You cannot copy content of this page

Potret Romansa Rumah Tangga Muhammad Saw

Kaver buku “Muhammad Saw, The Super Husband”

Kehidupan Nabi Muhammad Saw adalah kehidupan yang sarat dengan suri teladan terbaik yang bisa menjadi referensi bagi siapa pun yang menginginkan sukses di berbagai bidang kehidupan. Banyak sudah penulis yang mengupas peri kehidupannya yang penuh dengan sinar keteladanan. Salah satunya adalah buku berjudul Muhammad Saw, The Super Husband: Kisah Cinta Terindah Sepanjang Sejarah karya D. Muhammad Makhyaruddin ini.

Buku ini secara spesifik menyajikan secara mendalam potret romansa kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad bersama istri-istrinya. Melalui buku ini, penulis yang seorang dosen dan periset sejarah Islam menghadirkan potret keindahan rumah tangga Nabi sekaligus mendudukkan dan menjawab secara argumentatif, dengan data-data valid yang diambil dari sumber-sumber otoritatif, berbagai pernik-pernik dinamika dan problematika yang terjadi di rumah tangga nabi, yang sering menjadi sumber fitnah dan cibiran.

Di antara sumber fitnah dan cibiran yang kerapkali ditujukan terhadap kehidupan rumah tangga nabi adalah soal jumlah istri yang melebihi empat orang. Banyak orientalis yang melabeli Nabi Muhammad sebagai “pria haus seks” berlandaskan fakta tersebut, tanpa secara jernih menelisik kenapa Nabi Muhammad menikah dengan banyak istri.

Di buku ini dijelaskan, menikah dengan lebih dari empat istri adalah khasha’ish (aturan khusus) bagi Nabi Muhammad yang tidak berlaku bagi umatnya. Aturan khusus itu sendiri harus dipahami secara utuh, sehingga tidak menimbulkan fitnah dan prasangka negatif. Banyak orang yang tahu kebolehan Rasulullah menikah dengan banyak istri, namun sedikit yang tahu bahwa banyak kewajiban-kewajiban khusus (al-wajibat) beliau yang tidak diwajibkan kepada umatnya, baik terkait dengan pernikahan maupun di luar pernikahan. (hlm. 15).

Pernikahan Nabi Muhammad pun jauh dari motivasi syahwat. Bila menelisik perjalanan pernikahan Nabi Muhammad secara jujur dan jernih, maka akan didapati fakta tak terbantahkan bahwa beliau lebih lama melakukan pernikahan monogami daripada poligami. Beliau menjalani hidup bermonogami bersama Khadijah selama 25 tahun hingga Khadijah wafat, yakni dari usia 25 tahun hingga menginjak usia 50 tahun. (hlm. 256).

Setelah Khadijah wafat, barulah Nabi Muhammad berpoligami. Itu pun jauh dari alasan hasrat seksual, namun semata sebagai strategi dakwah. Faktanya, dalam memilih istri setelah Khadijah wafat, beliau hampir tidak mempunyai pilihan karena semuanya ditentukan oleh Allah Swt untuk kepentingan dakwah. (hlm. 357). Meski secara umum pernikahan Rasulullah bukan berdasarkan kecintaan hati, namun beliau mampu berbuat adil dan membangun mahligai rumah tangga dengan harmonis dan penuh romansa.

Namun, tetap saja banyak pihak yang menganggap kehidupan rumah tangga nabi bersama istri-istrinya tidak harmonis. Argumentasinya, rumah tangga beliau tidak luput dari terpaan problematika. Cemburu antar istri-istri beliau misalnya, telah memantik konflik dan perseteruan.

Menanggapi hal itu, penulis buku ini menyatakan, bahwa risalah Muhammad Saw justru tidak syumul (holistik, sempurna) jika tidak menyentuh problematika itu (hlm. 339). Masalah rumah tangga yang terjadi di selingkung rumah tangga Rasulullah Saw bukan sebuah aib, melainkan sebagai bukti adanya kebebasan berpendapat dan otoritas yang seimbang antara suami dan istri. Hal ini tidak seperti pernikahan raja-raja yang mengeksploitasi dan mengekang istri dengan aturan-aturan yang zalim demi sebuah gengsi (hlm. 339-340). Justru dari problematika itulah, umat bisa belajar bagaimana mengatasi prolematika dalam rumah tangga dengan bijaksana.

Di bagian akhir bab buku ini, penulis buku ini menghadirkan sosok Rasulullah yang jarang dikaji kecuali sepintas lalu saja, yakni figur Rasulullah sebagai suami yang romantis, lembut, penyabar, perhatian, dan penuh kasih sayang. Rasulullah misalnya biasa mencium istri sebelum pergi dan setelah pulang; makan sepiring berdua; berlemah lembut dan menemani istri yang sakit; mandi bersama; mengajak istri makan bersama; tidur berpelukan; mencium istri setiap waktu; bersendau gurau dan membangun keakraban, dan sebagainya. (hlm. 360-367).

Inilah buku yang berhasil menghadirkan potret romansa kehidupan rumah tangga Rasulullah yang ideal, lengkap dengan pernik-pernik problematika yang menghiasinya. Buku ini layak menjadi referensi bagi siapapun yang ingin sukses membangun mahligai rumah tangga yang indah dan harmonis.* (Kang Asti)

Data Buku:
Judul : Muhammad Saw, The Super Husband: Kisah Cinta Terindah Sepanjang Sejarah
Penulis : D. Muhammad Makhyaruddin
Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika), Jakarta
Cetakan : Pertama, 2013
Tebal : xxiv + 422 hlm
ISBN :978-602-7816-55-8

Koran Muria, edisi Minggu, 9 November 2014
Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *