Catatan Lebaran 1439 H, Meneguhkan Makna Silaturahim (1)

Silaturahim lebaran. Kartun oleh Agung Supriyanto untuk Beritagar.id

Silaturahim, begitu tulis pakar tafsir Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya ‘Membumikan’ Al-Quran, adalah kata majemuk yang terambil dari kata bahasa Arab, shilat dan rahim. Kata shilat berakar dari kata washl yang berarti “menyambung” dan “menghimpun”. Ini berarti hanya yang putus dan terserak yang dituju oleh shilat ini.

Sedangkan kata rahim, pada mulanya berarti “kasih sayang”, kemudian berkembang sehingga berarti pula “peranakan” (kandungan), karena anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.

Dari penjelasan di atas, kita bisa memetik beberapa buah hikmah. Pertama; makna silaturahim yang dikehendaki syariat sesungguhnya hanya berlaku untuk upaya kita menyambung kembali hubungan (yang terputus) dengan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan kita, baik dari jalur ayah maupun ibu.

Hal itu berdasarkansebuah hadits di mana Nabi Saw bersabda, “Bukan silaturahim orang yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi silaturahim ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di kesempatan lain, Nabi saw juga bersabda, “Bukanlah bersilturahim orang yang membalas kunjungan atau pemberian, akan tetapi orang yang bersilaturahim adalah orang yang jika kamu memutus hubungan darinya ia menyambungnya.” (HR. Bukhari).

Kedua; adapun mengunjungi rumah teman, sahabat, kolega, relasi bisnis, atau yang lainnya, yang tidak memiliki hubungan kekerabatan, sesungguhnya bukanlah termasuk silaturahim. Tetapi hubungan ukhuwah dan jalinan persahabatan secara umum yang tetap berpahala.

Baca juga catatan lebaran tahun sebelumnya:

Dalam konteks makna silaturahim seperti di ataslah seharusnya kita memahami hadits-hadits yang mengurai keutamaan agung silaturahim dan ancaman besar bagi pemutusnya. Dan upaya meneguhkan makna itulah yang menjadi catatan penting saya dalam menikmati momentum lebaran tahun 1439 H atau tahun 2018 M kali ini.

Indahnya Lebaran

Suasana lebaran di hari pertama keluarga besar Mbah Atmorejo. Saling memafkan, saling mendoakan, dan berbagi angpao untuk anak-anak dan keponakan. Foto dokumen pribadi

Tidak seperti tahun lalu, kali ini saya berlebaran hari pertama di rumah Godong. Bukan karena saya mendapat jadwal khutbah, tapi lebih memenuhi keinginan ketiga anak saya yang kali ini ingin kembali berlebaran di rumah saja.

Ada keuntungan bila saya berlebaran di rumah sendiri. Karena itu artinya saya bisa berhalal bihalal bersama keluarga istri dari jalur ibu di hari pertama lebaran. Ini memang sudah rutinitas tahunan. Di hari pertama lebaran, seluruh keluarga besar Simbah Atmorejo berkumpul di rumah yang sekarang ditempati anak ragilnya yang bernama Sholekah. Bila hari pertama itu terlewatkan, maka momentum berharga yang hanya terjadi setahun sekali itu pun juga akan terlewatkan.

Almarhum Simbah Atmorejo sendiri memiliki 7 anak, yaitu Hj. Suwarti (mertua saya), H. Sukardi, Shodiq, H. Solikin, Muthmainah, H. Suhada, dan Sholekah. Semua alhamdulillah masih sehat wal afiat, kecuali ibu mertua yang sudah agak sakit-sakitan dan setiap bulan harus kontrol ke dokter.

Di hari pertama lebaran itu, semua anak, cucu, dan cicit Mbah Atmo berkumpul. Saling maaf-memafkan, saling mendoakan, dan saling berbagi angpao kepada anak-anak dan ponakan yang belum bekerja. Inilah keindahan lebaran yang selalu membawa kesan tersendiri.

Setelah itu, seluruh keluarga bersama-sama menuju ke pemakaman kampung sebelah timur untuk mengadakan tahlilan. Mendoakan semua leluhur yang telah tiada.

Silaturahim ke Saudara dari Jalur Ayah Mertua

Lebaran memang indah. Sebuah budaya adiluhung partikular khas Indonesia hasil kreasi leluhur yang menakjubkan. Pada lebaran terkandung sejumlah tradisi baik seperti halal bihalal, sungkeman, dan berkunjung ke sanak kerabat untuk mengokohkan tali silaturahim. Tak terkecuali di tradisi keluarga kami.

Seusai halal bihalal keluarga besar Mbah Atmo atau keluarga dari jalur ibu mertua, siangnya kami meneruskan berkunjung ke saudara-saudara dari jalur ayah mertua (allahu yarham H. Nahrowi), yang sebagian besar bermukim di Desa Mangunrejo (Kecamatan Kebonagung) dan Desa Kunir (Kecamatan Dempet), keduanya berada di wilayah Kabupaten Demak.

Silaturahim lebaran di salah satu saudara di Desa Kunir, Kec. Dempet, Kabupaten Demak. Foto dokumen pribadi

Satu per satu saudara kami kunjungi. Dan ekspresi bahagia dan cerah ceria selalu terpancar membingkai penyambutan kami. Di setiap saudara yang kami kunjungi, selalu menyuguhkan sajian kue-kue khas lebaran, yang terkadang bentuknya sungguh surprise, terutama bagi anak-anak.

Seperti di salah satu rumah saudara yang kami kunjungi, dihidangkan ice cream merk yang lagi populer kesukaan anak-anak saya, selain hidangan makan siang ala ndeso yang justru sungguh mak nyus dan ngangeni. Kami pun tanpa malu-malu menyantapnya dengan lahap dan nyaris semua tandas hehe…

Itulah sekelumit serba-serbi indahnya lebaran, yang sungguh sangat ngangeni. Sebuah selebrasi yang sangat indah dan maknanya menelusup jauh ke kedalaman sanubari. Sungguh.*(Kang Asti, bersambung)

Baca cacatan selanjutnya: Catatan Lebaran 1439 H, Meneguhkan Makna Silaturahim (2-habis)

 

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Kang Asti. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *