Belajar dari Cerita Sukses Bumdes Tirta Mandiri Ponggok, Sebuah Catatan Ringan dari FGD Optimalisasi Potensi Ekonomi Perdesaan Kemendes PDTT

Optimalisasi Potensi Ekonomi Perdesaan

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Prof. Ahmad Erani Yustika, SE, M.Sc, P.hD saat menjadi keynote speech di FGD

Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Optimalisasi Potensi Ekonomi Perdesaan melalui Penguatan Bumdes, Tata Kelola Dana Desa, dan Desa Wisata” selama tiga hari, Rabu-Jumat (28-30/11/2018) di Hotel Santika Premiere Semarang. FGD yang diikuti akademisi, aktivis NGO/LSM, organisasi perangkat daerah (OPD), kepala desa, direktur BUMDes, pengelola desa wisata, pendamping desa dan birokrat Kemendesa PDTT itu dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi, Anwar Sanusi.



Saya sendiri hadir mewakili DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Sebuah acara yang super padat. Meski acara berlangsung 3 hari, namun praktis hanya efektif 2 hari saja, yaitu hari pertama dan kedua. Hari pertama, para peserta terlibat dalam serangkaian diskusi tematik yang padat dengan para pakar dan praktisi, dengan keynote speech Prof. Ahmad Erani Yustika, SE, M.Sc, P.hD (Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi), sebelum akhirnya acara FGD sendiri yang berlangsung hingga larut malam, hampir jam 23.00 WIB.

Dan hari kedua, para peserta full kunjungan ke lapangan, yaitu mengunjungi dua Bumdes di Kabupaten Demak, melipui Bumdes Bersama Kecamatan Wedung, dan Bumdes Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam. Di kunjungan lapangan ini pun peserta terlibat diskusi seru bersama direktur Bumdes masing-masing yang dikunjungi dan para akli dari Advisor Menteri Desa PDTT, yaitu Jimmy M. Rifa’i Gani dan Wawan Purwandi.

Optimalisasi Potensi Ekonomi Perdesaan

Advisor Menteri PDTT, Jimmy M. Rifa’i Gani, saat memberikan materi diskusi di Balai Desa Bungo, Kecamatan Wedung, Demak

Optimalisasi Potensi Ekonomi Perdesaan

Berfoto dengan Advisor Menteri PDTT Jimmy M. Rifa’i Gani seusai diskusi




Dari serangkaian diskusi, yang paling menarik menurut saya adalah kehadiran Direktur Bumdes Tirta Mandiri Desa Ponggok (Klaten), Joko Winarno. Ia secara khusus menceritakan kisah sukses Bumdes yang dipimpinnya hingga meraih capaian kesuksesan yang menakjubkan. Dari sebuah desa termiskin dan tertinggal dalam lingkup Jawa Tengah, menjadi desa ‘terkaya’ buah dari kesuksesan yang luar biasa dalam mengelola potensi desanya melalui Bumdes yang didirikan.

Jangan kaget, capaian pendapatan dari Bumdes Ponggok sungguh fantastis. Tahun 2016, Bumdes Tirta Mandiri Ponggok membukukan pendapatan Rp 10,2 miliar dan tahun 2017 menembus Rp 14,2 miliar rupiah.

Capaian itu berasal dari pengelolaan berbagai unit usaha, antara lain sektor pariwisata yang ada di Desa Ponggok. Satu di antaranya ialah Umbul Ponggok. Umbul atau mata air yang populer di media sosial ini setiap bulannya dikunjungi lebih dari 30 ribu wisatawan.

Umbul Ponggok Bumdes Tirta Mandiri Ponggok Klaten

Eksotisme Umbul Ponggok yang Menyedot Wisatawan. Sumber foto: Trivmedia.com



Capaian kesuksesan yang luar biasa yang telah diraih oleh Bumdes Ponggok, menurut Guru Besar UKSW Salatiga Prof. Dr. Ir. Sony Heru Priyanto, MM yang menjadi salah seorang narasumber diskusi, tidak diraih dengan singkat. Melainkan melalui proses belajar yang panjang dan luar biasa.

Menurutnya ada tiga teori yang menjelaskan kesuksesan Bumdes Ponggok. Pertama, teori resources based viewed. Yaitu kemampuan melihat dan memetakan sumber daya lokal yang ada. Kedua, teori entrepreneurship. Yaitu kemampuan mencipta atau men-create sumberdaya yang ada menjadi bernilai (ekonomi) dan menghasilkan benefit.

Dan yang ketiga, adalah teori of the firm. Yaitu kemampuan mengorganisasi berbagai sumber daya untuk tujuan memproduksi barang/jasa tersebut untuk dijual melalui sebuah perusahaan dengan manajerial yang baik.

Kesuksesan Ponggok, menurut Prof. Sony, bila ingin terus berlanjut harus terus melakukan inovasi. Dalam setiap kurun, musti ada aktor yang menjadi inovator yang peka dan merespons tren di masyarakat. Agar Ponggok terus memiliki daya magnetisnya ke depan.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cerita sukses Bumdes Ponggok. Sayangnya waktu sangat terbatas untuk mengulik lebih jauh cerita sukses itu. Yang pasti, kemajuan dan kesuksesaan Desa Ponggok tidak lepas dari keterlibatan masyarakatnya, juga transparansi dana desa yang dikelola oleh Bumdes. Semoga bermanfaat.* (Kang Asti, www.kangasti.com)

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Kang Asti. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *