Puisi-puisi Masa Silam Bambang Sadono

Kaver buku “Sumpah Setyaki”

Bambang Sadono saat ini dikenal sebagai seorang politikus ketimbang sebagai seorang seniman, apalagi penyair. Namun ia merilis buku ini yang merupakan kumpulan puisi-puisinya di masa silam. Dengan buku ini, Bambang Sadono seperti ingin menunjukkan bahwa ia punya masa lalu, sebuah fakta sejarah yang tidak bisa diingkari, sebagai seorang penyair.

Bambang Sadono mengawali karier kepenulisannya dengan menulis puisi. Kemudian ia tinggalkan karena lebih memilih sebagai seorang wartawan, sebuah dunia yang kemudian ia tinggalkan juga, untuk kemudian memilih sebagai seorang politikus, hingga kini.

“Apa pun hasilnya, sejarah adalah sejarah, inilah faktanya. Anak, istri, dan para cucu harap maklum. Suami, ayah, dan kakeknya adalah seorang penyair pada masa-masa awal sebagai seorang wartawan, politikus, dan pendidik.” Tulis Bambang Sadono dalam pengantar buku kumpulan puisinya ini. (hlm. vi).

==============================
Judul: Sumpah Setyaki, Sebuah Kumpulan Puisi
Penulis: Bambang Sadono
Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri
Cetakan pertama: Januari 2018
Tebal: viii + 101 hlm
Puisi-puisi Masa Silam Bambang Sadono
==============================

Sebelumnya Bambang juga menyatakan, “Dalam sebuah pertemuan para penyair di Semarang, awal tahun 2010-an, saya tegaskan bahwa saya sudah pensiun sebagai penyair, jauh sebelum saya pensiun sebagai wartawan.” (hlm. v)

Alasannya, menulis puisi tidak bisa menjadi sandaran hidup di masa depan. Honornya kecil. Alasan ini saya peroleh saat Bambang Sadono memberikan sambutan pada acara Lomba Membaca Sajak Tingkat Jawa Tengah di Kabupaten Grobogan dalam rangka memperebutkan piala Bambang Sadono, belum lama ini.

Tapi saya mendapatkan alasan lain. Dalam sebuah bagian tulisannya di buku berjudul Menjadi Wartawan Indonesia karya Bambang Sadono (terbit 1997), Bambang Sadono menulis, “Tapi sebelum jadi penyair, siapkan dulu mental baik-baik. Banyak orang memuji, tapi saya katakan puisi itu gombal, dan ilham untuk menulis puisi itu tai kucing. Lebih baik bicara soal beras, atau soal keadilan daripada bicara soal puisi.”

Saya berpose dengan Bambang Sadono seusai pembukaan Lomba Membaca Sajak Tingkat Jawa Tengah di Purwodadi.

Terdapat 49 sajak di buku yang diberi tajuk Sumpah Setyaki ini. Sebanyak 44 puisi ditulis pada rentang 1977-1988. Selebihnya 1 puisi ditulis pada tahun 2008 dan 4 puisi ditulis pada tahun 2017.

Membaca puisi-puisi Bambang Sadono di buku ini menunjukkan bahwa ia punya talenta merangkai kata menjadi sajak dan puisi yang berkarakter, tidak remeh-temeh dan sekadar berbunga-bunga. Ia cukup piawai memainkan dan memilih kata yang memiliki makna dan enak dibaca.

Simak cuplikan puisi yang berjudul Setelah 47 Tahun (hlm. 15), satu-satunya puisi yang ditulis pada tahun 2008:

setelah 47 tahun/ aku menyerah dan mengaku/ hotel paling nyaman adalah berbaring di sisimu/ menu paling sempurna adalah makan bersamamu/ inilah pernyataan paling tulus/ Restuku

Bagi yang mengenal Bambang Sadono, maka akan segera tahu bahwa puisi itu ditujukan kepada istrinya yang memang bernama Restu.

Buku ini sebagai bukti, sajak-sajak masa silam Bambang Sadono, menurut saya, cukup menawan.* (Kang Asti, penulis lepas dan pegiat literasi, tinggal di Grobogan)

*Resensi dimuat di Tribun Jateng, edisi Minggu, 1 April 2018. Baca: http://jateng.tribunnews.com/2018/04/01/puisi-puisi-masa-silam-bambang-sadono

Tribun Jateng, edisi Minggu, 1 April 2018

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Resensi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *