterbitkan oleh Bagian Taman Pustaka Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1924. Kitab itu ditulis dengan bahasa Jawa dan huruf Arab pegon.

Dari dokumen inilah diketahui pernah ada titik temu, bahkan titik persamaan, antara Muhammadiyah dan NU dalam pemahaman fiqih. Betapa tidak, isi kitab fiqih itu sama persis dengan kitab-kitab pesantren yang banyak diajarkan di kalangan warga NU. Bahkan isinya merupakan amaliah orang NU yang sampai sekarang terus dipertahankan.

Masalahnya hanyalah satu hal, bahwa di tahun 1924 saat kitab fiqih itu terbit, NU belum lahir. NU lahir tahun 1926 alias dua tahun setelah kitab itu terbit. (hlm. 13). Namun dari kitab itu diketahui bahwa dulunya Muhammadiyah juga pakai qunut saat shalat Shubuh, juga adzan dua kali saat jum’atan, juga pakai ushalli saat shalat, juga shalat ‘Id di masjid sebagaimana yang dilakukan oleh warga NU, dan sebagainya.

Hal itu bisa dipahami mengingat Kiai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammdiyah memiliki akar keilmuan yang sama dengan para ulama pendiri NU. Mereka satu guru, satu ilmu. Bahkan antara Kiai Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri NU) adalah satu nasab. Keduanya sama-sama keturunan Sunan Giri. (hlm. 13). Jadi wajar, bila Kiai Dahlan dan warga Muhammadiyah ketika itu mengamalkan qunut dan tarawih 20 rekaat. Mereka adzan Jumat dua kali, dan takbiran tiga kali. Mereka shalat ‘Id di masjid bukan di lapangan. (hlm. 14).

Setelah wafatnya Kiai Dahlan pada tahun 1923, yakni setahun sebelum terbitnya kitab Fiqih Muhammdiyah 1924, dinamika yang terjadi di internal Muhammadiyah, mengantarkan pemahaman fiqih di internal Muhammadiyah mengalami metamorfosis dan perubahan yang tajam. Sehingga pada perjalanannya kemudian menjadikan Muhammdiyah dan NU berbeda secara diametral dalam berbagai pemahaman fiqih. Titik temu dan kesamaan dalam amaliah ibadah pun secara perlahan melenyap. Celakanya, perbedaan yang harusnya tidak fundamental itu, menjadi simpul renggangnya ukhuwah kedua ormas besar itu, yang riak-riaknya masih terasa hingga kini.

Buku ini menguak kembali dokumen fiqih itu. Membaca buku ini selain akan menjadikan kita melek terhadap fakta yang selama ini tersimpan dan nyaris terlupakan dalam persada sejarah, juga akan menjadikan kita bisa memahami dinamika dan pasang surut hubungan dua ormas terbesar di Indonesia itu dari waktu ke waktu, serta mengetahui peran dan kontribusi penting Muhammadiyah dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Kehadiran buku ini semoga dapat memberikan secercah harapan agar kedua ormas besar ini bersatu dalam ikatan ukhuwah yang tulus, kokoh, dan padu, karena pada dasarnya keduanya memiliki simpul kesamaan di masa lalu. Bahwa dulu, Muhammadiyah sama persis dengan NU.

Akan tetapi, sebagaimana dinyatakan oleh KH. Thoha Abdurrahman (Ketua MUI DIY) dalam pengantarnya di buku ini, NU tidak boleh berbangga hati dengan terbitnya buku ini. Tidak boleh merasa menang. Buku ini tidak boleh dianggap sebagai sebuah pukulan. Ini adalah sebuah jabat tangan sejarah dan rangkulan persaudaraan. (hlm. xiv). * (Kang Asti)

Data Buku:
Judul Buku: Muhammadiyah Itu NU: Dokumen Fiqih yang Terlupakan
Penulis: Muchammad Ali Shodiqin
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publika), Jakarta
Cetakan: Pertama, Februari 2014
Tebal: xxii + 309 hlm
ISBN: 978-602-1306-03-1

Tribun Jogja, edisi Minggu, 15 Juni 2014
Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *