You cannot copy content of this page

Memotivasi Generasi Z di Seminar Literasi Ikaswari 2019

Saat memotivasi peserta Seminar Literasi di aula SMA N 1 Wirosari

Generasi Z adalah istilah untuk menyebut generasi yang lahir setelah tahun 2000-an. Ada juga pendapat yang menyatakan, generasi Z adalah generasi yang lahir setelah tahun 1995-an. Terlepas dari perbedaan itu, yang jelas, Generasi Z lahir di era internet. Karena itu, generasi ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dan menantang, hari ini, dan di masa depan.





Terkait dengan Generasi Z ini, pada Senin (21/1/2019) saya berkesempatan menjadi pembicara pada Seminar Literasi bertema “Generasi Berkarya denga Budaya Literasi” yang dihelat oleh Ikatan Alumni SMA N 1 Wirosari (Ikaswari) di aula SMA N 1 Wirosari, Kabupaten Grobogan. Seminar ini merupakan rangkaian dari acara Expo Perguruan Tinggi dan Lowongan Kerja  2019.

Saya secara khusus berbicara tentang Generasi Z dan tantangannya dalam seminar tersebut, karena memang pesertanya adalah para siswa SMA setempat yang notabene terkatergori sebagai Generasi Z. Rata-rata mereka lahir setelah tahun 2000-an.

Saya katakan, tantangan yang mereka hadapi di masa depan akan jauh lebih kompleks, karena perkembangan digital yang tentu jauh lebih maju. Sehingga untuk menghadapi tantangan itu, diperlukan bekal yang memadai.

Pesertanya Generasi Z, generasi yang lahir setelah tahun 2000-an
Menerima bingkisan dari panitia, penyerahan oleh Ketua Pelaksana Seminar, Septi Wulan




Sebagaimana proyeksi kecakapan yang dibutuhkan pada abad 21, setidaknya ada tiga bekal yang perlu mereka miliki, yaitu karakter yang positif, kompetensi, dan literasi. Untuk memenangkan kompetisi di masa depan dan untuk menggapai kesuksesan di masa mendatang, ketiga hal tersebut harus dimiliki.

Di penghujung presentasi, saya berpesan agar mereka memiliki impian (dream) dalam kehidupan. Memiliki goal yang ingin dituju. Sehingga arah yang dituju di masa depan menjadi jelas dan terarah. Dan juga pentingnya action dan kegigihan memperjuangkan impian.

Bila impian dan action ini menyatu, insya Allah semua akan indah pada waktunya, kata saya. Jangan pernah bilang “semua akan indah pada waktunya” bila impian dan cita-cita tanpa diiringi aksi dan perjuangan untuk meraihnya.

Selain saya, ada Impian Nopitasari, penulis muda berbakat yang juga menjadi pembicara. Alumnus SMA N 1 Wirosari yang kini tinggal di Solo itu lebih banyak berbicara tentang kepenulisan yang ditekuninya.* (Kang Asti, www.kangasti.com)

 

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *