Membaca Buku Secara ‘Ngemil’, Kenapa Tidak?

Saya (tengah) saat memaparkan materi di seminar motivasi literasi di aula Dinarpusda Grobogan. Foto dari panitia.

Selasa (22/5/2018), Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Grobogan menggelar seminar motivasi literasi di aula setempat. Saya diundang untuk menjadi pembicara seminar yang dihadiri para pegiat dan relawan literasi di Kabupaten Grobogan itu.

Acara seminar dibuka oleh Kabid Perpustakaan Dinarpusda Kabupaten Grobogan, Mublak Purbiantoro, SH. Dalam sambutannya, beliau menyatakan pihaknya senang dengan acara-acara seperti ini karena bisa menjadi wahana mencerdaskan generasi muda dan mendorong minat baca dan menulis. Pihaknya berharap para pegiat dan relawan literasi dapat terus bersinergi untuk menggiatkan literasi di Kabupaten Grobogan.

Sementara itu dalam paparan materi, saya menyatakan, daya baca masyarakat Indonesia termasuk rendah. Membaca buku belum menjadi budaya. Padahal membaca memiliki banyak manfaat yang sangat banyak dalam kehidupan.

Membaca akan memperkaya wawasan dan cakrawala pandang seseorang. Dengan membaca seseorang akan kaya perspektif dalam menyikap dinamika dan problematika kehidupan. Sehingga seseorang yang rajin membaca, hidupnya akan lebih bermakna.

Mengatasi Keengganan Membaca

Saya sampaikan, untuk mengatasi keengganan membaca, maka kuncinya adalah dengan mengubah paradigma tentang membaca. Bila saat ini kita masih berparadigma bahwa membaca itu membosankan dan tidak menarik, maka harus kita ubah menjadi membaca itu mengasyikkan, membaca bikin pintar dan bikin hidup lebih berwarna dan dinamis.

Tentang teknik membaca, saya menyebutkan gaya SAVI, yakni Somatis, Audio, Visual, dan Intelektual. Somatis artinya dalam membaca buku tak musti harus duduk terpekur di depan buku. Namun membaca bisa dalam posisi rileks. Sembari duduk-duduk di taman atau di bawah pohon yang rindang. Bila mata capek, bisa istirahat dulu dengan mengerjap-ngerjapkan mata atau bisa juga dengan berjalan-jalan dulu.

Dari kiri: Mublak Purbiantoro (Kabid Perpustakaan Dinarpusda Grobogan), Kak Erwin (penulis buku), dan saya berpose seusai launching buku di sela seminar. Foto dari panitia.

Audio, maksudnya  bila mendapati kalimat yang sulit dipahami, maka bacalah kalimat itu agak keras sehingga didengar oleh telinga kita sehingga telinga kita bisa ikut mencerna apa yang kita baca. Lalu visual, maksudnya di sela-sela membaca kita bisa membuat catatan atau grafis yang bisa membantu kita memahami apa yang kita baca.

Yang terakhir, intelektual, maksudnya di sela-sela atau usai membaca kita bisa merefleksikan apa yang kita pahami dari apa yang kita baca. Sehingga apa yang kita baca lebih mengendap di dalam otak kita.

Selain itu, saya juga menyampaikan bahwa membaca buku juga bisa dilakukan dengan cara ngemil. Kalau makan boleh secara ngemil, kenapa tidak kita terapkan dalam membaca. Membaca buku bisa secara ngemil. Pagi 5 lembar, siang 2 lembar, lalu malam 5 lembar, lama-lama akan selesai juga membaca satu buku. Begitu seterusnya, sehingga tak terasa kita sudah membaca banyak buku.

Launching Buku Puisi

Di sela seminar tersebut, di-launching buku kumpulan puisi berjudul Burung-burung yang Enggan Terbang karya Ketua Laskar Baca Grobogan, Erwin NS. Pambudi. Buku tersebut diterbikan oleh penerbit Hanum Publisher. Dan acara seminar diakhiri dengan buka bersama. Gurih.* (Kang Asti, www.hanumpublisher.com)

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di News dan tag . Tandai permalink.

1 Response to Membaca Buku Secara ‘Ngemil’, Kenapa Tidak?

  1. Anasrullah berkata:

    Bagus.
    Lanjutkn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *