You cannot copy content of this page

Dari Safari Gerakan Nasional Membaca: Membumikan Iqra’, Menyambut Seruan Membaca

Berpose bersama setelah talkshow.

Sabtu, (11/8/2018), saya didaulat untuk menjadi salah seorang narasumber acara talkshow dalam rangka Safari Gerakan Nasional Membaca yang dihelat oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) bertempat di Pendopo Kabupaten Grobogan. Talkshow yang dibuka oleh Bupati Grobogan Hj. Sri Sumarni, SH, MM itu mengangkat tema Implementasi Revolusi Mental Melalui Mobilisasi Pengetahuan Dalam Rangka Meningkatkan Indeks Litrasi Masyarakat.

Bupati Grobogan Hj. Sri Sumarni, SH, MM saat memberikan sambutan
Ketua Komisi X DPR RI Ir. Djoko Udjianto saat memberikan sambutan
Kepala Perpusnas RI Drs. Muh. Syarif Bando saat memberikan sambutan

Saya hadir dalam kapasitas sebagai seorang penulis. Dihadirkan untuk memberikan testimoni terkait upaya menumbuhkan budaya membaca di masyarakat. Selain saya, tampil narasumber lainnya, yakni Kepala Perpustakaan Nasional RI Drs. Muh. Syarif Bando dan Ketua Komisi X DPR RI Ir. Djoko Udjianto.

Setelah memaparkan pengalaman menumbuhkan tradisi membaca secara personal, saya mengingatkan bahwa perintah membaca merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah Muhammad Saw. Sehingga dengan demikian, umat Islam perlu membumikan wahyu pertama itu dengan menyambut seruan itu. Konsekuensi dari wahyu pertama itu menurut saya, bagi seorang muslim, membaca seharusnya tidak hanya sekedar hobi, tapi menjadi konsep hidup.

Dalam konteks pembangunan peradaban yang maju, membaca merupakan kata kuncinya.  Karena menyebut kata membaca, tak bisa dipisahkan dari ilmu atau pengetahuan. Buku adalah sumber ilmu. Maka membaca adalah upaya mereguk mata air ilmu.

Saya saat menyampaikan materi tentang motivasi membaca
Berfoto bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI Muh. Syarif Bando seusai acara talkshow

Dalam Al-Quran, kata ‘ilmu’ paling banyak disebut, setidaknya terulang lebih dari 750 kali. Ini menunjukkan bahwa model masyarakat yang ingin dibangun oleh Islam adalah kombinasi masyarakat yang religius dan berpengetahuan sekaligus.

Inilah rahasianya, mengapa Islam diturunkan di Jazirah Arab dan bukan di Persi dan Romawi yang sudah tinggi peradabannya. Islam justru diturunkan kepada masyarakat yang buta huruf, penggembala kambing, dan terisolasi secara geografi. Ya, supaya Islam mengajarkan kepada kita, begitu sentuhan ini datang, masyarakat yang paling rendah kadarnya pun bisa berubah menjadi pemimpin peradaban.

Bagaimana masyarakat penggembala kambing diubah oleh Islam? Ayat pertama yang turun adalah Iqra’. Maka yang pertama diubah adalah pikirannya, mindset-nya.  Jadi, bila sebuah masyarakat ingin maju peradabannya, maka yang pertama perlu dilakukan adalah membentuk learning society (masyarakat pembelajar), yang kata kuncinya ada di kata “Membaca”.

Maka secara tegas saya katakan, membaca adalah gerbang ilmu pengetahuan. Tradisi membaca akan mengantarkan seseorang pada keluasan ilmu dan cakrawala berpikir. Dan kedua hal itu menjadi kunci penting menuju perubahan yang lebih baik, baik dalam skala individu maupun skala masyarakat dan bangsa. Semoga bermanfaat. Salam literasi!* (Kang Asti, www.kangasti.com)

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *