You cannot copy content of this page

Panduan Fiqih Kesehatan Saat Berpuasa

Kaver buku “Fiqih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa dan Ramadhan”

Puasa Ramadan sebulan penuh adalah salah satu bentuk ibadah mahdah dalam Islam yang terkait langsung dengan dimensi kesehatan. Menjalankannya butuh stamina dan fisik yang sehat. Sehingga bagi seorang muslim yang sakit atau sedang dalam perjalanan (safar), diberikan dispensasi atau rukhshah untuk tidak menunaikannya. Namun wajib menggantinya di bulan yang lain.

Terkait dengan fenomena kesehatan kontemporer, terdapat sejumlah pertanyaan yang sampai kini masih sering ditanyakan kaitannya dengan fiqih puasa, seperti apakah suntikan membatalkan puasa? Bagaimana pula dengan pemakaian inhaler, obat mata, obat hidung, dan obat telinga? Lalu apakah anestesi dan  obat bius membatalkan puasa?

==============================
Judul: Fiqih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa dan Ramadhan
Penulis:
dr. Raehanul Bahraen
Penerbit: Muslimafiyah Publishing, Yogyakarta
Cetakan pertama: April 2018
Tebal: xii + 203 hlm
==============================

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membutuhkan jawaban yang tegas dan jelas dengan argumentasi yang meyakinkan, agar seorang muslim dapat menjalankan puasa dengan nyaman tanpa diliputi keraguan.

Dalam konteks itulah nampaknya Raehanul Bahraen, seorang dokter yang juga pengkaji Islam dari Yogyakarta, menulis buku ini. Di dalam buku ini dibahas berbagai wacana dan problematika seputar dunia kesehatan kaitannya dengan fiqih puasa dan kesehatan orang yang sedang berpuasa secara umum.

Tidak hanya terkait dengan hukum fiqih berkenaan dengan status hukum suntikan, inhaler, dan obat mata, hidung atau telinga, tapi juga fenomena kesehatan lainnya seperti donor darah bagi orang yang berpuasa; cara berpuasa orang yang menderita epilepsi, maag, dan stroke; panduan buka dan sahur dalam kajian sunnah dan kesehatan; hukum yang terkait dengan wanita seperti berpuasa dalam kondisi hamil atau menyusui; dan masih banyak lagi.

Setiap bahasan dilengkapi dengan keterangan secara medis dan argumentasi syariah dengan mengutip pendapat para ulama yang otoritatif di bidangnya. Seperti saat membahas terkait hukum suntikan, penulis membahas terlebih dahulu macam-macam suntikan dalam praktik kedokteran.

Disebutkan, suntikan ada tiga macam, yakni suntikan melalui kulit (intra cutan) misalnya suntikan insulin; suntikan melalui otot (intra muscular) misalnya suntik antihistamin dan beberapa jenis vaksin, dan suntikan melalui pembuluh darah (intra vena) misalnya antinyeri, infus, dan vitamin. (hlm. 11).

Dari pembahasan macam-macam jenis suntikan seperti itu, baru kemudian dirinci pembahasan terkait dengan status hukumnya. Dalam kajian penulis, suntikan melalui kulit tidak membatalkan puasa, karena tidak ada saluran khusus ke organ pencernaan atau tidak menimbulkan energi dan tidak membuat kenyang. (hlm. 12).

Suntikan melalui otot juga tidak membatalkan puasa karena sama dengan suntikan melalui kulit, yaitu tidak ada saluran khusus ke organ pencernaan atau tidak menimbulkan energi dan tidak mengenyangkan.

Penulis mendasarkan kajian itu dengan mengutip pendapat Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan dan fatwa al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts wal Ifta’ (Komite Fatwa di Arab Saudi). (hlm. 13).

Adapun suntikan melalui pembuluh darah dirinci menjadi dua, yakni suntikan yang mengandung bahan makanan misalnya suntik vitamin C dan suntik infus, maka ini membatalkan puasa. Sedang suntikan yang tidak mengandung makanan misalnya suntik antinyeri dan antihistamin, maka ini tidak membatalkan puasa.

Penulis lalu mengutip pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin terkait dengan rincian hukum tersebut. (lihat hlm. 13-14).

Metode itu pula yang digunakan penulis saat membahas status hukum inhaler, obat mata, obat hidung, dan obat telinga, serta anestesi dan  obat bius bagi orang yang menjalankan puasa, juga pada pembahasan-pembahasan lainnya.

Buku ini penting dimiliki oleh kaum muslimin, karena di dalamnya berisi kajian-kajian penting fiqih kesehatan kontemporer kaitannya dengan puasa yang perlu diketahui. Selain berisi kajian hukum fiqih, buku ini juga membahas manfaat puasa bagi kesehatan dan panduan untuk meraih kesehatan dengan berpuasa yang tepat, seperti tidak membiasakan tidur setelah sahur, tetap berolahraga selama bulan Ramadan, dan selalu memperhatikan nutrisi dan cairan.

Semua dibahas dengan bahasa yang populer dan komunikatif, sehingga enak dibaca dan mudah dipahami. Buku ini recomended untuk dikoleksi dan dibaca oleh kaum muslimin sebagai panduan berpuasa di bulan Ramadan.* (Kang Asti, penulis lepas dan Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, tinggal di Grobogan)

*Resensi dimuat di Tribun Jateng, edisi Minggu, 27 Mei 2018 dengan judul “Tetap Sehat Saat Berpuasa” dengan tulisan lebih ringkas.

Tribun Jateng, edisi Minggu, 27 Mei 2018
Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *