You cannot copy content of this page

Soto, Selaksa Cita Rasa Nusantara

Resensi dimuat di Suara Merdeka, edisi 28 Juli 2019

Soto adalah ikon kuliner Indonesia yang boleh dibilang paling populer, selain variannya yang paling banyak dibanding kuliner lainnya. Soto dijual di kaki lima hingga restoran bintang lima. Bahkan hampir setiap belahan daerah di Indonesia mempunyai versi soto masing-masing.

Buku Soto, Nikmat dari Indonesia untuk Dunia ini adalah sebuah buku yang secara spesifik membahas soto secara lengkap dan mendalam. Secara historis, harus diakui, soto tidak indigenous Indonesia meski telah melekat sebagai identitas kuliner Indonesia. Sejarawan kuliner Indonesia, Fadly Rahman, mengutip Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia (1996) menyigi kata soto yang merupakan derivasi dari kosakata Tionghoa, cau du (chau tu)—dalam bahasa Hokkian berbunyi chau to. (hlm. 9)

Menurut Rahman, penyerapan kata Tionghoa yang menurunkan kata soto ini diperkirakan mulai populer dan dikenal di Semarang pada abad ke-19. Kota besar di Jawa Tengah ini merupakan kawasan hunian bagi orang-orang peranakan Tionghoa di mana hubungan kebudayaan antarkehidupan masyarakat terjalin padu. (hlm. 9).

Berbagai pengaruh kuliner peranakan Tionghoa dalam kuliner Indonesia sendiri amat tak terkira jumlahnya. Sederhananya itu dapat dicermati dari begitu banyaknya serapan kosakata kuliner dari bahasa peranakan Tionghoa dalam bahasa Indonesia—termasuk soto. (hlm. 10).




Namun, soto yang menyebar di berbagai daerah di Indonesia bukan hanya pengaruh Tionghoa saja. Ada juga pengaruh dari dapur kuliner lain seperti India dan Eropa. Penggunaan bumbu kari pada soto sulung, soto Betawi, dan soto Madura terasa mencirikan budaya kuliner India. Adapun penggunaan bahan dan bumbu seperti tomat, selederi, kol, dan kentang (termasuk diolah menjadi perkedel) mencerminkan adopsi bahan-bahan dari Barat (Eropa). (hlm. 22).

Selain sisi historis, kajian menarik di buku ini adalah tentang profil soto dan sebarannya di Indonesia. Dari kajian analisis yang dilakukan tim, diperoleh data tentang soto, yaitu terdapat 75 ragam soto di Indonesia yang tersebar di 22 daerah kuliner. (hlm. 31).

Jumlah ragam soto itu boleh jadi bisa bertambah lebih banyak lagi, mengingat penelitian itu dilakukan dengan membatasi jumlah daerah kuliner yang menjadi objek penelitian, yaitu hanya 34 dengan rincian: Sumatra terbagi menjadi 9 daerah kuliner, Jawa 11 daerah kuliner, Kalimantan 3 daerah kuliner, dan Sulawesi 6 daerah kuliner. Selanjutnya Bali, NTB, NTT, Papua, dan Maluku, masing-masing satu daerah kuliner.

Tersebar

Ragam soto Indonesia yang menyebar di banyak daerah, memiliki ciri khas masing-masing. Memakai berbagai variasi bumbu dan cara racikan penyajian. Citra rasanya pun bermacam-macam. Kuahnya ada yang bening, kekuningan, hingga merah pekat. Protein pelengkapnya juga berbeda-beda, ada yang memakai ayam, daging, atau ikan.

Tidak hanya sotonya yang berbeda, juga varian makanan pendamping saat menyantap soto juga berbeda setiap daerah. Namun umumnya, ada lima makanan pendamping saat menyantap nikmatnya semangkuk soto, yaitu: perkedel, empal, sate, tahu/tempe, dan kerupuk.

Perkedel termasuk paling umum sebagai makanan pendamping menyantap soto. Namun ternyata, setiap daerah memiliki basis bahan yang berbeda. Di Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Barat, perkedel dibuat dari bahan dasar kentang. Di daerah pesisir seperti di Pulau Bangka, Belitung, dan Kepulauan Riau, masyarakat setempat menggunakan umbi talas sebagai bahan dasar perkedel. Adapun di Banjarmasin Kalimantan Selatan, soto Banjar dinikmati dengan perkedel yang terbuat dari singkong.



Buku yang berasal dari seminar berjudul Soto sebagai Representasi Cita Rasa Indonesia pada Bekraf  Creative Labs 2017 Indonesia Culinary Conference & Creative Expo ini memang bagus. Menyajikan informasi dan kajian spesifik tentang soto secara komprehensif dan mendalam. Buku yang dicetak eksklusif dengan kertas isi artpaper dan full colour ini dilengkapi kajian tentang inovasi dalam penyajian soto Indonesia, desain warung soto Indonesia sebagai indentitas dan daya tarik Indonesia, ulasan tentang aspek keamanan pangan pada soto, ulasan tentang kehalalan produk kuliner, serta prospek bumbu racik soto dan kuliner Indonesia di tingkat lokal dan global. Juga dilengkapi 20 resep soto pilihan dari berbagai daerah di Indonesia.

Cakupan pembahasan yang lengkap tentang soto dan per-soto-an di Indonesia, juga ditulis oleh para ahli dan praktisi yang konsen dan otoritatif di bidangnya, menjadikan buku ini sangat representatif sebagai referensi bagi para pemerhati kuliner, kalangan akademis, peneliti, pelaku usaha, instansi pemerintah, dan masyarakat umum.  Terutama bagi pebisnis kuliner, buku ini adalah referensi yang harus dibaca.* (Badiatul Muchlisin Asti, pencinta kuliner Nusantara, bergiat di Forum Silaturahmi Penulis Grobogan).

Facebook Comments

Author

badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *