Sejarah Seputar Perundingan Linggarjati

Resensi dimat di Koran Jakarta, edisi Jumat, 2 Agustus 2019

Bangsa Indonesia mengalami sejarah perjalanan panjang menuju sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Setelah ke­merdekaan, bangsa Indonesia masih harus berjuang menegakkan kedaulat­an. Salah satu momen bersejarah yang sangat penting karena menentukan perjalanan bangsa sebagai negara ber­daulat dan diakui internasional adalah perundingan Linggarjati.






Pertemuan bilateral antara perwa­kilan Indonesia dan Belanda dilaku­kan di Linggarjati, sebuah kota kecil di sebelah selatan Cirebon di kaki Gunung Ciremai. Kota ini dipilih ka­rena letaknya strategis di pertengahan antara Jakarta dan Yogyakarta (hlm 3).

Hasil perundingan Linggarjati yang diparaf 15 November 1946 dan ditandatangani 25 Maret 1947 menjadi sangat penting karena mengukuh­kan keberadaan Republik Indonesia pascaproklamasi (hlm 8). Hasil perun­dingan antara lain, Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura.

Belanda harus meninggalkan dae­rah tersebut paling lambat 1 Januari 1949 (hlm 10). Telusur sejarah perun­dingan Linggarjati itulah yang men­jadi bagian pembuka buku Memoar Rusdhy Hoesein, Berbagi Api Kehidup­an Dokter, Sejarawan, dan Kurator Museum. Rusdhy Hoesein seorang dokter yang kemudian beralih profesi menjadi sejarawan. Berawal dari ke­tertarikannya pada sejarah kedokteran di Indonesia, membuatnya terseret pada sejarah politik bangsa Indonesia.

Dia lalu kuliah program pascasar­jana bidang sejarah, meski usianya tidak muda lagi, hingga meraih gelar doktor sejarah. Peran Soekarno dalam Perjanjian Linggarjati menjadi bidang penelitiannya. Dia paham tentang sejarah perundingan Linggarjati dan peran penting Soekarno dalam perun­dingan tersebut.



Buku ini dibagi menjadi dua ba­gian. Pertama, mengenai diri dan keluarga Rusdhy, dari masa kecil, remaja, menempuh studi di kedok­teran, menemukan pasangan hidup, membina rumah tangga, hingga be­kerja sebagai dokter. Kedua, mengenai sejarah Indonesia, khususnya terkait pengalaman sejarah.

Selain tentang perundingan Ling­garjati dan peran Soekarno di dalam­nya, buku ini banyak berbagi cerita tentang sejarah Pancasila. Ini meliputi Perjalanan Kreatif Soekarno Mence­tuskan Pancasila, diikuti bab Sejarah Mengukuhkan Pancasila, dan bab Pancasila, Uji Imajiku Berbangsa, yang dikemas dalam sebuah puisi panjang.

Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Prof Dr Susanto Zuhdi, MHum, dalam pengantarnya menyebut Rusdhy se­bagai seorang yang mempunyai sense of history tinggi (hlm xv). Kiprahnya sebagai sejarawan tidak hanya dibukti­kan dengan aktif sebagai pembicara di berbagai forum seminar dan simpo­sium sejarah, tapi juga sebagai kurator sejumlah museum.

Bahkan dia banyak mengumpul­kan sumber sejarah, seperti foto, film, arsip, serta dokumen lainnya, di antaranya disumbangkan ke Museum Linggarjati. Buku ini cukup informatif terkait sejarah perjalanan bangsa menjadi negara bangsa yang merdeka dan berdaulat seutuhnya.* Diresensi Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Resensi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *