You cannot copy content of this page

Cerita Rasa Kuliner Surakarta

Kaver buku Kuliner Surakarta

Sebagai salah satu pusat kebudayaan di Jawa, Surakarta menyimpan kekayaan kuliner khas yang beragam dan unik. Di antara kuliner Surakarta adalah hasil akulturasi budaya dari masyarakat pendatang yang telah lama hidup dan bersosialisasi dengan masyarakat pribumi.

Kehadiran orang-orang Arab dan Tionghoa, juga Belanda, menyebabkan akulturasi kuliner seperti yang sekarang banyak dijumpai di Solo seperti gule, sate kambing, soto, selat, dan timlo.  Selat, misalnya. Kuliner yang dipengaruhi oleh tradisi dapur Belanda ini biasa disajikan pada acara-acara hajatan di Kota Solo. Namun, bila ingin mencicipi di luar hajatan, sejumlah rumah makan di Solo menyediakannya, di antaranya di daerah Serengan dan Jl. Slamet Riyadi.

Selain Selat, timlo adalah makanan khas Kota Solo yang juga dipengaruhi oleh tradisi dapur Belanda. Salah satu rumah makan timlo yang cukup kondang adalah Timlo Sastro. Warung makan Timlo Sastro berada di kawasan Balong, belakang Pasar Gede, tepatnya di emperan timur Pasar Gede. Warung ini didirikan tahun 1952 oleh Sastrohartono. Selanjutnya nama sang pendiri menjadi nama warung.

==============================
Judul: Kuliner Surakarta, Mencipta Rasa Penuh Nuansa
Penulis: Murdijati Gardjito, Shinta Teviningrum, Swastika Dewi, dkk

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan pertama: 2018
Tebal: 268 hlm
==============================

Selain menghadirkan kuliner-kuliner hasil akulturasi, Surakarta juga kaya dengan berbagai ragam kuliner asli yang tak kalah lezat. Ada berbagai macam ayam panggang, pecel ndeso, sambel tumpang, nasi liwet, cabuk rambak, brambang asem, serta serabi Notosuman yang sangat terkenal.

Cerita lainnya yang bisa disebut sebagai salah satu fenomena kuliner di Solo adalah menjamurnya HIK. HIK yang merupakan akronim dari “hidangan istimewa kampung” itu merupakan warung wedangan yang banyak ditemui di pinggir jalan di seantero Surakarta. Tempatnya sangat sederhana, hanya gerobak dagangan (dengan model sama), bangku panjang, dan beberapa tikar yang digelar dekat gerobak.

Asal mula HIK menarik dicermati. Konon, HIK berkembang dimulai dari Klaten. Ada dua kelompok yang membawa dagangan ini, satu kelompok ke Jogja dan satu lagi ke Solo.  Yang ke arah Solo disebut HIK, sedangkan yang ke Jogja disebut Angkringan. Tidak ada keterangan yang jelas mengapa namanya berbeda walaupun sajiannya serupa. Yang jelas, di Surakarta, HIK tidak hanya sekedar warung makan, tapi juga menjadi tempat bersosialisasi masyarakat Surakarta.

Banyak lagi fenomena dan citarasa kuliner Surakarta yang dapat diceritakan. Semuanya dieksplorasi dan didata dengan baik di buku berjudul “Kuliner Surakarta, Mencipta Rasa Penuh Nuansa” ini. Buku ini sangat penting sebagai dokumen kuliner dan referensi bagi para peminat kuliner tradisional khas Nusantara. Kehadiran buku ini patut diapresiasi sebagai upaya melestarikan kuliner warisan leluhur di tengah derasnya waralaba masakan global.

Menariknya, buku ini juga dilengkapi dengan ratusan resep-resep istimewa dari dapur Surakarta, meliputi makanan utama, lauk pauk, kudapan dan minuman, yang bisa dicoba di rumah. Semoga bermanfaat.* (Badiatul Muchlisin Asti, penulis lepas, pencinta kuliner Indonesia, dan narablog di Jatengnyamleng.com)

*Resensi dimuat di Tribun Jateng, edisi Minggu, 5 Agustus 2018 dengan tulisan lebih ringkas.

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *