Motif Menulis. Apa yang Menggerakkanmu Menulis?

Saya (kanan) dan Joko Syahban (penulis buku, mantan wartawan Gatra) saat berbagi motivasi menulis di acara Bincang Kepenulisan yang digelar Gerakan Pena Nusantara (GPN). Foto dari GPN

Apa motif yang menggerakkanmu menulis atau ingin menjadi penulis? Pertanyaan ini sering dipandang sepele. Padahal menurut saya, ini sangat elementer. Terutama bagi penulis pemula. Motif yang tepat akan berpengaruh terhadap kontinuitas dan konsistensi seseorang menekuni dunia menulis, betapa pun dihadapkan oleh beragam tantangan.

Banyak yang datang kepada saya meminta saya melatihnya menulis, namun baru satu dua tulisannya tidak dimuat di koran atau belum diterbitkan, sudah putus asa, dan segera memutuskan goodbye dengan dunia menulis.

“Saya buat naskah itu berdarah-darah. Berkeringat. Cari referensi sana-sini. Capek. Tapi begitu kirim tidak dimuat. Padahal saya sudah meluangkan waktu untuk menulis. Rugilah.” Gerutunya.

Lalu, setelah itu, tak lagi menulis.

Dalam sebuah pelatihan, seorang peserta, seorang ibu guru, juga bilang ke saya. “Dulu saya aktif menulis pak, tapi setelah kirim-kirim ke koran dan majalah tidak ada yang dimuat dan tak ada kabarnya, saya jadi malas menulis lagi sampai sekarang.”

Saya sering menemui orang-orang seperti itu. Dengan beragam ekspresi, namun sama kasusnya. Sama-sama pernah punya keinginan, bahkan menggebu-gebu menulis, tapi kemudian gampang redup motivasinya karena satu dua tantangan yang dihadapinya.

Apa yang salah? Tak ada. Tapi ketika langkah tertahan dan berhenti, pasti ada yang perlu diperiksa. Menurut saya, ini soal motif dan motivasi yang perlu dibenahi.

Saya meyakini, setiap kita melakukan sesuatu, pasti ada motif yang menggerakkannya. Motif, seperti yang dinyatakan Alex Sobur dalam buku Psikologi Umum (Pustaka Setia, Bandung, 2009), merupakan dorongan, hasrat, keinginan, dan tenaga penggerak lainnya, yang berasal dari dalam dirinya. Karena itulah motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat sesuatu atau driving force.

Motif saja tidak cukup. Perlu motivasi untuk membangkitkan motif, membangkitkan daya gerak, atau menggerakkan seseorang untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuannya. Motif sebagai pendorong pada umumnya memang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling kait mengait dengan faktor-faktor lain.

Hal-hal yang dapat mempengaruhi motif itulah yang disebut motivasi. Atkinson mengartikan motivasi sebagai perwujudan motif yang berbentuk tingkah laku yang nyata. Jari Wric-Nurmi sebagaimana dikutip Hernowo dalam Quantum Reading membagi motivasi ke dalam dua jenis, yakni motivasi internal (internal motive) dan motivasi eksternal (external motive).

Motivasi internal merupakan dorongan yang mucul dari dalam diri seseorang, dan motivasi eksternal merupakan dorongan yang muncul lantaran pengaruh dari luar. Bisanya, motivasi internal lebih kuat dan awet dalam membangkitkan semangat seseorang untuk habis-habisan melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Apa Motif Menulismu?

Banyak motif yang menggerakkan seseorang menulis. Bila diekstraksi, maka motif seseorang menulis bisa dikategorisasi ke dalam tiga motif, yakni motif ekspresi, motif eksistensi, dan motif ekonomi.

Motif-motif itu seringnya tidak berdiri sendiri, namun saling terkait satu sama lain. Boleh jadi seseorang hanya memiliki motif tunggal di awal menulis, tapi ia kemudian merasakan manfaat-manfaat lain di luar motifnya itu. Sehingga ia pun semakin bersemangat untuk menggeluti dunia menulis secara lebih intens dan profesional.

Dalam buku Quantum Leaning, Bobbi De Porter dan Mike Hernacki menyatakan, sebelum Anda melakukan hampir segalanya dalam hidup Anda, baik secara sadar maupun tidak, Anda akan bertanya pada diri Anda tentang pertanyaan penting ini, “Apa Manfaatnya BAgiKu?” Mulai dari pekerjaan sehari-hari yang paling sederhana hingga monumental yang mengubah hidup, segala sesuatu harus menjanjikan manfaat pribadi atau Anda tidak akan termotivasi untuk melakukannya.

Seorang dosen yang menulis misalnya. Awalnya boleh jadi ia menulis semata sebagai aktualisasi tanggungjawab intelektualnya. Menyuarakan ide dan gagasannya. Ini kategori motif ekspresi. Lalu di perjalanan, efek dari tulisannya (yang dimuat di koran atau diterbitkan menjadi buku), menjadikannya ia banyak diundang di berbagai seminar sebagai pembicara. Ini efek eksistensi—yang sering orang menulis karena ingin terkenal atau populer (motif eksistensi).

Selain itu, ternyata sang dosen juga menikmati ‘penghasilan tambahan’ yang lumayan, bahkan sering lebih besar dari gajinya perbulan sebagai dosen, yakni menerima honor (bila dalam bentuk artikel di koran) atau royalti (bila dalam bentuk buku) dari tulisan-tulisannya. Ini efek ekonomi—yang tak sedikit orang menulis karena ingin cari duit alias bermotif ekonomi.

Akumulasi efek domino menulis yang dahsyat itulah yang biasanya kemudian menjadi daya gerak yang hebat, yakni menjadikan seseorang ‘naik kelas’; dari menulis sekedar hobi ke menulis menjadi bagian dari gaya hidup. Ia pun kemudian bisa dengan lantang berkata: Writing is not my hobby. It’s a part of my life style.

Namun, apapun pilihan motifnya di awal menulis, itu pilihan personal. Namun saya ingin menggarisbawahi berdasarkan pengalaman empirik yang saya alami secara pribadi dan sering saya jumpai, menulis yang diawali motif eksistensi (berambisi ingin dimuat di koran atau naskah bukunya diterbitkan) dan ekonomi (ingin dapat honor dan royalti), bila tanpa diimbangi sikap mental yang positif, akan cenderung membebani diri. Karena secara psikologis, proses menulis akan terasa menjadi lebih berat, dan buntutnya mudah terserang putus asa bila diterpa kegagalan sedikit saja.

Maka, menjadikan menulis sebagai sarana ekspresi, sebagai sarana menyampaikan ide dan gagasan, bahkan yang ideologis sebagai sarana menyampaikan pesan-pesan dakwah, akan lebih bagus dan sehat secara psikologis. Seseorang yang tergerak oleh motif ekspresi seperti ini, ia akan tetap menulis dan terus menulis meski belum juga dimuat di koran atau naskah bukunya belum juga di-acc penerbit. Karena baginya, masih ada sarana lain untuk men-share tulisan-tulisannya, seperti di blog atau di media sosial lainnya seperti facebook.

Boleh jadi ia memang tidak dapat uang dari tulisan-tulisannya, tapi ia dapat kepuasan psikologis karena tulisan-tulisannya dibaca banyak orang. Dan jauh lebih penting dari itu, konsistensi dan kontinuitas menulisnya, secara tanpa disadarinya, telah mengantarkan tulisan-tulisannya menjadi semakin matang dan berkualitas, baik dari sisi teknik maupun ketajaman analisisnya. Dan pada titik tertentu, sangat mungkin tulisan-tulisannya kemudian menjadi selalu ditunggu oleh para redaktur koran dan penerbit buku.

Penutup, Sebuah Cerita Inspirasi

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin membagikan sebuah cerita yang sangat inspiratif. Di Barat, pernah ada orang yang terus-menerus membuat artikel dan mengirimkannya ke berbagai media massa. Sayangnya, ribuan artikel yang ia buat, tak satu pun yang dimuat. Namun ia terus berkarya seakan tidak pernah mempedulikan apakah artikelnya diterbitkan atau tidak.

Suatu hari, ia mengirimkan artikelnya yang ke-1501 (sebuat saja demikian, jumlah pastinya tidak tahu). Tak disangka, artikelnya itu terbit di media ternama. Banyak orang yang memuji artikelnya. Wajah baru, tapi gaya penulisannya menarik dan padat. Akhirnya, banyak media lain yang mengharapkan artikelnya. Ribuan artikel yang pernah dikembalikan oleh berbagai media massa, direvisi dan diketik ulang untuk dikirim kembali, ternyata hampir semuanya diterbitkan. Andaikan ia berhenti di artikel yang ke-1500, tentu ceritanya lain.

Cerita di atas saya peroleh dari tulisan sahabat saya Jamal Ma’mur Asmani, seorang penulis produktif dari Pati. Kisahnya sebagaimana diceritakan oleh pakar psikologi komunikasi yang juga seorang penulis produktif,  Dr.  Jalaludin Rakhmat, dalam sebuah even seminar. Semoga bermanfaat.*

(Kang Asti, www.kangasti.com)

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Bilik Literasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *