Mendorong Generasi Muda Berwirausaha

Koran Sindo, edisi Sabtu, 23 November 2019

Di Indonesia, usaha kecil menengah atau yang biasa disingkat UKM telah terbukti mempunyai peranan penting dan telah banyak memberikan kontribusi yang cukup besar dalam meningkatkan perekonomian serta pembangunan negara. Diperkirakan ada jutaan UKM yang berdiri di Indonesia.

Kendati demikian, saat ini Indonesia masih dibelit oleh problem banyaknya pengangguran. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia berada di angka 5,01% (per Februari 2019).

Meski disebut sebagai angka pengangguran terendah dalam sejarah Indonesia, namun angka TPT sebesar 5,01% masih menempatkan Indonesia berada di urutan kedua terbanyak di antara negara-negara ASEAN. Jika tidak ada Filipina yang memiliki tingkat pengangguran sebesar 5,1% (per Juni 2019), maka Indonesia menjadi yang terbanyak.

Generasi muda adalah eleman bangsa yang menarik untuk disoroti dalam konteks pengangguran ini. Perilaku, pola pikir, dan etos kerja mereka menjadi haluan bagi perkembangan ekonomi dan bisnis dalam sebuah negara, termasuk Indonesia.

Tahun 2015, populasi penduduk Indonesia mencapai sekitar 255 juta jiwa. Dari jumlah itu, 33 persen di antaranya adalah generasi muda dengan rentang usia 15 – 34 tahun. Dengan potensi yang sedemikian besar itu, menjadi logis bila generasi muda merupakan potensi terbaik yang perlu didorong untuk berwirausaha.




Buku berjudul Kaya Raya dengan Bisnis UKM ini sangat kontekstual dengan upaya mendorong generasi muda berwirausaha. Buku ini ditulis oleh Deddy Romero atau akrab disapa Dero, seorang anak muda yang sejak kecil telah memiliki minat di dunia bisnis. Seusai menyelesaikan pendidikannya di sebuah universitas ternama di Yogyakarta, pada tahun 2009 ia berhasil membuka rumah makan pertamanya yang diberi nama Mister Sambal.

Selain Mister Sambal, kemudian ia juga membuka Bakmi Djawa Mbah Kin, KAU Thai Tea, dan Bakso Tusuk Payaman. Selama perjalanan karier di dunia bisnis, Dero pernah menjuarai kompetisi Pemuda Pelopor Tingkat Nasional (2012), menjadi runner up Wirausaha Berprestasi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY (2014), dan kini menjadi ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kabupaten Bantul.

Dengan bekal capain itu, melalui buku ini, Dero ingin mendorong rekan-rekannya sesama generasi muda untuk berwirausaha dan berbagi pengalaman menggeluti dunia wirausaha. Bagi Dero, ada banyak peluang usaha yang bisa digarap oleh anak-anak muda, terutama di era revolusi indutri 4.0 yang begitu akrab dengan penggunaan teknologi informasi. (halaman 9).

Setidaknya ada enam bidang UKM yang, menurut Dero, prospektif untuk dikembangkan dan bisa dikatakan tidak ada matinya, yaitu UKM di bidang kuliner, fesyen, agrobisnis, pendidikan, otomotif, dan produk kreatif. Di bidang kuliner misalnya, akan selalu ada peluang yang cukup besar untuk mencoba berbisnis makanan, terlebih bagi mereka yang hobi memasak dan menikmati kuliner.

Bidang lain seperti pendidikan juga sangat menarik. Belakangan jasa pendidik semakin banyak dicari orangtua siswa yang menginginkan putra-putrinya menjadi siswa unggul. Terlebih menjelang Ujian Nasional, lembaga bimbingan belajar dan tempat les privat akan banjir peminat. Momen seperti itu tentu merupakan peluang emas untuk mengembangkan UKM dalam bidang pendidikan.

Dero mencontohkan Hamzah Izzulhaq, salah satu contoh pebisnis muda yang sukses mengelola UKM jenis ini. Ia membangun bisnis bimbingan belajar dengan meminjam uang sebesar 70 juta rupiah dari ayahnya. Berbekal kemampuannya, ia berhasil mengembangkan usahanya itu hingga memiliki 44 cabang dengan penghasilan mencapai 730 juta rupiah per tahun. (halaman 29).

Namun untuk menggapai sukses di bidang UKM, dibutuhkan kejelian menangkap peluang, kerja keras, keuletan, disiplin, dan tidak mudah putus asa. Karena itu, pilihan jenis UKM yang digeluti menentukan kesuksesan seseorang. Menjadi pengusaha UKM di bidang yang sesuai passion-nya menjadi pilihan yang tepat agar seseorang dapat menggeluti bisnis itu dengan senang hati.

Dero sendiri memutuskan membuka UKM di bidang kuliner karena ia memang memiliki hobi hunting makanan. Kebiasaan makan dari rumah makan satu ke restoran lain membuatnya berpikir untuk menggeluti bisnis makanan. Hobi jelajah kulinernya itu dijadikan sebagai peluang usaha, sehingga pada akhirnya, ia bisa memiliki sekian usaha yang kini terbilang sukses di bidang kuliner. (halaman 104).



Buku ini dibagi ke dalam 2 bagian besar, yaitu bagian pertama membahas seluk beluk UKM dan bagian kedua mengulas panduan menjadi pengusaha sejak muda. Buku ini selain kaya informasi, juga kaya inspirasi dan motivasi kepada generasi muda agar dapat membangun usaha secara mandiri melalui UKM.

Melalui buku ini, Dero berbagi pengetahuan dan pengalaman bagaimana membangun mental pengusaha, cara membuka usaha, mendapatkan modal, mengurus perizinan, manajemen usaha agar terus survive dan berkembang, langkah-langkah promosi dan pemasaran, dan banyak lagi.

Menariknya buku ini adalah karena berisi gabungan antara teori yang bersifat informatif-konseptual dan pengalaman di lapangan (based on true experience) yang sifatnya praktis-aplikatif. Dero sebagai penulisnya tidak hanya berteori, namun juga menyisipkan kisah sukses berdasarkan pengalamannya membangun dan mengembangkan UKM miliknya.

*Badiatul Muchlisin Asti, ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan, Jawa Tengah.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan