5 Motif yang Biasa Menggerakkan Orang Menulis

Mengisi seminar jurnalistik yang diadakan oleh Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Purwodadi. Foto dokumen pribadi

Apa yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu disebut motif. Hampir semua aktivitas memiliki motif yang menggerakkan pelakunya untuk melakukan aktivitas itu. Termasuk ketika seseorang yang menulis, baik menulis artikel di media massa cetak maupun menulis buku. Ada banyak motif yang biasa melatarbelakanginya. Motif-motif itu antara lain:

-Dapat honor atau royalti (motif komersial)

Ya, banyak orang yang menulis dengan motif ini: dapat honor atau royalti. Sangat dimaklumi, karena memang menulis bukan hanya kerja intelektual semata, melainkan juga kerja yang bernilai ekonomis. Tulisan artikel yang dimuat di media massa cetak akan mendapatkan honorarium. Besaran honorariumnya beragam sesuai dengan bonafiditas perusahaan media yang memuat tulisannya.

Berikut ini tabel besaran hohorarium untuk artikel opini di beberapa media daerah dan nasional, sekedar sebagai informasi:

Sumber: Buku Prigel Menulis Artikel, Agus M. Irkham, penerbit La Narka, Yogyakarta. Tabel di atas merupakan data lama, perlu verifikasi lagi, karena beberapa media yang disebut ada yang sudah tidak lagi terbit atau tidak lagi memberikan honorarium.

Untuk penulisan buku lebih besar lagi, karena hitungan honorariumnya biasanya menggunakan sistem royalti, di mana semakin laris buku yang ditulis, akan semakin banyak perolehan honorariumnya.

Baca: Mengintip Hitung-Hitungan Royalti Buku

Dengan peluang yang besar seperti itu, banyak orang yang kemudian menjadikan menulis sebagai mata pencaharian utama maupun sebagai “sumber ekonomi“ tambahan.

-Ingin terkenal/dikenal (motif popularitas)

Motif ini juga banyak ditemukan. Karena tampil di media merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk populer. Bayangkan, tulisan yang dimuat di media massa dibaca oleh ratusan ribu orang. Bila oplag sebuah media cetak 100 ribu eksemplar, misalnya, sedang 1 eksemplar dibaca oleh sedikitnya lima orang, maka sekali tampil di media, maka setidaknya berpotensi dibaca oleh 500 ribu orang.

Begitu pun dengan menerbitkan buku. Buku sekali cetak berkisar antara 3 ribu sampai dengan 10 ribu eks. Bila diasumsikan 1 buku dibaca oleh 10 orang (bisa lebih), maka sekali cetak, akan dibaca sedikitnya 30 ribu sampai 100 ribu orang. Jumlah ini akan bertambah berlipat-lipat bila buku mengalami cetak ulang berkali-kali (best seller).

-Kepuasan diri (Motif hobi/ekspresi diri)

Ada banyak orang yang menulis karena dorongan ini. Ia senang atau puas bila tulisannya dimuat di media massa atau diterbitkan menjadi buku. Menulis karya, lalu dimuat atau diterbitkan, menjadi kebanggaan yang bermuara pada kesenangan atau kepuasan batin.

-Motif tugas

Motif ini juga banyak ditemukan. Para wartawan misalnya. Mereka menulis (berita/reportase) karena tugas. Mereka digaji untuk menulis berita atau reportase. Bahkan mereka bisa dipecat karena tulisannya.

Menulis karena tugas juga ditemukan pada mahasiswa yang menulis skripsi/tesis/disertasi. Mereka menulis semata karena tugas. Sebab bila mereka tidak menuliskannya, maka mereka tidak bisa lulus dan menyandang gelar.

-Tanggung jawab moral

Motif ini sering ditemukan pada diri ilmuwan, dokter, guru, ulama, pendeta, aktivis LSM, dan lain sebagainya. Mereka menulis bukan karena mengincar honor yang menggiurkan, bukan pula karena tugas, tetapi semata karena tanggung jawab moral untuk menyampaikan ide atau gagasan atas sebuah fenomena atau problem krusial yang tengah terjadi di masyarakat. Menulis, dengan demikian, dijadikan sebagai medium untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasannya sebagai sumbangsih terhadap pemecahan-pemecahan berbagai problem sosial.

* * *

Baca juga: Motif Menulis. Apa yang Menggerakkanmu Menulis?

Dan masih banyak lagi motif-motif lainnya. Yang perlu digaris bawahi, bahwa motif-motif itu tidak selalu berdiri sendiri, tetapi kadang satu sama lain saling berkaitan. Dalam arti, motif-motif itu bisa mencakup beberapa atau keseluruhan faktor yang dihasilkan oleh aktivitas menulis. Misalnya, seorang guru yang menulis. Ia menulis bukan semata-mata untuk mengejar penghasilan tambahan, tetapi lebih karena panggilan tanggung jawab moral yang diembannya. Lewat tulisannya, ia menawarkan perspektif dan gagasan yang konstruktif bagi pemecahan masalah, atau memberikan pengetahuan yang berguna untuk masyarakat. Dengan demikian, aspek ekonomi hanyalah efek samping dari aktivitas kepenulisannya.* (Kang Asti, www.kangasti.com)

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Bilik Literasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *