Endapan Arkeologi Berbentuk Puluhan Resep

Jawa Pos edisi Minggu 24 November 2019

Himpunan resep dalam buku ini merefleksikan pengalaman sebuah keluarga Tionghoa yang hidup di Malang selama enam generasi. Ada Tionghoa, Jawa, dan Belanda di dalamnya.

KEDATANGAN orang-orang Tiongkok ke Indonesia sejak abad ke-13 telah memperkaya khazanah kuliner Nusantara. Pergumulan mereka dengan kaum pribumi melahirkan aneka hidangan khas dan tidak ditemukan di negara lain, selain di Indonesia.

Buku berjudul Budaya dan Kuliner, Memoar tentang Dapur China Peranakan Jawa Timur ini berisi pelbagai resep masakan yang biasa dimasak di dapur Tionghoa di Malang, Jawa Timur, pada abad ke-20. Buku ini dilengkapi dengan sejarah dan kisah di balik resep-resep tersebut.

Resep-resep masakan yang tersaji diangkat dari sebuah manuskrip atau buku catatan resep yang dikumpulkan oleh Go Pheek Too (Nyonya Go) atau yang biasa dipanggil Ietje. Buku itu berisi 80 resep masakan yang dia kumpulkan dalam kurun beberapa dasawarsa.




Himpunan resep dalam buku masakan Ietje merefleksikan pengalaman sebuah keluarga Tionghoa yang hidup di Malang selama enam generasi. Jalan Klenteng (Klentengstraat) adalah jalan utama dua arah di wilayah tinggal penduduk Tionghoa di Malang. Nama itu diberikan karena ada Kelenteng Eng An Kong yang dibangun pada 1825 di jalan tersebut.

Rumah keluarga di Jalan Klenteng dibangun kakek Ietje menjelang akhir abad ke-19 dalam gaya yang dikenal sebagai sebutan indische empire. Yaitu, sebuah gaya neoklasik kolonial yang mempunyai ciri khas beranda yang luas dengan tiang-tiang berwarna merah (halaman 55).

Koo Siu Ling, salah satu anak Ietje, yang ikut menulis dan mengeditori buku ini, pada kata pengantarnya menyatakan, ”Buku ini berisi catatan resep yang ditulis tangan oleh ibu saya, para tante, dan anggota keluarga saya lainnya. Semua resep telah diuji coba di dapur tua yang dibangun pada sekitar tahun 1900-an di rumah leluhur saya.”

Masih kata Koo Siu Ling di halaman 25, ”Kerap kali makanan asing disesuaikan dengan lidah peranakan. Sebagai contoh, pasta dibuat menjadi lebih pedas dengan cara dibubuhi cabai. Bahkan, ketika sanak saudara tinggal berpencar di berbagai penjuru dunia, mereka membawa selera dan cara masak peranakan bersama mereka.”

Ietje yang menjadi lakon dalam buku ini lahir pada 1911 dalam sebuah keluarga Tionghoa yang menetap di Jawa sejak awal abad ke-19. Setelah perkawinannya pada 1934, Ietje meninggalkan Malang untuk bergabung dengan suaminya di Belanda yang sedang menempuh studi ilmu ekonomi.

Setelah 1936, dia dan suami tinggal di Malang, Batavia (sekarang Jakarta), dan beberapa tempat lain. Suaminya seorang ahli ekonomi yang bekerja di perusahaan dagang. Dari awal 1960-an, pasangan itu tinggal di banyak tempat di dunia.

Di tahun-tahun kehidupan selanjutnya, Ietje menetap di Belanda. Dia tetap berhubungan dengan keluarganya. Banyak di antara mereka yang tetap tinggal di Malang. Ietje kali terakhir berkunjung ke Malang pada 1999, saat akhir zaman Orde Baru.



Sejumlah catatan awal dalam buku resep masakan yang kemudian diangkat dalam buku ini berasal dari tahun 1930-an dan selalu dibawa Ietje hingga wafatnya di Belanda pada 2000. Buku catatan resep itu ditulis dengan tangan secara teliti dan cermat, pada dasarnya dalam bahasa Belanda, meski kadang-kadang dalam bahasa pasar campuran Tionghoa dan Jawa-Indonesia tipikal adaptasi kaum peranakan. Ada pula kata-kata pinjaman, termasuk dalam hal bumbu dan hidangan yang berasal dari bahasa Hokkien.

Penulisan ulang manuskrip tersebut, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan ke dalam buku merupakan langkah yang tepat. Mengingat, seiring berjalannya waktu, generasi yang mengerti bahasa campuran sebagaimana yang tertulis dalam manuskrip akan menghilang. Dengan membukukannya, resep-resep itu jelas terdokumentasi dengan baik dan akan terus abadi serta selalu dikenang generasi selanjutnya.




Dengan membaca buku resep masakan ini, menjadi jelas bahwa peranakan telah menyerap dan mengadopsi masakan Belanda dan Jawa, di samping masakan Tionghoa. Buku ini mengetengahkan resep-resep klasik masakan Jawa seperti soto ayam, sate, dan rawon.

Juga menghadirkan resep tradisi Belanda seperti galantine, roti daging dengan saus, sup buntut, bahkan kue columbine yang sekarang di Belanda, di tempat asalnya, malah sudah dilupakan. Ini seperti sebuah endapan arkeologi dari resep yang lama terkubur.

Buku masakan ini menghadirkan sebuah masa lampau yang hilang, tetapi setidaknya sebagian didapatkan kembali melalui resep-resep masakan dan juga di dalam keteguhan peranakan beserta budayanya. Apalagi, buku ini juga diperkaya dengan banyak sekali foto tempo dulu yang memantik memorabilia.

*Badiatul Muchlisin Asti, peminat kajian kuliner Nusantara, ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan