Tren Menerbitkan BUKAN BUKU

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti, praktisi perbukuan

Buku “Cakrawala Islam, Antara Cita dan Fakta” karya M. Amien Rais yang diterbitkan penerbit Mizan, cetakan pertama tahun 1987. Foto dari google image

Bagi sebagian orang, menulis buku dipersepsi sebagai sebuah pekerjaan yang sulit. Sebuah pekerjaan intelektual yang menguras otak, tenaga, waktu, juga biaya. Persepsi demikian memang tidak seratus persen keliru bila yang dimaksud adalah sebuah buku ilmiah yang perlu riset dan penelian yang mendalam.

Tapi, bila mengamati realitas, buku tak melulu berwajah ‘angker’ seperti itu. Bahkan kalau kita mau jujur, buku-buku yang laku dijual malah bukan buku-buku yang ‘angker’ seperti itu. Buku-buku populerlah, yang berisi pelbagai persoalan hidup sehari-hari, baik sebagai bekal pengetahuan, tuntunan praktis, maupun hiburan, yang lebih banyak mendominasi pasar dan banyak diserap oleh khalayak. Sebaliknya, buku-buku ilmiah yang berat, memiliki segmentasi pasar tersendiri.

Karena itulah, salah satu teknik menulis buku yang diperkenalkan oleh sejumlah writing coach adalah menulis bunga rampai atau kumpulan tulisan, dan itu bisa dilakukan secara nyicil di sela-sela waktu secara ajeg. Bagaimana caranya?

Penulis produktif Agus M. Irkham dalam buku karyanya berjudul Best Seller Sejak Cetakan Pertama menyatakan, “Jika Anda ingin sekali menulis buku utuh, tapi merasa tidak mempunyai kesabaran yang cukup untuk menyelesaikannya dalam sekali pukul, cobalah menulis artikel. Tapi Anda harus setia menekuni satu tema tertentu. Jangan kemaruk, dengan mengomentari semua hal. Kirim artikel Anda itu ke media. Boleh media tingkat nasional, atau lokal sekalipun”.

Nah, tulis Agus lebih lanjut, pada jumlah tertentu artikel Anda yang telah dimuat media, dapat Anda sunting menjadi satu buku. Tak soal orang menyebut buku yang Anda hasilkan adalah buku yang bukan buku. Yang penting, Anda sudah menerbitkan buku.

Sesungguhnya, apa yang disampaikan Agus M. Irkham tersebut bukan hal baru. Fenomena buku yang di dalamnya ‘hanya’ berisi kumpulan tulisan seperti itu sudah sejak lama ada. Penerbit Mizan (Bandung), dalam amatan saya, adalah salah satu pelopor penerbitan buku-buku yang sering disebut sebagai book is not book itu. Di awal-awal pendiriannya pada tahun 1980-an, penerbit ini banyak menerbitkan buku-buku karya para tokoh yang disunting dan dikompilasi dari berbagai artikel atau makalah mereka.

Sebut saja buku berjudul Islam Alternatif, Ceramah-Ceramah di Kampus karya pakar psikologi komunikasi dari Bandung, Jalaludin Rakhmat atau biasa disapa Kang Jalal, yang diterbitkan oleh Mizan (cetakan pertama tahun 1986). Buku ini merupakan hasil kompilasi dari makalah-makalah yang pernah dipresentasikannya dalam berbagai even diskusi dan seminar di berbagai kampus.

Buku Kang Jalal lainnya, yaitu Islam Aktual, Refleksi Seorang Cendekiawan Muslim yang juga diterbitkan oleh Mizan (cetakan pertama tahun 1991) setali tiga uang. Buku ini adalah kompilasi dari artikel-artikel Kang Jalal yang pernah dimuat di beberapa koran seperti harian Gala, Kompas, Jawa Pos, dan lain sebagainya.

Selain Kang Jalal, penerbit Mizan juga menerbitkan buku kompilasi artikel atau makalah dari para tokoh ternama lainnya seperti: M. Quraish Shihab, M. Amien Rais, Kuntowijoyo, Emha Ainun Najib, dan lain sebagainya.

Buku karya Amien Rais yang berjudul Cakrawala Islam, Antara Cita dan Fakta yang diterbitkan Mizan (cetakan pertama tahun 1987) adalah merupakan kumpulan tulisan yang dimuat di beberapa media massa dan makalah di berbagai seminar dan diskusi. Begitu pun buku berjudul Membumikan Al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat karya Quraish Shihab yang juga diterbitkan oleh Mizan (cetakan pertama tahun 1992) juga merupakan kumpulan makalah-makalah di berbagai diskusi dan seminar.

Fenomena penerbitan “buku yang bukan buku” seperti itu juga banyak kita jumpai saat ini. Di pasaran banyak kita jumpai buku-buku yang ‘hanya’ berisi kompilasi tulisan. Beberapa buku karya para tokoh ternama seperti Hermawan Kartajaya (pakar marketing), Rhenald Kasali (pakar bisnis), Andreas Herefa (motivator), M. Anis Matta (politisi), dan tokoh-tokoh lainnya, adalah kompilasi dari artikel-artikel kolom mereka yang pernah dimuat di media massa.

Bahkan, buku semacam itu saat ini tidak hanya monopoli para tokoh terkenal saja. Siapa pun, bisa menerapkan langkah serupa. Bahkan tulisan-tulisan yang dikompilasi tidak harus terlebih dulu dimuat di media massa ‘profesional’ (baca: media mainstream) seperti Kompas, Jawa Pos, Republika, Lampung Post, dan media profesional lainnya. Namun, tulisan itu bisa juga berasal dari tulisan-tulisan yang pernah diposting di media-media gratisan di internet seperti blog atau catatan-catatan (notes) di media sosial semacam Facebook.

Saya sendiri pernah menerapkan langkah ini. Salah satu buku saya berjudul Menempuh Jalan ke Surga, Catatan Motivasional yang Menggugah Jiwa dan Meneguhkan Iman, merupakan hasil kompilasi dari tulisan-tulisan yang pernah saya posting di akun Facebook saya dan mendapat respons positif dari banyak teman.

Sepanjang tahun 2009, secara ‘nyicil’ alias secara berkala (seminggu sekali atau dua kali), saya memang aktif memposting tulisan yang mengerucut pada satu tema besar, yaitu motivasi ibadah. Pada awalnya saya tidak merencanakannya untuk mengkompilasi tulisan-tulisan itu dalam satu buku.

Namun, ketika catatan saya itu sudah mencapai 40 tulisan, baru terpikirlah untuk mengkompilasinya dalam sebuah buku. Lalu saya suntinglah tulisan-tulisan itu. Judulnya saya comot dari salah satu judul artikel yang menurut saya mewakili atau mengandung benang merah dari keseluruhan artikel, yaitu Menempuh Jalan ke Surga. Lalu saya kasih sub judul Catatan Motivasional yang Menggugah Jiwa dan Meneguhkan Iman.

Naskah tersebut saya kirim ke penerbit Quanta, imprint penerbit Elex Media Komputindo (Kompas-Gramedia Group) dan di-acc. Akhirnya, terbitlah buku tersebut, dengan judul sama, pada Oktober 2014, dan beredar luas di toko buku Gramedia dan toko buku lainnya.

Buku saya lainnya yang merupakan kompilasi artikel berjudul ‘Membumikan’ Takwa. Buku yang terbitkan oleh Hanum Publisher pada Maret 2016 itu adalah kompilasi artikel-artikel saya yang pernah dimuat di beberapa koran seperti Suara Merdeka dan Koran Muria (koran lokal di Jawa Tengah), dan beberapa majalah antara lain majalah Mutiara dan Suara Hidayatullah.

Jadi, bagi siapa pun yang merasa supersibuk dengan waktu terbatas, atau merasa tidak punya stok kesabaran untuk menulis buku dengan sekali pukul, atau memang sekadar sebagai siasat saja, pilihan menulis buku kumpulan tulisan adalah teknik yang layak dipertimbangkan.

Bila Anda tertarik, Anda cukup melakukan satu hal saja, yaitu mengagendakan untuk memposting atau membuat tulisan-tulisan dengan suatu topik besar yang sama, misalnya tema sosial, politik, atau pendidikan. Seminggu satu atau dua artikel, tak terasa tiga atau empat bulan ke depan akan terkumpul sejumlah artikel yang bisa disunting dan dikompilasi menjadi buku. Akan lebih lebih menarik lagi bila tulisan-tulisan itu dimuat terlebih dulu di koran, baru kemudian dibukukan, karena nilai jualnya akan lebih meningkat. Anda tertarik mencobanya? Selamat berkarya! Semoga bermanfaat.*

*Esai dimuat di koran Lampung Post, edisi Minggu III, Juli 2018

Lampung Post, edisi Minggu III, Juli 2018

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Artikel, Bilik Literasi. Tandai permalink.

2 Responses to Tren Menerbitkan BUKAN BUKU

  1. Abdullah Hulalata berkata:

    Assalamualaikum,
    Mohon maaf Kang Asti, saya Abdullah Hulalata dari Gorontalo. Saya ingin menerbitkan buku non fiksi saya. Mohon info terkait ketentuannya

Tinggalkan Balasan ke Kang Asti Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *