Di Balik Penulisan “Buku Sakti Menulis Opini”: Merayakan 25 Tahun Berkarya

Kaver “Buku Sakti Menulis Opini” edisi 2

Saya mulai menulis tahun 1994, saat belum era komputer. Tulisan pertama kali saya berupa artikel populer berjudul “Krisis Pergaulan Remaja Modern” yang dimuat di majalah Rindang (terbitan Kemenag Jawa Tengah, sekarang sudah tidak terbit) edisi Juni 1994. Dapat honor Rp 35 ribu, melebih jatah makan saya selama sebulan di pesantren yang Rp 30 ribu.

Itu tulisan bersejarah sekali  bagi saya. Kenapa bersejarah? Karena tulisan itu adalah tulisan pertama saya, yang saya ketik dengan mesin ketik manual hasil pinjaman, dan itu juga untuk pertama kalinya saya pegang mesin ketik, yang otomatis juga untuk pertama kalinya mengetik. Seharian saya mengetik naskah itu yang awalnya saya tulis tangan di kertas folio. Tidak rapi itu pasti, tapi kebaca jelas. Dan alhamdulillah, akhirnya dimuat. Saya senang dan bangga sekali ketika itu.

Karena sangat berharga dan bernilai sejarah tinggi, kliping artikel pertama saya tersebut saya simpan sampai sekarang. Karena itulah tonggak saya memutuskan dan mendeklarasikan diri sebagai penulis dan berjanji pada diri saya sendiri akan terus menulis. Dan segala puji hanya milik Allah, saya telah berhasil konsisten dengan keputusan yang saya ambil tersebut. Tahun 2019 ini, genap 25 tahun saya berkarya sejak saat itu, dan saya tetap konsisten dan aktif menulis hingga detik ini.

Penampakan artikel pertama saya, dimuat di majalah Rindang, edisi Juni 1994




Sejak dimuatnya tulisan pertama saya tersebut di majalah Rindang, saya kemudian mencari-cari media massa yang saya bisa menulis secara lepas di situ. Maka, bertemulah saya dengan tabloid Jumat, sebuah tabloid mingguan (terbit setiap Jumat) yang diterbitkan oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan berkantor di Masjid Istiqlal Jakarta. Di tabloid ini, saya menulis lepas berupa tulisan-tulisan jurnalistik seperti berita, feature, dan reportase.

Lalu saya juga mengenal Suara Merdeka, koran harian terbesar di Jawa Tengah, yang di setiap hari Minggu menurunkan rubrik-rubrik seru, di antaranya rubrik remaja yang saya bisa menulis di situ. Di sini, saya menulis esai lepas. Juga ada rubrik Yunior, yang saya nulis cerita anak atau dongeng. Suara Merdeka juga menerbitkan tabloid Tren, yang ada rubrik esai lepas, dan beberapa kali tulisan esai saya juga tayang di tabolid yang sekarang sudah tinggal kenangan itu.

Seiring dengan itu, saya juga mengenal media-media lainnya seperti majalah Annida, majalah TREND, Sabili, Ummi, dan lain-lainnya, yang saya pernah menulis di situ dan banyak tulisan saya berupa berita, reportase, artikel, maupun esai, yang dimuat.

Sejak awal menulis, minat saya di jenis tulisan non-fiksi, jadi tulisan saya tidak jauh-jauh dari situ. Sesekali pernah berupaya menulis fiksi, seperti puisi dan cerpen, tapi sering gagalnya. Beberapa puisi saya pernah dimuat di koran, juga cerpen saya. Tapi tidak berlanjut, karena sejak awal memang kurang interest.

* * *

Awal tahun 2000-an, internet sudah booming.  Saya pun beradaptasi. Tidak lagi nulis dengan mesin ketik, tapi sudah pakai komputer. Lebih enak dan praktis. Ada salah ketik atau revisi tinggal edit atau delete. Tidak seperti kalau pakai mesin ketik yang musti di-tipe-x. Juga ada e-mail yang menjadikan kirim naskah tidak harus pakai perangko dan ke kantor pos, tapi cukup di warnet (ketika itu) dan naskah telah sampai ke redaksi dalam hitungan detik.

Perkembangan itu membuat produktivitas saya meningkat drastis, juga ekspansi saya menulis di berbagai koran menjadi semakin banyak lagi.  Selain menulis di koran, saya juga menulis buku sejak tahun 2004. Ada 60+ buku multitema yang telah saya tulis dan terbitkan hingg sekarang. Sehingga kemudian, saya tidak lagi hanya menulis, tapi sudah mulai mengisi berbagai pelatihan menulis dan diundang oleh berbagai lembaga, baik sekolah, perguruan tinggi, maupun komunitas.

Kaver “Buku Sakti Menulis Opini” edisi baru




“Buku Sakti Menulis Opini, Kupas Tuntas Menulis Artikel Opini yang Layak Terbit di Koran” ini adalah salah satu upaya saya berbagi pengalaman menulis, dalam hal ini menulis artikel opini. Di dalamnya saya kupas panduan menulis artikel opini dari hulu sampai hilir, bahkan hingga sampai ke soal-soal teknis seperti bagaimana cara kirim naskah ke koran, bagaimana menghitung jumlah karakter artikel, dan sebagainya.

Kini, buku saya tersebut cetak ulang ke-2 dan dengan desain kaver baru yang lebih fresh. Insya Allah menyusul buku-buku saya selanjutnya yang membahas tentang panduan menulis, antara lain kiat menulis resensi, cara mudah menulis dan menerbitkan buku, piawai menulis esai, dan lain sebagainya. Semuanya saya tulis dengan berbasiskan pengalaman yang diramu dengan teori menulis yang ada.

Bagi yang berminat membeli buku tersebut, harga Rp 50 ribu (belum termasuk ongkos kirim), pemesanan ke nomor WhatsApp: 081347014686.

Mohon doanya, setelah 25 tahun berkarya, semoga saya tetap eksis dan konsisten untuk terus berkarya, berkarya, dan berkarya. Aamiin. Terima kasih. Semoga bermanfaat.* (Kang Asti, www.kangasti.com)

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Kang Asti, News. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *