Peluang Menulis Artikel Opini Bagi Guru di Koran Solopos

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti*)

Penulis saat mengisi pelatihan penulisan artikel yang diadakan oleh Kwarcab Cabang 11 15 Kabupaten Grobogan

Bagi seorang guru, menulis artikel opini di media massa  atau yang disebut juga karya ilmiah populer, memiliki banyak manfaat. Di antaranya, selain manfaat pengembangan diri, juga manfaat kenaikan pangkat atau pengembangan profesi.

Mengutip di buku Menjadi Guru Profesional,Kunci Sukses Menuju PKB (Pengembangan Keprofesian secara Berkelanjutan karya Endang S (Pustaka Nusantara, 2014) disebutkan, tulisan ilmiah populer adalah tulisan ilmiah yang dipublikasikan di media massa (koran, majalah, atau sejenisnya). Tulisan ilmiah populer dalam kaitan dengan upaya pengembangan profesi guru merupakan tulisan yang lebih banyak mengandung isi pengetahuan, berupa ide, atau gagasan pengalaman penulis yang menyangkut bidang pendidikan.

Kerangka isi tulisan ilmiah populer disesuaikan dengan persyaratan atau kelaziman dari media massa yang akan mempublikasikan tulisan tersebut.

Bukti fisik yang dinilai adalah guntingan (kliping) tulisan dari media massa yang memuat karya ilmiah penulis, dengan pengesahan dari kepala sekolah/madrasah. Pada guntingan media massa tersebut harus jelas nama media massa serta tanggal terbitnya.

Jika berupa fotokopi, harus ada surat pernyataan dari kepala sekolah/madrasah yang menyatakan keaslian karya ilmiah populer yang dimuat di media massa tersebut.

Besaran angka kredit tulisan ilmiah populer adalah sebagai berikut:

Kegiatan Angka Kredit
Artikel ilmiah populer di bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikan dimuat di media massa tingkat nasional 2
Artikel ilmiah populer di bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikan dimuat di media massa tingkat provinsi 1.5

Peluang Menulis Artikel Opini di Solopos

Dari sekitar 7 koran harian yang terbit di Jawa Tengah, koran Solopos yang terbit di Solo, dalam pengamatan saya termasuk koran yang peduli dengan pengembangan profesi guru. Bentuk kepedulian itu diwujudkan dalam pemberian ruang menulis artikel opini bagi para guru.

Beberapa koran lain memang juga menyediakan rubrik khusus guru. Tapi di antaranya dimaksudkan sebagai ruang untuk memfasilitasi para guru yang mengikuti pelatihan yang mereka adakan. Jadi, artikel yang dimuat sebagian besar (untuk tidak mengatakan seluruhnya) adalah tulisan karya guru yang mengikuti pelatihan berbayar yang diadakan oleh redaksi koran bersangkutan. Artinya, artikel karya guru yang tidak mengikuti pelatihan mereka otomatis tersisihkan atau tidak dimuat.

Solopos, melalui lembaga yang didirikannya yaitu Lembaga Pendidikan Jurnalitik (LPJ) Solopos, memang secara rutin mengadakan berbagai pelatihan kepenulisan seperti penulisan artikel populer, jurnalisme warga, cerpen, bahkan buku.  Tapi sejauh yang saya tahu, Solopos tidak memberikan  garansi atau fasilitas pemuatan artikel bagi peserta pelatihannya.

Artinya, artikel-artikel opini karya guru yang dimuat di Solopos sejauh yang saya tahu memang murni hasil seleksi redaksi karena memang artikelnya berkualitas dan layak muat. Menurut saya, hal ini bagus, sehingga para guru benar-benar bisa belajar menulis artikel opini dengan baik dan berkompetisi untuk ‘mencuri hati’ redaktur dengan menawarkan artikel yang berkualitas dari sisi konten dan penyajian. Bukan sekedar karena mengikuti pelatihannya dan artikelnya dimuat karena memang dijanjikan untuk itu. Bahkan Solopos juga menyediakan honorarium untuk naskah yang dimuat.

Di Solopos, setidaknya ada dua rubrik yang disediakan khusus untuk para guru berekspresi dalam bentuk esai atau artikel opini.  Dua rubrik itu adalah sebagai berikut:

Pertama; rubrik Edukasi. Ini adalah subrubrik dari rubrik Jeda yang ada di koran Solopos edisi Minggu. Di rubrik Jeda, Solopos edisi Minggu biasa menghadirkan beberapa subrubrik, meliputi: cerpen, resensi buku, dan sajak. Nah subrubrik Edukasi ini hadir di Solopos edisi Minggu dua pekan sekali bergantian dengan subrubrik Sajak-sajak.

Tulisannya berbentuk esai, yaitu artikel opini yang ditulis dengan gaya agak lebih santai dan ringan, dan karena untuk para guru, tema yang diangkat tentu saja tentang pendidikan. Naskah ditulis maksimal 4.000 karakter dan dikirim ke redaksi.minggu@solopos.co.id dengan subjek Edukasi. Naskah dilengkapi dengan foto, identitas diri, dan nomor rekening Bank.

Contoh esai yang dimuat di rubrik Edukasi koran Solopos. Sumber dari dapurimajinasi.blogspot.com

Kedua; rubrik Mimbar Guru. Ini adalah subrubrik dari rubrik Gagasan yang ada setiap hari di koran Solopos. Namun subrubrik Mimbar Guru hadir seminggu sekali yaitu setiap Rabu. Untuk rubrik ini, para guru bisa mengirim artikel opini dengan tema yang aktual. Panjang naskah sekitar 5.000 karakter dan dikirim via e-mail ke: redaksi@solopos.co.id.

Semoga informasi ini bermanfaat. Selamat berkarya!

*) Badiatul Muchlisin Asti adalah seorang penulis, blogger, dan writing coach. Konsultasi dan sharing seputar dunia kepenulisan bisa dikirim ke email: badiatulmuchlisinasti@gmail.com. Buku terbarunya berjudul “Buku Sakti Menulis Opini, Kupas Tuntas Menulis Artikel Opini yang Layak Terbit di Koran“. Info buku tersebut klik di sini.

Kaver Buku Sakti Menulis Opini

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Bilik Literasi, Info dan Tips Menulis. Tandai permalink.

6 Responses to Peluang Menulis Artikel Opini Bagi Guru di Koran Solopos

  1. Anggara Chandra berkata:

    Ingin juga suatu saat tulisan saya dimuat di koran, semoga saja 😀

  2. Sulistari berkata:

    dulu pernah tulisanku (puisi) dimuat di Suara Merdeka. pengen buat cerita atau tulisan yang lain dan bisa dimuat di media. tapi setiap kali sudah mulai menulis tidak bisa selesai atau rampung tulisannya.. hehehe bagaimana ya solusinya kalau seperti itu???

  3. suhardjono berkata:

    Plus minus PILKADES SERENTAK.
    Plusnya dari pilkades serentak adalah menghindari adanya pembotoh yang dapat merusak suasana demokrasi, melatih pemilih untuk berfikir jernih dalam menentukan pilihannya yg berpedoman pada pemilihan secara LUBERJURDIL.
    Minusnya dari pilkades serentak adalah banyak tenaga pendidik yang digunakan oleh pemdes untuk menjadi petugas pemilihan di desa masing-masing, sehingga sekolah SD yang lokasinya di desa hanya tinggal 1 atau 2 guru yang mendidik anak dari kelas 1 sampai kelas 6, begitu pula anak SD banyak yang tidak masuk. Maka ini menjadi pembelajaran penting bagi para pemegang kebijakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *