Memaknai Fenomena Berbalas Buku

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti, praktisi perbukuan

Buku 37 Masalah Populer karya Ustaz Abdul Somad. Foto dari dakwahpost.com

Siapa yang tidak kenal Ustaz Abdul Somad (UAS)? Ia adalah dai yang saat ini namanya sedang meroket. Video rekaman ceramah-ceramahnya yang diunggah di youtube digandrungi publik. Sehingga ia pun dijuluki dai sejuta follower.

Selain menekuni dakwah digital di media sosial, UAS yang lulusan S1 Al-Azhar Mesir dan S2 Daar al-Hadits Al-Hassania Institute Maroko itu ternyata juga membidik dakwah lewat buku. Buku-buku karyanya beberapa telah terbit dan hampir semua laris manis di pasaran.

Salah satu buku UAS berjudul 37 Masalah Populer. Buku ini cukup diminati publik. Terbukti, sejak dicetak pertama kali pada Mei 2014, setidaknya sampai bulan Januari 2018, buku yang diterbitkan oleh Tafaqquh Media Pekanbaru Riau itu sudah menembus cetakan yang ke-13.

Isi buku karya UAS itu memang membahas masalah-masalah populer yang selama ini menjadi wacana umat seperti bidah, tawasul, talkin mayit, doa kunut subuh, salat qabliyah Jumat, peringatan Maulid Nabi, zikir berjemaah seusai salat, dan yang semisalnya, yang sebagian besar lekat dengan amaliah warga Nahdliyyin (sebutan untuk warga NU).

Oleh kelompok puritan seperti salafi, amaliah-amaliah tersebut sering dikritisi sebagai amaliah bidah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah saw. Dan mencerna kajian UAS di setiap masalah di bukunya tersebut, tampak sekali posisi UAS. Sebagai mantan sekretaris Lembaga Bahtsul Masa’il NU Provinsi Riau periode 2009-2014, tampak sekali UAS ‘membela’ amaliah-amaliah kaum Nahdliyyin tersebut.

‘Pembelaan’ UAS itu rupanya memantik lahirnya buku-buku ‘tandingan’ yang mengkritisi buku karya UAS tersebut. Sependek yang saya tahu, setidaknya ada dua buku yang berusaha mengkritisi buku UAS tersebut. Pertama; buku berjudul Catatan Terhadap Buku 37 Masalah Populer Karya H. Abdul Shomad, Lc, MA yang disusun oleh Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Media Dakwah Al-Furqon (Gresik, Jawa Timur). Tahun tahun.

Kedua; buku berjudul Koreksi Tuntas Buku 37 Masalah Populer yang ditulis oleh Abdurrahman Al-Mukaffi. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Darul Falah (Bekasi), cetakan pertama April 2018.

Dari kedua buku tersebut, buku yang terakhir disebut, yaitu buku Koreksi Tuntas Buku 37 Masalah Populer, yang nampaknya lebih lengkap mengkritisi buku karya UAS. Abdurrahman Al-Mukaffi ‘menguliti’ semua isi buku UAS tanpa terkecuali. Ke-37 masalah yang dibahas UAS semua dikoreksi, dengan mengerahkan segenap dalil dan argumentasi, untuk mendukung pendapatnya yang dinilai lebih sahih dan benar.

Ternyata, ini bukan pertama kalinya sosok Abdurrahman Al-Mukaffi mengkritisi buku karya dai yang tengah populer di tengah-tengah umat. Sebelumnya, pada sekira tahun 2000, saat seorang KH. Abdullah Gymnastiar atau akrap disapa Aa Gym tengah bersinar pamornya di blantika dakwah nusantara, Abdurrahman Al-Mukaffi juga merilis buku yang mengkritisi dakwah Aa Gym.

Ketika itu Abdurrahman Al-Mukaffi menulis buku berjudul Rapor Merah Aa Gym, MQ Dalam Penjara Tasawuf. Buku yang juga diterbitkan oleh penerbit Darul Falah itu mengkritik dakwah Aa Gym yang dinilai membawa banyak sisi yang membahayakan akidah umat, terutama aspek aroma tasawuf yang diajarkan Aa Gym.  Buku Abdurrahman Al-Mukaffi ini kemudian mendapat tanggapan dari Tengku Zulkarnain yang menulis buku berjudul  Salah Paham, Penyakit Umat Islam Masa Kini, Jawaban Atas Buku Rapor Merah Aa Gym yang diterbitkan oleh Yayasan Al-Hakim.

Ustaz Arifin Ilham, dai yang memopulerkan zikir berjemaah, juga tak luput dari kritik tajam. Buku karya Ustaz Arifin yang berjudul Hikmah Zikir Berjamaah yang diterbitkan penerbit Republika mendapat koreksi dari Abu Amsaka. Abu Amsaka menulis buku berjudul Koreksi Dzikir Berjamaah M. Arifin Ilham  yang (juga) diterbitkan oleh penerbit Darul Falah.

Fenomena buku berbalas buku yang cukup menarik adalah trilogi buku karya Syekh Idahram yang diterbitkan oleh penerbit LKIS, Yogyakarta. Trilogi buku yang dimaksud adalah buku berjudul Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, lalu Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik, dan Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi.

Trilogi buku itu mendapatkan tanggapan kritis dari AM. Waskito yang menulis buku berjudul Bersikap Adil Kepada Wahabi, Bantahan Kritis dan Fundamental Terhadap Buku Propaganda Karya Syekh idahram. Buku AM. Waskito itu diterbitkan oleh penerbit Pustaka Al-Kautsar Jakarta.

Bantahan kritis juga datang dari Ustaz Sofyan Cholid bin Idham Ruray yang menulis buku berjudul  Salafi Antara Tuduhan dan Kenyataan, Bantahan Terhadap Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Karya Syekh Idahram. Bantahan juga datang dari Ustaz Firanda Andirja yang menulis buku berjudul Sejarah Berdarah Sekte Syi’ah, Membongkar Koleksi Dusta Syekh Idahram.

Ketiga bantahan kritis itu kemudian mendapatkan tanggapan balik dari Syekh Idahram. Syekh Idahram merilis buku berjudul Bukan Fitnah Tapi Inilah Faktanya, Menjawab Tuduhan “Dusta” Firanda, Sofyan Cholid, dan Waskito.

Dalam kurun sejarah perbukuan di Indonesia, fenomena seperti itu banyak terjadi. Bahkan perdebatan melalui buku seperti itu sudah jamak terjadi, bahkan di masa ulama klasik. Menurut saya, fenomena buku berbalas buku atau polemik melalui buku seperti itu merupakan kecenderungan menarik, buku dijadikan sebagai sarana tausiah dan koreksi antarsesama muslim. Membalas buku dengan buku merupakan tradisi ilmiah yang perlu dihidupkan di tengah umat. Tradisi munazharah (berdiskusi) perlu ditegakkan untuk memperkaya wawasan keislaman umat.

Dengan membaca buku-buku polemik seperti itu, setajam apapun perbedaan pendapat itu, diharapkan akan memperkaya perspektif keislaman umat. Sehingga diharapkan umat terbiasa dalam keragaman pendapat. Tidak menjadikan yang berseberangan pendapat dengannya sebagai musuh. Akan tetapi tetap kukuh dalam dekapan ukhuwah sepanjang tidak keluar dari koridor syariat dan aqidah Islam.

Dalam konteks tertentu, bagi pengkaji ilmu di kalangan umat, kajian serius dan mendalam terhadap wacana perbedaan pendapat yang disertai dengan dalil dan argumentasi yang kuat, bisa menjadi panduan objektif untuk mengikuti pendapat mana yang akan dipilih, yang diyakini lebih sahih dan valid. Semoga bermanfaat.*

*Esai dimuat di koran Lampung Post, edisi Minggu IV, Juni 2018

Lampung Post, edisi Minggu IV, Juni 2018

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Bilik Literasi. Tandai permalink.

1 Response to Memaknai Fenomena Berbalas Buku

  1. Salahpaham berkata:

    Banyak yang masih salah paham tentang salafi. Salafi bukan kelompok, partai, ormas, harakah, tareqat, dll

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *