Dari Apakah Puisi Bagus Adalah Puisi yang Sulit Dipahami Hingga Serentet Problem Penulis Pemula (Catatan dari Seminar Literasi FSPG 2019)

Para pembicara seminar literasi, dari kiri: saya, Dr. Tirto, dan Sri Penny, serta moderator Istikomah.

Minggu, 21 April 2019, Forum Silaturahmi Penulis Grobogan (FSPG) punya gawe, yaitu Seminar Literasi “Membangun Generasi Cerdas dengan Tradisi Menulis” di aula Rumah Kedelai Grobogan (RKG), Jalan Raya Purwodadi-Solo Km. 5 Krangganharjo, Toroh. Lebih dari seratus peserta dari kalangan guru, pelajar, mahasiswa, dan umum, menghadiri seminar tersebut.

Saya menjadi salah seorang pembicara dalam seminar tersebut. Dua pembicara lainnya adalah Sri Penny AH (penulis buku antologi puisi Perjalanan Diksi) dan Dr. Tirto Suwondo, M.Hum (Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah). Seminar  dipandu oleh pegiat FSPG, Istikomah.




Sri Penny yang mendapatkan kesempatan berbicara pertama menyatakan, puisi merupakan sarana ekspresi diri atas berbagai perasaan dan peristiwa yang dialaminya. Juga menjadi sarana menyampaikan pendapat dan kritik sosial. Buku kumpulan puisi karyanya, Perjalanan Diksi, menurutnya, juga merupakan kumpulan perasaan dan peristiwa yang dialaminya, yang diekspresikan dalam puisi.

Saya yang mendapatkan kesempatan kedua, ‘hanya’ memapakan nilai-nilai yang dilahirkan dari kegiatan tulis-menulis. Terdapat setidaknya enam nilai dalam tulis-menulis. Keenam nilai itu adalah nilai kecerdasan, edukasi, psikologi, sosial, finansial dan filosofis. Keenam nilai itu saya jelaskan secukupnya kepada peserta, dengan harapan para peserta termotivasi untuk menulis.

Menulis akan menjadikan seseorang cerdas, karena menulis memerlukan banyak wawasan dan nalar kritis. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik, meski tidak bisa dibalik. If you don’t read, you don’t write. Jangan pernah bermimpi menjadi penulis yang baik, bila Anda tak punya kebiasaan membaca yang kuat. Kata saya.

Baca juga: Serunya Workshop Menulis dan Menerbitkan Buku di SDIT Az-Zahra Demak

Sementara Dr. Tirto Suwondo yang mendapatkan giliran ketiga atau terakhir membuka pemaparannya dengan menyatakan, dalam tinjauan filsafat eksistensialis, menulis merupakan wujud keberadaan seseorang. “Aku menulis, maka aku ada”. Maka, menulis merupakan jalan untuk mengabadikan ide dan pemikiran seseorang.

Selanjutnya, dalam paparannya, ia menyatakan, untuk menjadi seorang penulis, syaratnya ada dua, yaitu rajin membaca dan rajin berlatih. Rajin membaca saja, bila tanpa diikuti latihan menulis, maka seseorang tidak akan pernah bisa menjadi penulis. Sebaliknya, rajin berlatih tanpa mau membaca, maka tulisannya akan hambar dan tidak berkualitas.

Sejumlah Problematika Menulis

Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, Dr, Tirto Suwondo, saat menyampaikan materi




Saat sesi tanya jawab dibuka, mengemukalah sejumlah pertanyaan menggelitik. Antara lain, apakah yang dimaksud penulis profesional itu? Apakah puisi yang bagus itu adalah puisi yang sulit dipahami pembacanya?  Sebagai penulis pemula, bagaimana kiat menghadapi kesulitan menemukan ide menulis dan membuka tulisan? Dan lain-lain

Terkait puisi yang bagus, Dr. Tirto menyatakan, kualitas sebuah puisi itu relatif, tergantung penikmatnya. Dalam memaknai sebuh puisi, dibedakan menjadi dua, yaitu makna niatan dan makna muatan. Makna niatan adalah makna yang diniatkan oleh pengarang atas puisi yang ditulisnya. Adapun makna muatan  adalah makna yang termuat dalam karya tersebut yang ditangkap oleh pembaca.

Adapun terkait dengan penulis profesional, Dr. Tirto menyatakan, penulis profesional adalah penulis yang serius menekuni dunia tulis-menulis. Berkarya dengan baik.

Sri Penny atau yang akrab disapa Bunda Penny saat membacakan puisi karyanya

Sementara itu, menjawab pertanyaan seputar problematika yang biasa dihadapi oleh penulis pemula seperti kesulitan mendapatkan ide dan kesulitan membuka tulisan, saya menyatakan, semua penulis yang saat ini dikatakan senior dan telah menghasilkan banyak karya, pernah menjadi penulis pemula dan pernah menghadapi masalah-masalah yang biasa dihadapi oleh penulis pemula seperti yang disebutkan.

Baca juga: Memotivasi Generasi Z di Seminar Literasi Ikaswari 2019

Tidak ada orang yang ujug-ujug piawai menulis, kata saya. Semua melalui proses. Dan mereka menganggap problem-problem itu sebagai sebuah tantangan dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melampaui kesulitan-kesulitan itu. Kesungguhan untuk terus berkarya itulah yang kemudian mematahkan kesulitan-kesulitan itu.

Ingat, kata saya lebih lanjut, kepiawaian menulis tidak begitu saja turun dari langit, tapi melalui kesungguhan berlatih pantang menyerah.

Launching Buku

Berfoto bersama usaha launching buku


Seminar literasi diadakan dalam rangka launching 3 buah buku karya para penulis Grobogan. Ketiga buku tersebut adalah:

Pertama; buku berjudul Perjalanan Diksi, Sehimpun Puisi 2013-2018 karya Sri Penny AH, guru MAN 1 Grobogan, pegiat FSPG, yang juga dikenal sebagai seniman.

Kedua, buku berjudul Grobogan, I’m in Love, Sehimpun Cerpen Tentang Grobogan. Buku ini merupakan hasil dari writing competition yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Grobogan Yogyakarta (Kamagayo) pada even Kamagayo Carnival 2016. Di dalamnya berisi 15 cerpen dengan setting lokalitas wisata Grobogan.

Ketiga;  buku berjudul Puspawarna Gurit Pangimpen, Antologi Geguritan Penulis Grobogan, karya pegiat FSPG Istikomah dan kawan-kawan.

Kedua buku yang disebutkan pertama diterbitkan oleh penerbit Hanum Publisher, sedang yang ketiga diterbitkan oleh penerbit Intishar Publishing.

Pembacaan Sajak dan Geguritan

Budayawan Grobogan, Mbah Raden, saat membacakan geguritan karyanya

Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan, Imam Budi Utomo, hadir dan memberikan sepatah dua patah kata di acara seminar

Seminar berlangsung meriah. Peserta dibuat terpukau oleh pembacaan sajak oleh Sri Penny atau yang akrab disapa Bunda Penny, dan pembacaan geguritan oleh budayawan Grobogan, Suyadi, atau yang akrab disapa Mbah Raden. Hadir pula dalam kesempatan tersebut, Imam Budi Utomo, Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan.* (Kang Asti, www.kangasti.com)  

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Bilik Literasi, News. Tandai permalink.

1 Response to Dari Apakah Puisi Bagus Adalah Puisi yang Sulit Dipahami Hingga Serentet Problem Penulis Pemula (Catatan dari Seminar Literasi FSPG 2019)

  1. sri Penny A. H. berkata:

    semakin giat tuktuangkan imaji . Agar otak sehat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *