You cannot copy content of this page

Menggali Warisan Kedokteran Islam

Tribun Jateng, edisi Minggu, 12 Mei 2019

Sebagai agama yang mempromosikan ajarannya lengkap dan komprehensif (syumul) mencakup seluruh aspek kehidupan, Islam memiliki perhatian besar di bidang kesehatan dan pengobatan. Banyak buku-buku karya ulama klasik yang secara khusus mengkaji warisan kedokteran Islam, antara lain kitab Thib an-Nabawi karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (wafat tahun 751 H/1350 M) dan Jalaluddin As-Suyuti  (wafat tahun 911 H/1505 M).

Data buku:

  • Judul: Kitab Pedoman Pengobatan Nabi Berdasarkan Tinjauan Hadits dan Medis
  • Penulis: dr. Agus Rahmadi, M. Biomed., M.A.
  • Penerbit: Wahyu Qolbu, Jakarta
  • Cetakan ke-1: Januari 2019
  • Tebal: xiv + 361 hlm
  • ISBN: 978-602-6358-76-9




Juga banyak ilmuwan muslim sesudahnya yang sangat diperhitungkan dalam dunia medis, antara lain Az-Zahrawi, Ibnu Shina, dan Ar-Razi. Bahkan kita Qanun fi Ath-Thib karya Ibnu Sina pernah menjadi rujukan dalam bidang kedokteran selama berabad-abad.

Perkembangan dunia kedokteran modern yang terus mengalami kemajuan, menuntut para cendekiawan muslim untuk terus update dan mengkaji relevansi kedokteran Islam di era sekarang.  Nah, buku berjudul Kitab Pedoman Pengobatan Nabi Berdasarkan Tinjauan Hadits dan Medis ini adalah salah satu buku yang berusaha menggali warisan kedokteran Islam di tengah pesatnya kemajuan kedokteran modern.

Penulisnya adalah dr. Agus Rahmadi, M. Biomed., M.A., seorang dokter yang menyelesaikan pendidikan magisternya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia jurusan Biomedik dengan konsentrasi Onkologi. Selain itu, penulis juga telah menyelesaikan studi magisternya di UIN Syarif Hidayatullah jurusan Pengkajian Islam dengan konsentrasi Agama dan Kedokteran.

Dengan meninjau latar belakang akademis penulisnya, menjadikan buku ini cukup otoritatif untuk mengupas kedokteran Islam. Menurut Agus, perbandingan kedokteran Islam dan kedokteran modern terbagi menjadi beberapa hal, antara lain kedokteran Islam memandang tubuh secara “holistik” (menyeluruh atau suatu kesatuan), sedang kedokteran modern hanya memandang tubuh manusia secara parsial.




Perbedaan lainnya,  kedokteran modern menekankan gaya hidup dan pola makan berdasarkan penelitian tanpa memperhatikan aspek agama, sedang kedokteran Islam menjadikan Al-Quran dan hadits sebagai sebuah pijakan untuk melakukan gaya hidup dan pola makan sehat dengan memperhatikan aspek fisik dan spiritual. (hlm. 20).

Meski berasal dari sejarah dan konteks sosial yang berbeda, menurut Agus, pendekatan keduanya dapat digabungkan dan terintegrasi di masa depan. Perspektif medis dari sisi Islam bisa memperluas gagasan evolusioner tentang manusia sebagai wujud biologis dan spiritual. (hlm. 22).

Buku ini layak menjadi referensi bagi peminat dunia kesehatan dan pengobatan secara umum, mengingat bahwa buku ini meski menggali warisan kedokteran Islam yang banyak termaktub dalam teks-teks Al-Quran dan hadits, namun penulis melengkapi kajiannya dengan penelitian-penelitian medis modern yang relevan. Buku ini membuktikan bahwa kedokteran Islam warisan Nabi  masih relevan hingga kini, bahkan untuk selamanya.* (Kang Asti, www.kangasti.com)

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *