Catatan dari Launching Buku Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu

Wiwid Prasetyo (dua dari kiri) saat menyerahkan buku karyanya Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu dalam launching buku tersebut kepada saya di Soybean Resto, (21/7/2019)

Minggu (21/7/2019) penerbit Hanum Publisher yang saya kelola mengadakan sebuah even kegiatan bekerja sama dengan Forum Silaturahmi Penulis Grobogan (FSPG). Ada tiga even sekaligus dalam kegiatan tersebut, yaitu pertama, silaturahmi literasi; kedua, peluncuran buku Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu karya Wiwid Prasetyo yang diterbitkan oleh Hanum Publisher; dan ketiga, seminar dengan tema “Mengangkat Budaya Kearifan Lokal dalam Sebuah Novel”. Acara digelar di Soyben Resto, Rumah Kedelai Grobogan (RKG), Jalan Raya Purwodadi-Solo KM. 5, Krangganharjo, Toroh.

Lanjutkan membaca

Membiasakan Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Resensi buku dimuat di Tribun Jateng, edisi Minggu, 14 Juli 2019

Sebagai bahasa resmi sekaligus bahasa persatuan, bahasa Indonesia harus dijunjung tinggi. Caranya, dengan menggunakannya sebagai alat komunikasi sehari-hari dengan baik dan benar. Tapi, realitas yang terjadi sungguh ironis. Banyak yang justru senang menggunakan bahasa Indonesia yang bercampur dengan kata dari bahasa asing.

Hal itu boleh jadi karena ingin dianggap lebih keren, lebih terkesan intelek, atau karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian. Melalui buku berjudul  Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris?, Ivan Lanin, seorang Wikipediawan pencinta Bahasa Indonesia, mengajak untuk mulai membiasakan (kembali) berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Disadari atau tidak, memang sering terjadi seseorang lebih senang menggunakan kata dari bahasa asing, terutama Inggris, dibanding menggunakan kata yang ada di kamus bahasa Indonesia. Hingga saat ini, banyak kata asing yang lebih akrab di telinga dan lebih sering digunakan seperti blogger, online/offline, hyperlink, mouse, hashtag, real estate, gadget, dan sebagainya. Padahal dalam bahasa Indonesia, istilah-istilah tersebut sudah ada padanannya yang bisa digunakan.




Blogger misalnya, bisa diganti dengan narablog. Online/offline diganti terhubung/terputus. Hyperlink diganti pranala. Mouse diganti tetikus. Hashtag diganti tagar. Real estate diganti lahan yasan. Gadget diganti gawai. Dan seterusnya.

Beberapa kata memang sudah mulai akrab dan dipakai seperti gawai dan tagar, namun kata lainnya masih belum akrab dan bahkan terdengar janggal. Menurut Ivan Lanin, “Kejanggalan yang mungkin dirasakan hanyalah karena keterbiasaan. Pergunakan saja istilah-istilah baru tersebut, pasti lama-lama menjadi terbiasa dan tidak terasa janggal lagi.” (hlm. 9).

Selain penggunaan bahasa asing, salah kaprah dalam penggunaan kata juga jamak terjadi. Tak sedikit pengguna bahasa yang salah menggunakan kata lajur atau jalur, pencinta atau pecinta, mengapa atau kenapa, ke luar atau keluar, dan lain sebagainya. Bahkan ada juga yang belum bisa membedakan antara di sebagai kata depan dan di- sebagai awalan. Juga masih ada yang sering tertukar pemakaian antara di dan pada.

Buku ini menarik karena ditulis oleh seseorang yang bukan berlatar belakang pendidikan linguistik, melainkan S-1 Teknik Kimia ITB dan S-2 Teknologi Informasi UI. Namun sejak tahun 2006, Ivan Lanin giat mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar melalui jejaring sosial seperti blog, Twitter, dan Facebook.

Dari keaktifannya itu,  mengantarkan Ivan Lanin dikenal sebagai “Penasehat Bahasa” dan pernah mendapatkan penghargaan Pembina Bahasa Indonesia 2016 sebagai Peneroka Bahasa Indonesia Daring dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud.

Lewat buku ini, Ivan Lanin mengajak untuk menghargai bahasa Indonesia daripada bahasa lain, khususnya bahasa Inggris yang pengaruhnya tak dapat dihindari oleh pengguna bahasa mana pun di dunia.* (Badiatul Muchlisin Asti)

 



Menanamkan Nilai-nilai Islam dengan Metode Montessori

Resensi dimuat di Tribun Jateng, edisi Minggu, 7 Juli 2019

Cara mendidik anak di era sekarang berbeda dengan cara mendidik anak tempo dulu. Perkembangan zaman yang pesat, dengan ditandai semakin canggihnya teknologi informasi, menjadikan orangtua zaman now perlu memiliki metode dan strategi mendidik anak yang sesuai dengan situasi zaman terkini. Seperti kalimat bijak Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu” . Lanjutkan membaca

Menyelami Nasehat dan Pemikiran Gus Mus

Resensi dimuat di Harian Bhirawa, edisi 5 Juli 2019

KH. Ahmad Musthofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus adalah sosok kiai yang unik. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Leteh, Rembang ini, selain dikenal sebagai seorang ulama, juga seorang budayawan: seniman, penyair, sastrawan, dan pelukis. Ramuan pribadi yang unik ini menghadirkan sosok Gus Mus yang kaya pesona, baik dari sisi pribadi yang bersahaja dan rendah hati, maupun pada corak berpikirnya yang mengagumkan, meski kadang kontroversial. Tausiyah-tausiyahnya dinanti umat, terutama kalangan nahdliyyin, karena segar, mencerahkan, dan menyejukkan hati.




Buku berjudul Cinta Negeri Ala Gus Mus ini menyajikan bulir-bulir nasehat Gus Mus yang penuh hikmah, juga percikan pemikirannya dalam banyak aspek kehidupan seperti keagamaan, kebudayaan, dakwah, kepemimpinan, keindonesiaan, pendidikan, dan komitmen kebangsaan. Bulir-bulir nasehat dan percik pemikiran khas Gus Mus itu disajikan secara padat, bernas, dan kontekstual, sebagai bahan refleksi dan perenungan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam bidang dakwah dan praktik keagamaan, Gus Mus menyoroti model dakwah yang berkembang di Indonesia. Saat ini, menurut Gus Mus, banyak orang mengaku berdakwah, mengajak kepada Islam, tapi dia sendiri menjauh dari akhlak Islam. Bukannya memberi contoh moral yang mulia, malah mengajarkan untuk membenci sesama, lalu mengobarkan permusuhan kepada siapa saja di luar kelompoknya. Puncaknya menebar teror di mana-mana.

Selain menyalahi cara Rasulullah, menurut Gus Mus, cara itu juga mengingkari perintah Gusti Allah. Ia mengajarkan agar mengasihi sesama dan menghormati tetangga. Harus pula membangun persatuan dan mengutamakan kerukunan. (hlm. 46-47).

Pada soal kepemimpinan, dalam pandangan Gus Mus, pemimpin harus meniru Rasulullah. Tidak perlu mengidolakan siapa-siapa lagi, karena Rasulullah  itu sangat lengkap. Allah telah mengatur sedemikian rupa, menjadikan Rasulullah sebagai teladan yang baik. (hlm. 77-78). Sayangnya, sebagaimana ditulis Gus Mus di bagian lain buku ini, pemimpin sekarang tak lagi punya perhatian seperti dicontohkan Nabi. Pemimpin-pemimpin sekarang kurang peduli terhadap nasib rakyat, bahkan gemar korupsi.




Itu terjadi karena dunia pendidikan di Indonesia hanya terjebak pada kaidah taklim, dan mengesampingkan tarbiyah. Padahal tarbiyah itu penting karena berorientasi pada akhlak, sedangkan taklim hanya pada ilmu. (hlm. 86-87).

Gus Mus juga menyoroti peran kiai di tengah masyarakat. Di tengah merebaknya korupsi oleh para pejabat, menurut Gus Mus, peran kiai sebagai penjaga moralitas ditunggu sekaligus layak dipertanyakan  secara kritis: apakah menjadi solusi atau justru menjadi bagian masalah bangsa.

Bagi Gus Mus, kalangan kiai dan pesantren harusnya memainkan peran sebagai penjaga akhlak bangsa, tidak terjebak dalam peran-peran instrumental—seperti turut menjadi tim sukses calon dalam pemilihan kepala daerah. (hlm. 114). Buku ini sangat menarik, karena menyajikan bulir-bulir nasehat penuh hikmah dan pemikiran Gus Mus yang sangat menarik untuk diselami sebagai bekal menata diri dalam bingkai mencintai NKRI.*

*Peresensi: Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Forum Silaturahmi Penulis Grobogan (FSPG), Jawa Tengah

Sumber: http://harianbhirawa.com/menyelami-nasehat-dan-pemikiran-gus-mus/

 

Di Balik Penulisan “Buku Sakti Menulis Opini”: Merayakan 25 Tahun Berkarya

Kaver “Buku Sakti Menulis Opini” edisi 2

Saya mulai menulis tahun 1994, saat belum era komputer. Tulisan pertama kali saya berupa artikel populer berjudul “Krisis Pergaulan Remaja Modern” yang dimuat di majalah Rindang (terbitan Kemenag Jawa Tengah, sekarang sudah tidak terbit) edisi Juni 1994. Dapat honor Rp 35 ribu, melebih jatah makan saya selama sebulan di pesantren yang Rp 30 ribu. Lanjutkan membaca

Kiat Sukses Berjualan “Online” di Media Sosial

Koran Jakarta, edisi Selasa, 2 Juli 2019

Munculnya beragam media sosial telah merevolusi ba­nyak gaya hidup manusia, termasuk dalam berjual beli produk. Dulu, proses transaksi hanya melalui toko konvensional. Kini, tren jual beli bergeser ke arah online. Maka, menjamurlah online shop (penjualnya sering disebut olshoper) yang menjual beraneka produk secara online me­lalui media sosial.

Lanjutkan membaca