Mengungkap Proses Inkulturasi Etika Pesantren

Tribun Jateng, edisi Minggu, 19 Mei 2019

Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara, pesantren selalu menarik untuk dikaji. Sudah banyak buku yang mengkaji pesantren dari pelbagai perspektif, baik yang ditulis oleh para cendekiawan muslim Indonesia maupunilmuwan Barat. Antara lain buku berjudul Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Kiai karya Zamakhsyari Dhofier, Bilik-bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan karya Nurcholish Madjid, Moralitas Pendidikan Pesantren karya Zubaidi Habibullah Asy’ary, dan Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat karya Martin van Bruinessen.

Data buku:

  • Judul: Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara Dari Era Sriwijaya Sampai Pesantren Tebu Ireng dan Ploso
  • Penulis: Aguk Irawan M.N.
  • Penerbit: Pustaka IIMaN
  • Cetakan ke-1: Desember 2018
  • Tebal: 462 hlm
  • ISBN: 978-602-8648-29-5

Di antara buku-buku yang membahas tentang pesantren, sejauh ini belum ada buku yang secara spesifik membahas tentang etika pesantren. Sehingga buku berjudul Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara dari Era Sriwijaya sampai Pesantren Tebuireng dan Ploso ini boleh dibilang melengkapi dan mengisi kekosongan itu.




Buku yang dikonversi dari disertasi Aguk Irawan MN ini memang membahas etika pesantren secara khusus, meliputi genealoginya atau akar sejarahnya di masa pra Islam, lalu proses inkulturasi nilai-nilai Islam dengan kearifan dan budaya lokal yang telah ada, hingga terbentuk menjadi etika yang khas, yang masih bertahan di berbagai pesantren tradisional, terutama di Jawa, hingga kini.

Etika-etika itu antara lain adab santri terhadap kiai semisal membungkukkan badan dan mencium tangan kiai, sowan dan boyongan selepas nyantri, slametan pada acara-acara tertentu, tirakatan untuk meningkatkan kualitas spiritual, dan sebagainya. Genealogi dari etika-etika yang kini menjadi khas pesantren tersebut memang dapat dilacak berasal dari tradisi pra Islam, yaitu pada masa Hindu-Buddha.

Penghormatan terhadap kiai yang diekspresikan dengan membungkukkan badan dan mencium tangan kiai, misalnya, sudah ada dalam praktik kehidupan masyarakat Nusantara para era kejayaan Hindu-Buddha. (hlm. 89). Sedangkan sowan sebelum belajar dan boyongan pascabelajar sejatinya juga telah membudaya dalam tradisi masyarakat Nusantara zaman kerajaan Hindu-Buddha. (hm. 100).



Bahkan sistem ‘pondok’ yang menjadi ciri khas pesantren ada kemiripan dengan tempat pendidikan Syiwa-Buddha yang disebut asrama—tempat mendidik siswa agar memiliki pengetahuan mendalam tentang kehidupan, terutama pengetahuan keagaamaan. Di lembaga pendidikan Syiwa-Budhha itu ditetapkan aturan-aturan ketat yang mirip dengan ajaran pesantren Islam. (hlm. 197).

Buku ini sangat kaya informasi tentang etika pesantren dan sukses menghadirkan bukti antropologis terkait etika pesantren yang lahir dari proses inkulturasi (bukan sinkretisme) antara budaya lokal yang lebih dulu ada dan nilai-nilai Islam. Sehingga kearifan lokal terpelihara, sementara nilai-nilai Islam mengakar kuat di bumi Nusantara.* (Kang Asti, www.kangasti.com)

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Resensi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *