Membiasakan Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Resensi buku dimuat di Tribun Jateng, edisi Minggu, 14 Juli 2019

Sebagai bahasa resmi sekaligus bahasa persatuan, bahasa Indonesia harus dijunjung tinggi. Caranya, dengan menggunakannya sebagai alat komunikasi sehari-hari dengan baik dan benar. Tapi, realitas yang terjadi sungguh ironis. Banyak yang justru senang menggunakan bahasa Indonesia yang bercampur dengan kata dari bahasa asing.

Hal itu boleh jadi karena ingin dianggap lebih keren, lebih terkesan intelek, atau karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian. Melalui buku berjudul  Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris?, Ivan Lanin, seorang Wikipediawan pencinta Bahasa Indonesia, mengajak untuk mulai membiasakan (kembali) berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Disadari atau tidak, memang sering terjadi seseorang lebih senang menggunakan kata dari bahasa asing, terutama Inggris, dibanding menggunakan kata yang ada di kamus bahasa Indonesia. Hingga saat ini, banyak kata asing yang lebih akrab di telinga dan lebih sering digunakan seperti blogger, online/offline, hyperlink, mouse, hashtag, real estate, gadget, dan sebagainya. Padahal dalam bahasa Indonesia, istilah-istilah tersebut sudah ada padanannya yang bisa digunakan.




Blogger misalnya, bisa diganti dengan narablog. Online/offline diganti terhubung/terputus. Hyperlink diganti pranala. Mouse diganti tetikus. Hashtag diganti tagar. Real estate diganti lahan yasan. Gadget diganti gawai. Dan seterusnya.

Beberapa kata memang sudah mulai akrab dan dipakai seperti gawai dan tagar, namun kata lainnya masih belum akrab dan bahkan terdengar janggal. Menurut Ivan Lanin, “Kejanggalan yang mungkin dirasakan hanyalah karena keterbiasaan. Pergunakan saja istilah-istilah baru tersebut, pasti lama-lama menjadi terbiasa dan tidak terasa janggal lagi.” (hlm. 9).

Selain penggunaan bahasa asing, salah kaprah dalam penggunaan kata juga jamak terjadi. Tak sedikit pengguna bahasa yang salah menggunakan kata lajur atau jalur, pencinta atau pecinta, mengapa atau kenapa, ke luar atau keluar, dan lain sebagainya. Bahkan ada juga yang belum bisa membedakan antara di sebagai kata depan dan di- sebagai awalan. Juga masih ada yang sering tertukar pemakaian antara di dan pada.

Buku ini menarik karena ditulis oleh seseorang yang bukan berlatar belakang pendidikan linguistik, melainkan S-1 Teknik Kimia ITB dan S-2 Teknologi Informasi UI. Namun sejak tahun 2006, Ivan Lanin giat mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar melalui jejaring sosial seperti blog, Twitter, dan Facebook.

Dari keaktifannya itu,  mengantarkan Ivan Lanin dikenal sebagai “Penasehat Bahasa” dan pernah mendapatkan penghargaan Pembina Bahasa Indonesia 2016 sebagai Peneroka Bahasa Indonesia Daring dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud.

Lewat buku ini, Ivan Lanin mengajak untuk menghargai bahasa Indonesia daripada bahasa lain, khususnya bahasa Inggris yang pengaruhnya tak dapat dihindari oleh pengguna bahasa mana pun di dunia.* (Badiatul Muchlisin Asti)

*Resensi dimuat di koran Tribun Jateng edisi Minggu, 14 Juli 2019



Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Resensi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *