Meneladani Tasawuf Sosial Kiai Sahal

Resensi dimuat di harian Duta Masyarakat, edisi Sabtu, 31 Agustus 2019

KH MA Sahal Mahfudh, atau yang akrab disapa Kiai Sahal, adalah sosok ulama pesantren yang memiliki karisma, kredibilitas, dan otoritas kedalaman ilmu syariah yang mumpuni dan diakui. Dari Kajen, sebuah kampung santri di Kabupaten Pati yang kental dengan pergulatan tasawuf, sosok Kiai Sahal berkilau hingga pentas nasional. Menjadi figur ulama panutan dan disegani.

Semasa hidup, kiai yang wafat pada 24 Januari 2014 itu menduduki posisi puncak di dua organisasi Islam paling berpengaruh di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Di NU, Kiai Sahal menduduki posisi puncak sebagai Rais Am Syuriah PBNU sejak tahun 1999. Sedang di MUI, menjadi Ketua Umum Pusat sejak tahun 2000. Baik di NU maupun di MUI, Kiai Sahal wafat saat masih aktif menduduki posisi puncak di kedua organisasi tersebut.

Kecemerlangan sosok Kiai Sahal semakin memikat umat karena ia dipandang mampu mengendalikan diri dari syahwat politik. Semasa hidupnya, Kiai Sahal bersih dari tarik-menarik kepentingan politik. Sehingga ia identik dengan penjaga khittah NU di tengah godaan politik yang sangat membuai.



Sisi menarik lain Kiai Sahal adalah gagasannya tentang fiqh sosial. Bagi Kiai Sahal, fiqh bukanlah konsep dogmatif-normatif, melainkan konsep aktif-progresif. Fiqh harus bersenyawa dengan realitas kehidupan masyarakat dan hadir memberikan solusi bagi pelbagai problematika umat.

Dari gagasannya tentang fiqh sosial itulah, dari pesantren yang diasuhnya, yaitu Pesantren Maslakul Huda KajenMargoyoso Pati Jawa Tengah, Kiai Sahal mampu memberdayakan masyarakat Kajen melalui program-program sosial dan ekonomi seperti mendirikan Balai Pengobatan (BP), Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM), Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dan lainnya.

Bukan tanpa tantangan Kiai Sahal dengan gagasan-gagasan fiqih sosialnya tersebut. Kendala bahkan cibiran pernah dihadapi Kiai Sahal di tengah usahanya mengimplementasikan gagasan-gagasan besarnya. Namun, semua dapat dilalui Kiai Sahal dengan baik, sehingga kesuksesan pun dapat diraih. Satu per satu gagasannya terimplementasi dengan sukses.

Keteladanan dan inspirasi kegigihan Kiai Sahal dalam mewujudkan gagasan-gagasannya tentu menarik untuk disimak. Buku berjudul Tasawuf Sosial KH. MA. Sahal Mahfudh: Tasawuf Kajen Menghadirkan Solusi karya Jamal Ma’mur Asmani ini mengupas sisi menarik dari Kiai Sahal, yaitu aspek tasawuf sosial Kiai Sahal yang jarang dikaji.

Sejauh ini, kajian tentang sosok Kiai Sahal lebih cenderung pada gagasannya tentang fiqh sosial. Jarang yang mengupas sisi tasawufnya. Apalagi tasawuf yang dilekatkan dengan laku sosial. Padahal tasawuf sebagai ‘seni menata batin’ memiliki peran penting dalam memancarkan semangat seseorang dalam aksi dan gerak langkah kehidupannya. Tak terkecuali pada sosok Kiai Sahal. Sisi tasawufnya  menjadi landasan pemikiran dan pengobar semangat untuk selalu bersemangat dan tidak mudah putus asa dalam mewujudkan gagasan-gagasan besar yang diyakininya.




Dalam konteks Indonesia, berbicara tasawuf tidak lepas dari bicara tarekat, meski orang yang bertasawuf tak musti bertarekat. Dan Kiai Sahal termasuk dalam kategori kiai yang mendalami kajian tasawuf dan mengamalkan tarekat sekaligus. (hlm. 131).

Bagian penting dari laku tasawuf sosial Kiai Sahal yang layak diteladani adalah tindakan-tindakan riil di lapangan yang membawa perubahan kongkrit di tengah masyarakat. Antara lain yang dikupas oleh penulis di buku ini adalah: menghindari tamak, tidak takut dicerca demi kemaslahatan umat, mengedepankan ijtihad jama’i (kerja koletif), mendidik dengan sikap, sederhana dan menghindari kemegahan, tidak ingin dihargai, menekankan efektivitas, rajin bersilaturahmi dengan tetangga, kedisiplinan, qanaah, istikamah, sakha’, wara’i, mengedepankan kaderisasi, dan istikharah.

Laku dan sikap itulah yang nampaknya menjadi rahasia kesuksesan dan prestasi Kiai Sahal, baik di bidang keilmuan maupun sosialnya. Tidak takut dicerca demi kemaslahatan umat misalnya, menjadikan Kiai Sahal bergeming dengan aneka ejekan dan cibiran.




Saat Kiai Sahal menggerakkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat lewat Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM) yang didirikannya, ada banyak cibiran, ejekan, dan tantangan hebat, baik dari kalangan kiai atau elemen masyarakat yang lain. Kiai seyogianya mengaji dan membimbing umat dan tidak perlu terlibat pada kerja-kerja ekonomi yang biasa dilakukan nonkiai. Lebih ironis lagi, ketika Kiai Sahal dicibir sebagai agen asing yang menggunakan dana proyek asing untuk kepentingan yang tidak positif. (hlm. 155).

Menghadapi semua cibiran dan cercaan itu, Kiai Sahal menghadapi dengan tenang dan dibuktikan dengan kerja nyata dalam pemberdayaan ekonomi rakyat. (hlm. 155).

Buku ini layak dibaca, karena di dalamnya kaya akan informasi terkait dengan seluk beluk tasawuf. Juga mengupas tasawuf sosial sebagai sebuah terminologi dan diskursus yang sangat menarik, yang kemudian dikaitkan dengan laku tasawuf sosial Kiai Sahal yang penuh dengan semburat sinar keteladanan. Ya, keteladanan dari sosok kiai besar namun bersahaja, yang semasa hidupnya kuyup dengan prestasi hebat di bidang keilmuan dan sosial.*

*)Badiatul Muchlisin Asti adalah pembaca buku, pegiat literasi, dan Ketua Umum Forum Silaturahmi Penulis Grobogan (FSPG) Jawa Tengah.

Facebook Comments

Tentang Kang Asti

Writer, blogger, book-preneur, dan social-preneur. Direktur Hanum Publisher, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia, Sekretaris Forum Masyarakat Madani (FMM) Kabupaten Grobogan, Pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Grobogan, Ketua Blogger Grobogan, dan Kabid Pendidikan Anti Korupsi DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Jawa Tengah. Hobi banget membaca; penyuka kuliner, dan wisata. Tawaran kerjasama via e-mail: badiatulmuchlisinasti@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Resensi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *