Guru dan Orangtua Perlu Memiliki Kemampuan Berkisah Kepada Anak

Saya saat menyampaikan materi pengantar urgensi berkisah bagi pembentukan karakter anak. Foto dokumen panitia.

Pada hari Minggu (6/5/2018), Mumtaz Training Centre (MTC) bekerjasama dengan penerbit Hanum Publisher menggelar acara Pelatihan Teknik Dasar Mendongeng di gedung SDIT Ilma Nafia Godong, Jl. Moch. Kurdi No. 27B, Desa Bugel, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Pelatihan menghadirkan Kak Jendro, seorang pendongeng dari Semarang dan penulis buku Praktik Mendongeng.

Pelatihan diikuti dengan antusias puluhan bunda PAUD, TK/RA, dan SD. Saya kebagian ngisi materi pengantar urgensi berkisah untuk pembentukan karakter anak. Saya katakan, proyeksi pendidikan di masa depan menghajatkan anak dibekali tiga hal agar bisa berkompetisi di persaingan global dengan tetap menunjukkan karakter dirinya sebagai insan yang beragama. Ketiga hal itu adalah karakter, kompetensi, dan literasi.

Dalam konteks literasi, membaca dan daya baca adalah salah satu bentuk literasi dasar yang harus ditanamkan sejak dini. Meminjam istilah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, orang Indonesia itu minat bacanya tinggi, tapi daya bacanya rendah. Minat baca tinggi dilihat dari minat baca whatsapps yang tinggi, tapi giliran ketemu buku, angkat tangan hehe…

Baca juga: Bersama Kak Ari, Ketua Umum PPMI Pusat

Untuk menumbuhkan minat dan daya literasi anak terhadap bacaan perlu ditanamkan sejak dini. Salah satunya, guru (terutama tingkat satuan PAUD/TK/SD) dan juga orangtua perlu memiliki kemampuan berkisah kepada anak. Minimal guru atau orangtua memiliki kemampuan membacakan buku cerita yang baik kepada anak. Yakni membaca buku cerita dengan disertai vokal, intonasi, ekspresi, dan gesture sesuai alur cerita, sehingga anak menjadi tertarik dan bergairah saat mendengarkan cerita yang dibacakan.

Berfoto bersama usai pelatihan. Foto dokumen panitia

Membacakan cerita seperti itu bila dilakukan dengan rutin akan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak, di samping menumbuhkan daya imajinasi anak. Selain itu, dampak positif lainnya akan dapat dirasakan, antara lain kedekatan dan hangatnya hubungan kasih sayang dengan anak yang makin intens.

Pada kesempatan itu, saya juga berkesempatan mencontohkan praktik membacakan buku kepada anak sebagai bagian dari upaya ikut menyosialisasikan program Gernas Baku (gerakan nasional orangtua membacakan buku). Buku yang saya gunakan adalah buku Kisah Teladan  Para Nabi yang ditulis oleh Kak Ari Prabowo, Ketua Umum Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI) Pusat.

Buku karya Kak Ari ini memang istimewa, disusun dengan memadukan interaksi unsur pikir, zikir, dan amal, serta diberikan pewarnaan berbeda pada teks untuk memudahkan para guru dan orangtua dalam mengisahkannya kepada anak-anak.

Setelah paparan saya usai, selanjutnya sepenuhnya peserta mendapatkan materi tentang teknik berkisah atau mendongeng yang dipaparkan secara apik dan menarik oleh Kak Jendro. Tidak hanya teori, para peserta juga mendapatkan contoh praktik mendongeng dari Kak jendro yang begitu memukau, dan para peserta pun diajak untuk bereksperimentasi.

Usai pelatihan, berfoto bersama dan sepakat untuk membentuk group WA sebagai cikal bakal gerakan sejuta guru berkisah. Bismillah.* (Kang Asti, www.kangasti.com)

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di News. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *