You cannot copy content of this page

Peta Intelektualisme Islam Pasca Orde Baru

Resensi dimuat di koran Kabar Madura, edisi Jumat, 26 Juli 2019

Hampir di sepanjang masa kekuasaannya, rezim Orde Baru melakukan represi dan kontrol ketat terhadap aktivisme Islam politik. Karena itulah di sepanjang masa itu, banyak terjadi tragedi kemanusiaan dan kemelut politik yang melibatkan kaum Muslimin, di antaranya kasus Tanjung Priok, DOM Aceh, dan Lampung Berdarah.

Menjelang akhir kekuasaannya, rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Jenderal Soeharto, mulai agak mengendurkan tekanan politiknya. Setidaknya ditandai dengan berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada tahun 1990.


Berdirinya ICMI ini mengisyarakatkan bangkitnya Islam politik dengan cara yang khas Indonesia. Ia merupakan puncak rekonsiliasi dari proses saling curiga antara pemerintah dan kubu Muslim yang berlangsung sejak puluhan tahun. (hlm. 2).

Setelah berkuasa lebih dari tiga puluh tahun, akhirnya pada 22 Mei 1998, singgasana Orde Baru runtuh. Jenderal Soeharto meletakan jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Lengsernya penguasa Orde Baru yang menjadi penanda terbitnya era Reformasi itu, menjadi angin segar bagi para penggiat masyarakat sipil, termasuk aktivis-aktivis Muslim dengan berbagai latar belakang, untuk mengisi ruang publik Indonesia dengan beragam wacana dan agenda.

Optimisme dan harapan Reformasi telah melahirkan cara-cara baru yang semakin kritis dan pelik dalam memikirkan Islam ditinjau dari segi relevansinya dengan kehidupan publik dan kedudukannya di masyarakat, arti pentingnya bagi keadaan batin penganutnya, serta Islam sebagai keyakinan analitis.

Lajur-lajur pemikiran tersebut menggabungkan berbagai gagasan inovatif yang dicetuskan oleh kaum intelektual yang sukar dikelompokkan dengan kategori yang ada. Misalnya, intelektual yang berperan dalam pembentukan wacana tersebut, banyak yang  berlatar belakang Muslim tradisionalis, dididik di pesantren, dan terkait dengan NU. Tetapi, gagasan mereka tampak mengungguli rekan modernitasnya dalam hal pemikiran kritis dan kreatif. (hlm.33).

Ini menunjukkan bahwa ormas seperti Muhamadiyah dan NU bukanlah lembaga monolitik. Sebaliknya, mereka menunjukkan kemajemukan umat Muslim Indonesia dan mencerminkan karakternya. (hlm. 35).




Buku berjudul Berebut Wacana, Pergulatan Wacana Umat Islam Indonesia Era Reformasi karya Carool Kersten ini secara sangat apik dan sistematis merekam peta intelektualisme Islam Indonesia kontemporer pasca-Orde Baru.

Carool Kersten mengungkap secara mendalam dan terperinci dinamika intelektualisme Islam, terutama kaitannya dengan perdebatan mengenai sekulerisme, pluralisme dan liberalisme dalam konteks muslim Indonesia. Carool mengetengahkan kontestasi wacana itu tidak hanya melibatkan tokoh-tokoh tua, namun juga sejumlah kaum intelektual Islam muda sesudahnya yang mengusung ide-ide Islam secara baru dan segar.

Pendekatan itulah yang menjadikan buku ini unik dan menarik, karena menyuguhkan nuansa intelektualisme yang berbeda dari yang biasa ditampilkan oleh karya-karya ilmuwan dan peneliti asing lain. Buku ini layak dijadikan sebagai salah satu referensi untuk melihat peta perkembangan pemikiran Islam di Indonesia di era Reformasi atau pasca-Orde Baru dengan segenap dinamika dan kontestasi wacananya yang sangat tajam.*

*) Peresensi, Badiatul Muchlisin Asti, adalah penulis lepas dan Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, tinggal di Grobogan.

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *