You cannot copy content of this page

Menggiatkan Penulisan Buku Biografi

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti, penulis dan praktisi perbukuan

Sebuah buku karya almarhum Uje. Foto dari picbear.online

Beberapa waktu lalu, medio Mei 2013, warga Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dikejutkan kematian secara mendadak pemimpinnya HM. Hery Sulistyawan SH, M.Hum. Kematian Bupati Tegal tersebut diduga karena kelelahan akibat padatnya acara dalam rangka hari jadi Kabupaten Tegal ke-412. Sebelumnya, pada penghujung April 2013, publik Indonesia juga dikejutkan kematian secara mendadak Ustad Jefri Al-Buchori akibat kecelakaan tunggal yang dialaminya.

Kematian mendadak seorang tokoh selalu menyisakan duka dan rasa kehilangan yang mendalam. Apalagi bila semasa hidup, almarhum dikenal sebagai sosok pribadi yang baik, penuh pesona, dan selalu menebarkan manfaat bagi sesama. Atau semasa hidup almarhum dikenal sebagai sosok yang penuh inspirasi, kaya kiprah, dan senantiasa memancarkan hikmah dan keteladanan yang hebat.

Alangkah indahnya bila percik-percik inspirasi dan untaian hikmah kehidupan yang terpancar dari sosok yang wafat itu tidak tenggelam seiring kematiannya, namun terus abadi menembus zaman. Saya teringat kata-kata mutiara dari mendiang Benjamin Franklin, tokoh penemu dari Amerika Serikat, yang pernah menyatakan, “Jika engkau tidak ingin dilupakan segera setelah berkalang tanah nantinya, tulislah sesuatu yang layak dibaca, atau lakukan sesuatu yang layak ditulis.”

Dalam pernyataannya tersebut, Benjamin Franklin memberikan semacam kiat agar nama kita selalu dikenang dan percik-percik hikmah kehidupan kita terus mengabadi dan menebarkan manfaat serta inspirasi yang tak lekang oleh zaman. Kiat pertama adalah; tulislah sesuatu yang layak dibaca.

Menulis memang suatu cara untuk mengabadikan nama kita. Juga mengabadikan ilmu kita agar terus menebarkan manfaat pada sesama. Sastrawan kondang Indonesia almarhum Pramoedya Ananta Toer pernah menyatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan arus pusaran sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Kiranya Pramoedya benar. Lihatlah ulama-ulama besar kita zaman dahulu. Namanya mengabadi sampai kini, karena mereka menulis kitab yang sampai saat ini terus dikaji.

Almarhum Jefri Al-Buchori termasuk yang sadar soal ini. Di sela aktivitas dakwahnya yang padat, ia menyisihkan waktu untuk menulis buku. Lahirlah dari tangannya buku-buku yang menginspirasi dan sarat muatan dakwah. Buku-buku karya Jefri Al-Bucori yang sudah terbit semasa hidupnya antara lain: Sekuntum Mawar untuk Remaja, Ada Apa Dengan “Wanita”, dan  Senandung Cinta.

Sangat disayangkan bila ada orang yang abai dan meremehkan urgensi menulis atau menerbitkan buku. Apalagi bila ia seorang tokoh. Dapat dipastikan, bila ia enggan menulis, maka kelak namanya akan hilang dalam masyarakat dan arus pusaran sejarah. Peran dan kontribusi pemikirannya akan berhenti seiring kematiannya.

Kiat kedua adalah; lakukan sesuatu yang layak ditulis. Artinya, bila seseorang ingin dikenang dan tidak mudah dilupakan setelah meninggal dunia, maka ia harus mempersembahkan dedikasi terbaik kepada masyarakatnya.

Sehingga boleh jadi ia tidak sempat atau kesulitan menulis buku semasa hidupnya, tapi bila ia sosok yang inspiratif dan kiprahnya menebarkan banyak manfaat bagi masyarakat, maka akan berpotensi ada orang yang akan menuliskan kisah hidupnya. Mengabadikan namanya dalam tulisan, sehingga akan terus dikenang. Jefri Al-Buchori, lagi-lagi, menjadi contohnya.

Kematian sosok da’i muda berjuluk “ustad gaul” itu memantik para penulis untuk mengabadikan kisah perjalanan hidupnya yang sarat inspirasi. Segera setelah kematiannya, beberapa buku yang merekam riwayat hidup Jefri Al-Buchori bermunculan. Di antaranya buku berjudul Uje Berdakwah dengan Hati yang ditulis oleh Kanka Nadia dan Seribu Cerita Berjuta Makna Darimu Uje yang ditulis oleh M. Habibah.

Contoh lainnya adalah kematian, yang juga mendadak, Bupati Demak Drs. H. Tafta Zani, MM. Setelah kematiannya, sebuah buku berjudul Tafta Zani Tokoh Pembangunan pun terbit. Buku yang ditulis oleh Rudi Santosa bersama Ikatan Penulis Demak itu berisi rangkuman pengalaman penulis selama lima tahun lebih mendampingi Tafta Zani.

Sebagai juru bicara bupati, Rudi Santosa tentu banyak memiliki kenangan dan memori bersama Tafta Zani, dan banyak mendengar mutiara hikmah dan gagasan serta pemikiran Tafta Zani dalam upaya memajukan  Kabupaten Demak yang dipimpinnya. Tentu saja, semua itu akan menguap dan tidak bermakna bila tidak didomentasikan dalam sebuah tulisan atau buku.

Realitas memprihatinkan yang kini terasa adalah masih minimnya tradisi mendokumentasikan kisah hidup atau biografi seorang tokoh dalam tulisan. Banyak tokoh-tokoh yang semasa hidupnya memiliki kontribusi sosial yang tinggi, namun hikmah kehidupannya menguap karena tidak didokumentasikan dalam sebuah buku. Masih lumayan namanya acap dijadikan nama jalan atau nama instansi seperti rumah sakit atau nama gedung pertemuan. Namun gagasan brilian dan hikmah kehidupan yang terpancar dari pribadinya, tidak bisa diakses masyarakat karena tidak dibukukan.

Dari sinilah kiranya penting untuk menggiatkan penulisan buku biografi para tokoh, baik tokoh lokal maupun nasional. Agar para tokoh itu tetap “hidup” dan tetap menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi generasi sesudahnya.*

*Artikel dimuat di Koran Muria, edisi Sabtu, 21 September 2013

Koran Muria, edisi Sabtu, 21 September 2013
Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *