You cannot copy content of this page

Catatan dari Penjurian Lomba Mengarang Cerita Bergambar Islami PD IGRA Kabupaten Grobogan 2019

Dewan juri Lomba Mengarang Cerita Bergambar Islami PD IGRA Grobogan.

Pada Sabtu, 9 Maret 2019, bertempat di Gedung PCNU Kabupaten Grobogan, saya berkesempatan menjadi salah seorang dewan juri Lomba Mengarang Cerita Bergambar Islami yang digelar oleh Pengurus Daerah (PD) Ikatan Guru Raudlatul Athfal (IGRA) Kabupaten Grobogan. Lomba ini merupakan salah satu lomba yang dihelat dalam Porseni Guru RA/BA se-Kabupaten Grobogan. Selain saya, ada Kak Erwin, Ketua Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI) Kabupaten Grobogan dan Ibu Lenny, guru TK Negeri Pembina Purwodadi, sebagai juri.



Ini bukan kali pertama saya menjadi juri lomba mengarang cerita Islami seperti ini. Sebelumnya saya juga menjadi juri lomba pada even serupa, di antaranya menjadi juri Lomba Membuat Buku Cerita Anak yang dihelat oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Kabupaten Grobogan.

Baca juga: Menjadi Juri Lomba Membuat Buku Cerita Anak JSIT Kabupaten Grobogan

Ada catatan penting saya dalam setiap penjurian lomba mengarang seperti itu, termasuk pada saat penjurian Lomba Mengarang Cerita Bergambar Islami yang digelar PD IGRA Kabupaten Grobogan. Yaitu banyak peserta (hampir semua) yang belum memahami bagaimana membuat cerita bergambar yang sesuai dengan karakter dan perkembangan psikologi anak sebagai sasaran pembacanya. Hal itu ditandai dengan keterjebakan mereka pada narasi cerita yang rumit dan cukup kompleks.

Membuat buku cerita anak untuk segmen anak RA (setingkat TK), itu artinya membuat buku cerita bergambar dengan jenjang Pra-Membaca dan Membaca Dini bila mengacu pada Panduan Perjenjangan Buku Nonteks Pelajaran bagi Pelaku Perbukuan yang dikeluarkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  (tahun 2018).

Saya saat menyampaikan selayang pandang bagaimana membuat cerita bergambar Islami sesuai pembaca sasaran.
Berpose dengan para juara Lomba Mengarang Cerita bergambar Islami PD IGRA Kabupaten Grobogan.




Untuk jenjang buku Pra-Membaca, gambar lebih dominan hingga 90%. Adapun untuk jenjang buku Membaca Dini, gambar dominan hingga 70%. Konten berisi cerita sehari-hari yang sederhana, tidak rumit, dekat dengan anak, sehingga mudah dipahami oleh anak, baik tanpa kata maupun kata-kata yang sangat terbatas.

Untuk jenjang Pembaca Dini cukup satu kalimat per baris dan satu sampai tiga baris teks per halaman. Dari sini, betapa buku untuk anak-anak Pra-Membaca dan Membaca Dini tidak perlu narasi cerita yang banyak, apalagi kompleks dan rumit, dengan tokoh utama yang banyak, layaknya buku cerita untuk mereka yang sudah mahir membaca.

Banyak catatan lainnya seperti alur cerita, logika cerita, pesan cerita, dan juga pentingnya ilustrasi yang sesuai dan menarik. Banyak yang masih ala kadarnya. Padahal, di samping narasi, ilustrasi menjadi yang paling penting dalam sebuah buku anak.

Untuk itu, boleh dan absah, bahkan sudah lazim, sebuah buku cerita dibuat oleh kolaborasi antara penulis dan ilustrator yang mumpuni. Karena tidak semua penulis mampu membuat ilustrasi, demikian juga sebaliknya. Semoga bermanfaat.* (Kang Asti, www.kangasti.com)

 

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *