You cannot copy content of this page

Mempertimbangkan Buku Sebagai Instrumen Kampanye

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti (penulis)

Alat peraga kampanye. Foto dari wartakota.tribunnews.com

Setiap kali musim pemilihan kepala daerah, baik pemilihan gubernur, walikota, maupun bupati, ada fenomena yang menyolok, yaitu bertebarannya peraga kampanye, baik baliho, spanduk, banner, dan lain-lain, yang dipasang di setiap sudut kota/desa. Juga di media massa, baik media cetak maupun elektronik, menjadi semarak oleh iklan-iklan calon kepala daerah.

Beragam media kayaknya betul-betul dimanfaatkan oleh para kandidat kepala daerah untuk mengkampanyekan diri dan mempromosikan visi dan misinya kepada khalayak. Kampanye memang bagian paling vital dalam ajang kontestasi perebutan kekuasaan seperti itu. Dengan kampanye, seorang tokoh berusaha merebut simpati calon pemilihnya sebanyak-banyaknya, dengan segenap daya dan upaya, agar bisa memenangkan pertarungan.

Mereka tak segan-segan mengeluarkan “ongkos politik” milyaran rupiah untuk membiayai pencalonannya, termasuk untuk biaya kampanye. Namun, di tengah beragam alat peraga kampanye yang dibidik, masih ada satu media kampanye yang belum secara intensif disentuh oleh para kandidat, padahal hemat saya cukup ampuh sebagai media kampanye atau alat pencitraan diri sang kandidat. Media apa itu? Buku. Ya, buku.

Mengapa saya katakan cukup ampuh? Ada setidaknya 5 (lima) alasan dasar yang bisa saya kemukakan. Pertama; buku sebenarnya tidak jauh berbeda dengan media cetak (baca: pers cetak) lainnya. Perbedaan keduanya terletak pada bentuk atau formatnya. Isi kedua jenis terbitan ini pada dasarnya tidak berbeda. Keduanya mengandung informasi dan pendapat. (Atmakusumah, 2010).

Jadi keduanya sebenarnya bisa dijadikan sebagai media kampanye. Memang kekuatan media cetak terletak pada tirasnya. Sebuah media harian, seperti contoh harian Suara Merdeka, bisa mencapai tiras ratusan ribu eksemplar per harinya. Jumlah tiras sebesar ini memiliki daya pengaruh yang luas. Logikanya, semakin besar tiras sebuah media, semakin luaslah daya pengaruh yang dimiliki.

Namun, jangan lupa, buku juga memiliki kekuatan lain yang tidak dimiliki oleh media cetak. Umumnya media cetak hadir dalam tenggat waktu tertentu: harian, mingguan, atau bulanan. Sehingga ‘umur’ sebuah iklan di media cetak akan berbanding lurus dengan tenggat waktu tertentu.

Berbeda dengan buku yang bisa menembus waktu. Kekuatan buku terletak pada sifatnya yang dokumentatif dan monumental. Buku lazim disimpan sebagai koleksi bacaan keluarga atau perpustakaan, sehingga meski dicetak dalam jumlah lebih sedikit, namun ‘umur’ sebuah buku relatif lebih lama. Sehingga otomatis efek pengaruhnya juga relatif lebih lama.

Kedua; buku sering dipersepsi sebagai “produk intelektual”. Buku dan penulisnya sering dicitrakan sebagai bagian dari komunitas terpelajar. Di belahan dunia dan sistem sosial mana pun, komunitas terpelajar selalu mendapat posisi terhormat dan acap mendapatkan preveledge sosial tertentu.

Persepsi itu akan memunculkan efek pengakuan atau kredibilitas. Kredibilitas seseorang menetukan tingkat pengaruh maupun kepercayaan publik terhadapnya. Tokoh atau figur yang memiliki kredibilitas di ranah publik seperti memiliki ‘kartu pas’ untuk masuk ke berbagai lingkungan, sasaran, atau target pengaruh. (Edy Zaqeus, 2009).

Ketiga; melalui buku, seorang kandidat bisa melakukan kampanye tertulis atau pencitraan dirinya tanpa dibatasi space. Dengan begitu, ia akan lebih leluasa untuk menyampaikan segala sesuatu yang ingin disampaikan ke publik, baik dalam bentuk tulisan maupun foto.

Keempat; selain lebih leluasa, buku juga termasuk instrumen pencitraan yang mudah dikreasikan. Ada banyak teknik praktis yang bisa dipilih untuk menyusun atau menulis buku. Ada teknik kompilasi tulisan, ada teknik menulis cepat, ada teknik interview, ada juga teknik co-writing dan ghost writing (Edy Zaqeus, 2009). Teknik-teknik itu bisa dipilih dan digunakan menyesuaikan kebutuhan dan target-target tertentu.

Ada persepsi keliru yang mengendap di benak masyarakat, bahwa menulis buku itu sulit, sehingga tak banyak orang yang mau menulis buku. Begitu pun memilih buku sebagai instrumen kampanye atau pencitraan diri. Padahal menulis buku itu mudah, dengan pilihan teknik kreasi yang cukup banyak. Kalau seorang tokoh atau kandidat tidak bisa menulis buku sendiri, ia bisa menyewa penulis yang mau menjadi co-writer dan ghost writer.

Kelima; dari segi efisiensi biaya, menjadikan buku sebagai instrumen pencitraan diri jauh lebih kompetitif (untuk tidak mengatakan murah) dibanding dengan beriklan di televisi atau media cetak. Sekali tayang saja, dengan durasi yang amat pendek (30-60 detik) atau satu halaman koran, biaya iklannya bisa mencapai puluhan juta. Padahal dengan budget yang sama, seorang kandidat bisa menghasilkan buku-buku yang berkualitas sangat baik dengan efek pengaruh yang relatif lebih lama.

Memang, dengan menjadikan buku sebagai instrumen kampanye, tidak lantas menjadikan seseorang melejit kredibilitasnya dan kemudian secara otomatis memenangkan kompetisi pilkada. Jelas tidak. Namun, dengan menjadikan buku sebagai instrumen kampanye atau pencitraan diri, hemat saya, setidaknya seorang kandidat telah melakukan langkah cerdas dan kebiasaan yang baik dalam tradisi demokrasi, yang pantas ditiru.

*) Artikel ini pernah dimuat di harian Suara Merdeka, edisi 21 Oktober 2010.

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *