You cannot copy content of this page

Akurasi Jurnalisme Warga

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti*)

Suasana masih mencekam pasca bentrok warga Godong dan suporter PSIS. Foto dari PGY

Pada pengujung Mei 2013, warga Kabupaten Grobogan dikejutkan oleh kerusuhan di Kecamatan Godong akibat bentrok suporter PSIS versus sejumlah warga kecamatan itu dan sekitarnya. Tawuran tersebut menyisakan tidak hanya kerugian moral berupa rasa takut dan trauma tapi juga kerugian material ratusan juta rupiah.

Insiden itu layak diberitakan karena memiliki nilai berita tinggi, dan realitasnya hampir semua harian yang terbit di Jateng menjadikannya sebagai headline. Peristiwa itu juga menarik peminat jurnalisme warga (citizen journalism), terutama dari Godong, yang mengabadikan dalam wujud tulisan, foto, dan video, lalu mengunggahnya ke blog atau jejaring sosial media, seperti Facebook dan Kompasiana.

Secara sederhana, jurnalisme warga adalah laporan by the people (publik) atas peristiwa atau kejadian dalam bentuk produk jurnalistik. Proses itu meliputi pengumpulan, penulisan, analisis, dan diseminasi informasi. Dengan begitu, setiap warga, tanpa terkecuali, dapat berperan sebagaimana layaknya wartawan atau jurnalis.

Asep Syamsul M Romli dalam buku Jurnalistik Online (Nuansa Cendekia, 2012) menyebutkan, di Indonesia tragedi tsunami di Aceh 2004 menjadi momentum perkembangan pesat jurnalisme warga. Ketika itu, berita langsung dari korban bisa mengalahkan berita yang dibuat wartawan profesional. Bahkan ada video rekaman warga saat kejadian yang ditayangkan semua stasiun televisi, yaitu rekaman Cut Putri, berisi detik-detik ketika tsunami Aceh terjadi. Video itu ditayangkan awal oleh MetroTV dua hari setelah kejadian dan dianggap sebagai tonggak sejarah penting perkembangan jurnalisme warga di Indonesia.

Jurnalisme warga kian mendapat tempat ketika situs berita ternama, seperti Kompas dan Liputan6 (SCTV) menyediakan fasilitas blog bagi pembaca, yakni Kompasiana dan Citizen6. Juga media cetak, seperti Suara Merdeka yang menyediakan rubrik jurnalisme warga ”Tilik Kampung” satu halaman penuh tiap Senin.

Keburu Diunggah

Salah satu tantangan utama jurnalisme warga menyangkut akurasi, kredibilitas, dan ketaatan pada kode etik jurnalistik. Bagaimanapun produk berita jurnalisme warga harus tetap mengacu kode etik jurnalistik.

Sering terjadi karena ketidaktahuan atau mungkin merasa bukan wartawan, pewarta warga (istilah bagi pegiat dan peminat jurnalisme warga) mem-posting tanpa mengindahkan akurasi data, teknik, dan kode etik penulisan. Akibatnya, berita yang diunggah menimbulkan polemik, berisiko fitnah, provokasi, dan mencuatkan protes dari berbagai pihak yang merasa dirugikan.

Saya menemukan berita semacam itu ketika mencuat peristiwa kerusuhan Godong, dalam sebuah situs jurnalisme warga Kompasiana. Berita itu dibuat warga yang tinggal di Godong, yang mungkin terlibat atau menyaksikan peristiwa tersebut. Boleh jadi karena belum menguasai teknik dan kode etik penulisan berita, alih-alih berita yang ia tulis justru menimbulkan polemik dan protes.

Akurasi data dan konstruksi fakta di lapangan masih perlu verifikasi, namun keburu diunggah tanpa menyebut sumber penggalian data. Berita adalah hasil rekonstruksi fakta di lapangan. Banyak fakta itu bisa diperoleh melalui pencarian fakta melalui metode observasi, wawancara, ataupun riset dokumentasi atau gabungan dari ketiganya. Jadi, menulis berita pada dasarnya merekonstruksi peristiwa yang dibangun dari sejumlah fakta. Sebagaimana jurnalis, pewarta warga perlu memiliki kemampuan untuk mengumpulkan fakta sekaligus piawai merekonstruksi sejumlah fakta itu ke dalam tulisan.

Hal ini penting supaya ia bisa ikut berperan penting sebagai penyebar informasi yang valid, akurat, dan mencerdaskan masyarakat, bukan malah sebaliknya.

*)Tentang penulis:
Badiatul Muchlisin Asti
, Ketua Umum Komunitas Penulis Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN) Pusat, tinggal di Godong Grobogan

—>Artikel ini dimuat di Suara Merdeka, 22 Juni 2013

Suara Merdeka, 22 Juni 2013
Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *