Catatan Ringan dari Launching Buku Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu

Wiwid Prasetyo (dua dari kiri) saat menyerahkan buku karyanya Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu dalam launching buku tersebut kepada saya di Soybean Resto, (21/7/2019)

Minggu (21/7/2019) penerbit Hanum Publisher yang saya kelola mengadakan sebuah even kegiatan bekerja sama dengan Forum Silaturahmi Penulis Grobogan (FSPG). Ada tiga even sekaligus dalam kegiatan tersebut, yaitu pertama, silaturahmi literasi; kedua, peluncuran buku Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu karya Wiwid Prasetyo yang diterbitkan oleh Hanum Publisher; dan ketiga, seminar dengan tema “Mengangkat Budaya Kearifan Lokal dalam Sebuah Novel”. Acara digelar di Soyben Resto, Rumah Kedelai Grobogan (RKG), Jalan Raya Purwodadi-Solo KM. 5, Krangganharjo, Toroh.





Ada beberapa catatan ringan saya terkait acara tersebut, terutama untuk peluncuran buku Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu. Sebenarnya buku tersebut berasal dari naskah lama yang saya terima dari penulisnya, Wiwid Prasetyo. Mas Wiwid, begitu saya biasa menyapanya, mengirim naskahnya ke saya lewat surel pada hari Jumat, 14 Desember 2012. Sudah sekira 6 tahun yang lalu ya.

Naskah tersebut sudah saya proses penerbitannya, baik penyuntingan, tata letak isi, maupun penggarapan desain kaver. Tidak tahu kenapa, naskah tersebut urung terbit hingga tidak terasa, waktu terus bergulir. Akhir bulan Juni 2019, tepatnya tanggal 28, saya kirim pesan ke mas Wiwid lewat nomor WhatsApp-nya berisi keinginan saya untuk menerbitkan (kembali) naskahnya itu.

Alhamdulillah, mas Wiwid menyetujui. Proses penerbitannya saya kebut. Tim Hanum Publisher saya dorong untuk segera memproses tata letak maupun penggarapan desain kavernya. Alhamdulillah, akhirnya, tiga hari sebelum peluncuran, yaitu tanggal 21 Juli 2019, bukunya selesai cetak dan siap diluncurkan. Proses yang begitu cepat sekali.

Naskah itu sebenarnya saya minta Mas Wiwid menulisnya untuk tujuan modul kelas menulis novel. Saat itu saya memang sedang gencar-gencarnya membuka kelas menulis dan mendorong kegiatan literasi secara nasional alias lintas daerah seluruh Indonesia melalui jejaring media sosial. Mas Wiwid yang saat itu memang sedang produktif menulis novel menyetujui, dan akhirnya jadilah naskah tersebut yang awalnya ia beri judul “Mengarang Novel itu Gampang”.

Buku Panduan yang Sangat Menarik

Sejak awal, saya tertarik dengan naskah Mas Wiwid. Sebagai sebuah buku panduan menulis, dalam hal ini novel, Mas Wiwid meramunya dengan baik, mengalir, sistematis, dan enak dibaca. Semua elemen yang dibutuhkan dalam proses penulisan novel ia bahas dengan cukup baik dan memikat. Bahkan tidak terbuai dalam teori yang ndakik-ndakik, Mas Wiwid justru mengawalinya dengan rangsangan-rangsangan motivasional yang menggedor jiwa.

Kaver buku Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu karya Wiwid Prasetyo




Bahkan meski awalnya naskah itu ia beri judul “Mengarang Novel Itu Gampang”, tapi justru di awal narasinya di pendahuluan, ia mengingatkan pembaca bahwa menulis novel itu butuh kerja keras. “Membuat novel memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses yang luar biasa ekstra kerja keras. Bahkan, hanya sekedar bakat saja tidak cukup,” tulisnya. (ix).

Buku yang kemudian saya beri judul “Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu” itu memang menarik. Judul itu, yang akhirnya saya sematkan, memang tidaklah mengada-ada. Bagi saya, buku ini memang menghadirkan jurus-jurus jitu mengarang novel yang berkualitas, berbobot. Apalagi penulisnya tidak sedang berteori, tapi di banyak tempat, di sekujur halaman demi halaman buku ini, Mas Wiwid menyaripatikan pengalamannya menulis lebih dari 25-an novel, yang sebagiannya best seller nasional, di antaranya novel karyanya berjudul Orang Miskin Dilarang Sekolah yang diterbitkan Diva Press Yogyakarta yang cetak ulang puluhan kali.

Selain dari pengalamannya, Mas Wiwid juga menyaripatikan pengalaman dari novelis-novelis kondang seperti Ahmad Tohari, Arswendo Atmowiloto, Pramoedya Ananta Toer, Andrea Hirata, dan sebagainya. Inilah yang kemudian menjadi catatan saya selanjutnya atas peluncuran buku Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu karya Wiwiwd Prasetyo. Bahwa seorang calon novelis yang akan melahirkan novel-novel bermutu harus memiliki tradisi membaca yang kuat.

Dan itulah yang ditekankan oleh Mas Wiwid, terutama saat sesi seminar Mengangkat Budaya Kearifan Lokal dalam Sebuah Novel di mana ia menjadi salah satu pembicaranya. Sebagai sebuah karya sastra, novel tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan pergumulan pengarangnya terhadap realitas. Karena itu, pengarang harus banyak membaca dan banyak mengamati realitas.

Meski fiksi dan berbasis imajinasi,  tapi deskripsi yang ditulis oleh novelis dalam novelnya harus menjejak realitas. Terutama saat pengarang novel membuat deskripsi tentang setting sebuah tempat atau suasana. Menulis fiksi adalah, meminjam istilah mendiang Arswendo Atmowiloto, menulis “realitas yang difiksikan”.

Perlunya Membangun Tradisi Membaca yang Kuat



Mas Wiwid sendiri, sesuai penuturannya dalam seminar tersebut, baru mulai debut kepenulisannya semasa kuliah, yaitu di Fakultas Dakwah IAIN (kini UIN) Walisongo Semarang . Tradisi diskusi di kampus itu mengantarnya menyukai bacaan-bacaan bertema filsafat, kemudian sastra. Apalagi ia juga bergiat di majalah kampus Fakultas Dakwah bernama Missi. Dari situlah kemudian tradisi menulis masuk dalam kapasitas dirinya.

Wiwid Prasetyo (tengah) saat memaparkan materi pada sesi seminar Mengangkat Budaya Kearifan Lokal dalam Sebuah Novel

Tapi jauh sebelum itu, sejak kecil ia sudah menyukai dunia baca. Bahkan sebuah tempat persewaan buku pernah menjadi tempat ia melahap banyak buku. Karena tidak punya uang untuk menyewa bukunya sehingga bisa dibaca di rumah, menjadikan ia banyak menghabiskan waktu membaca buku di tempat persewaan itu.

Ya, tradisi membaca adalah keniscayaan bagi orang-orang yang bermimpi menjadi seorang penulis. Itu juga yang sering saya sampaikan di berbagai even literasi. If you don’t read, you don’t write. Kata saya, kalau engkau tak memiliki tradisi membaca yang kuat, jangan pernah bermimpi menjadi seorang penulis.

Buku Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu adalah kristalisasi pengalaman Mas Wiwid menulis lebih dari 25 novel dalam jangka waktu yang singkat. Sehingga benarlah apa kata Mas Edy Zaqeus,   Bestseller Writer, Writing Coach, Bestselling Author, dan Founder Bornrich Consulting, dalam endorsemennya untuk buku ini. Katanya, “Anda tidak sekadar menemukan teori dan teknik menulis novel di buku ini. Namun, Anda juga akan dimotivasi dan diperkaya dengan saripati pengalaman Wiwid Prasetyo dalam melahirkan puluhan buku di rentang waktu yang begitu singkat. Jadi, ini buku teknik menulis yang berharga untuk dibaca dan dikoleksi.”

Begitulah!

Informasi dan pemesanan buku Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu melalui nomor  WhatsApp: 0813470148686.

Salam literasi!

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Bilik Literasi, Cerita Kang Asti. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *